Atap Rumah Pakai Asbes, Ini Dampak Buruknya untuk Kesehatan

Bandung - TemanBaik, tahu enggak jika penggunaan asbes sebagai atap rumah bisa berdampak buruk untuk kesehatan penghuninya? Penyakit utama yang berpotensi dialami penghuni rumah adalah asbestois alias penyakit paru-paru kronis.

Dampak buruk atau penyakit dari penggunaan asbes ini tak akan langsung dialami penghuni rumah. Tapi, dampak ini akan dirasakan dalam jangka panjang, bahan bisa puluhan tahun kemudian.

Seperti apa sih gejala dari asbestois ini? Gejala utamanya nyeri dada atau bahu, mengalami batuk kering terus-menerus, selera makan yang turun drastis, napas menjadi sesak, hingga napas yang berbunyi tinggi atau sering disebut mengi.

Kenapa sih asbestosis ini bisa dialami seseorang? Itu karena asbes secara perlahan bisa terkikis. Masalahnya partikel asbes yang terkikis dan berukuran sangat kecil seperti debu. Sehingga, tanpa disadari partikel asbestos terhirup tanpa disadari secara rutin oleh penghuni rumah.

Baca Ini Juga Yuk: Kenali Ciri Anak Jadi Korban Perundungan dan Cara Mengatasinya

Bahkan, bisa jadi partikel asbes ini juga menyebar ke area lingkungan sekitar. Sehingga, orang yang menghirupnya juga kelak akan mengalami penyakit asbestos.

"Memang penyebab berbahayanya asbes ini tidak terlihat oleh mata, tidak terlihat debunya berinkubasi (di dalam paru-paru) sebelum menjadi penyakit," ujar Coordinator NGO Australian People for Health, Education, and Development Abroad (APHEDA) Philip Hazelton di Balai Kota Bandung, Kamis (6/2/2020).

Selain asbestosis, ada penyakit lain yang juga mengancam akibat dari menghirup partikel asbes, yaitu gangguan pada ovarium. Ini jelas tak baik bagi kesehatan perempuan dan akan berdampak fatal.

Material Pengganti Asbes
Tak bisa dipungkiri, asbes memang memiliki harga yang jauh lebih murah dibanding material lain seperti genting atau atap seng baja. Tapi, meski lebih murah, penggunaan asbes risikonya akan sangat berbahaya bagi kesehatan.

Singkatnya, penggunaan asbes akan murah saat ini, tapi uang yang dikeluarkan untuk pengobatan di masa depan sangat mahal. Sebaliknya, penggunaan material lain akan lebih mahal tapi tidak berisiko.

Di dunia, menurut Philip, ada 66 negara yang sudah melarang penggunan asbes, terutama untuk tempat tinggal. Itu karena di negara setempat sudah menyadari pentingnya pelarangan asbes demi menjaga kesehatan.

Nah, TemanBaik mau tahu fakta soal asbes di Indonesia? Ternyata negara ini adalah pengimpor kedua terbesar asbes di dunia setelah India. Itu berarti di Indonesa masih banyak yang menggunakan asbes untuk dijadikan atap.

Ia pun berharap di Indonesia penggunaan asbes bisa terus dikurangi. Sehingga, orang yang terdampak negatif akibat asbes bisa terus berkurang. Ia pun memberi contoh pelarangan asbes di Australia.

"Di Australia sendiri baru 17 tahun larangan penggunaan asbes sejak 2003. Hal pertama yang dilakukan pemerintah (di Australia) adalah meningkatkan kesadaran masyarakat bahayanya penggunaan bahan baku asbes ini," jelas Philip.

Sementara itu, APHEDA sendri secara khusus memberikan piagam penghargaan kepada Pemkot Bandung. Sebab, Pemkot Bandung adalah satu-satunya yang melarang penggunaan asbes di wilayahnya melalui peraturan daerah (perda) sejak 2018. Penghargaan itu diterima Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana.

Ia berharap hal serupa juga diterapkan oleh pemerintah lain di Indonesia. Sehingga, secara bertahap asbes akan dilarang penggunaannya dengan lebih luas.

"Semoga ini jadi salah satu tanga awal melarang penggunaan asbes di Indonesia. Karena penyakit dari asbes ini sangat berbahaya," ucap Philip.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui memang tak mudah menjalankan perda tentang pelarangan penggunaan asbes, terutama di pemukiman warga. Tapi, sosialisasi akan terus dilakukan agar masyarakat sadar.

"Kita akan minta buat seminar, sosialisasi, atau apapun namanya mengenai bahaya dari asbes ini. Ini supaya masyarakat lebih tahu bahaya penggunaan dari asbes dan semoga penggunaannya bisa terus berkurang," tutur Yana.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler