Cerita Agen Koran Hadapi Senjakala Media Cetak

Bandung - TemanBaik, masih adakah diantara kamu yang berlangganan surat kabar? Atau, masih terasa mudahkah untuk kamu menemukan agen yang menjajakan banyak pilihan surat kabar? Bagaimana cerita agen surat kabar di senjakala media hari ini? Yuk simak ulasannya!

Rabu (12/2/2020), BeritaBaik coba menyusuri wilayah Buahbatu, Bandung. Akhirnya, bertemulah BeritaBaik dengan Dimin (49) di lapak jualan korannya, Jl. Maskumambang, Bandung. Ada banyak pilihan surat kabar di lapak sebesar kios kelontong tersebut. Mulai dari harian umum, mingguan, tabloid, hingga majalah. Surat-surat kabar itu nampak masih banyak, kendati waktu sudah menunjukkan pukul 10.00.

"Kalau dulu sih, jam 8 pagi itu sudah habis. Misalkan masih ada pun, enggak se-numpuk ini jumlahnya," ujar pria yang sudah berprofesi sebagai pedagang dan pengantar koran sejak medio 1989 tersebut.

Mengenang era 90-an, Dimin juga menjelaskan bagaimana dulu surat kabar ada yang terbit dua kali, yakni pagi dan sore. Oleh karenanya, ia bisa bolak-balik ke pusat distributor surat kabar yang terletak di Jalan Cikapundung, membawa surat kabar edisi sore dan menjajakannya di kios.

Baca Ini Juga Yuk: Waspadai Corona, Ridwan Kamil Imbau Warga Manfaatkan Layanan 119

Hampir 3 dekade berlalu, cerita hiruk pikuk Dimin bolak-balik Cikapundung-Maskumambang kini hanya tinggal cerita. Sekarang, Dimin hanya sekali pergi ke Cikapundung, berkeliling ke rumah-rumah yang masih langganan surat kabar kepadanya, lalu menunggu kios hingga sore hari.

Saban pagi, setiap pukul 05.00, Dimin berangkat ke Cikapundung, lalu mengantar surat kabar ke rumah-rumah. Kemudian pukul 07.00, ia membuka kiosnya dan menunggu hingga sekitar pukul 15.00.

"Yang beli koran juga masih ada sebetulnya. Cuma jumlahnya itu jauh merosot," katanya.

Ia menganalogikan, jika pada era kejayaan surat kabar, ia bisa mendapat Rp1000. Namun kini, ia harus puas membawa pulang uang berkisar Rp400 hingga Rp600 saja per-harinya. Jumlah tersebut tentu mengalami penurunan hingga setengah kali keuntungan Dimin. Ada berbagai cara yang dilakukan Dimin untuk mencari pemasukan tambahan. Diantaranya, menjual surat kabar yang tak laku ke untuk dipergunakan oleh beberapa tempat seperti pedagang makanan atau ke pasar.



Menurutnya, koran-koran yang tak terpakai biasanya akan dibeli oleh pedagang di pasar untuk keperluan membungkus makanan. Kendati demikian, harganya tentu jauh dari harga asli.

"Tapi kan lumayan lah. Daripada, ya kasarannya tadi tuh, daripada bawa pulang 400 sampai 600, kalo ada tambahan kan jadinya 600 sampai 800 lah, ibaratnya," beber Dimin, merujuk pada analogi keuntungan Rp1000 per hari yang ia utarakan sebelumnya.

Sebagian besar orang beralih konsumsi dari media cetak ke media elektronik. Namun, kepada BeritaBaik, Dimin memaparkan, segmen pembaca surat kabar belum bisa dibilang habis. Menurutnya, kalangan usia 50 tahun ke atas masih rutin membeli surat kabar kepadanya secara berlangganan. Bahkan beberapa pelanggannya ada yang berlangganan koran lebih dari satu media.

Dimin berpendapat, itu disebabkan keterbatasan pembeli segmen tersebut dalam menguasai gawai.

"Kalau dia ngerti internet, koran mungkin ditinggalin. Tapi ada juga sih mahasiswa yang suka beli koran di hari tertentu," katanya.

Dimin menambahkan, hari-hari tertentu berkaitan dengan isu apa yang sedang diikuti oleh pembeli muda tersebut. Misalnya saat ada berita gerhana matahari, yang mana berita tersebut menjadi berita langka dan dimuat di halaman depan, beberapa ada yang membeli untuk mengoleksi berita tersebut.

Sementara itu untuk surat kabar jenis tabloid mingguan atau majalah, Dimin menyebutkan hampir sulit menemukan orang yang membeli jenis surat kabar ini. Ia menyebutkan, tabloid bernasib lebih baik ketimbang majalah, karena memiliki segmen pembacanya sendiri.

"Kalau tabloid yang isinya elektronik, masih ada yang beli tuh. Tapi enggak sebanyak dulu," ujarnya.

Meski tergerus oleh teknologi, Dimin tetap menanggapi positif terhadap pergeseran kanal informasi. Menurutnya, konvergensi atau peralihan medium dari cetak ke daring tak bisa dihindari. Malah, ia menganggap itu bagus, karena informasi akan lebih cepat didapatkan.

Dan walau mengalami penurunan secara finansial karena menurunnya daya beli surat kabar, Dimin tak terlalu berlarut memikirkan hal tersebut. Menurutnya, masih ada sumber pekerjaan lain yang bisa menghasilkan.

"Ya sebab rejeki itu sudah ada yang ngatur ya, kita sih jalani aja," pungkasnya secara singkat.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler