Peringati HSN, Bakal Ada Napak Tilas ke Tempat Pembuangan Sampah

Bandung - TemanBaik tahu enggak jika pada 2005 lalu Kota Bandung sempat dijuluki 'Bandung Lautan Sampah'? Julukan tersebut didapat karena saat itu sampah berserakan di berbagai titik, trotoar, dan jalanan di Kota Bandung. Alhasil, Kota Bandung menjadi kawasan tak sedap dipandang, bau di mana-mana, hingga lalat-lalat seliweran. Jelas sebuah pengalaman pahit yang tak pernah ingin dirasakan warga Kota Bandung.

Penyebabnya, saat itu Kota Bandung kesulitan mencari tempat pembuangan sampah. Sebab, sampah biasanya dibuang tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah di Kota Cimahi. Tapi, saat itu TPA tersebut ditutup karena sempat terjadi longsor yang mengakibatkan banyak nyawa melayang pada 21 Februari 2005.

Akibat penutupan TPA Leuwigajah, sampah sempat menumpuk di mana-mana di Kota Bandung. Hingga akhirnya, masalah bisa diatasi karena sampah bisa dibuang ke TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tanggal 21 Februari pun akhirnya ditetapkan sebagai Hari Sampah Nasional. Peringatan ini digelar sebagai momentum untuk mengingatkan kita semua bahwa sampah sangat berbahaya jika tak dikelola dengan baik.

                                                                                Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Baca Ini Juga Yuk:
Ini Alasan Kamu Harus Kuasai Tiga Bahasa

Kota Bandung pun selalu memperingati Hari Sampah Nasional dengan berbagai cara. Tujuannya agar semua orang lebih peduli lagi terhadap lingkungan, terutama sampah. Sebab, persoalan sampah tak bisa hanya ditangani sendiri oleh pemerintah. Harus ada peran serta dari berbagai pihak, terutama masyarakat. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan Pemkot Bandung dalam memperingati Hari Sampah Nasional adalah napak tilas dengan mengunjungi TPA Sarimukti dan TPA Leuwigajah.

TPA Sarimukti sendiri masih digunakan Kota Bandung untuk membuang sampahnya. Sedangkan TPA Leuwigajah sudah tak difungsikan lagi sampai sekarang. Kenapa sih harus napak tilas ke sana? Tujuan besarnya adalah untuk mengingatkan berbagai pihak soal bahaya sampah.

Dengan mengundang mereka ke lokasi, diharapkan mata mereka semakin terbuka karena dihadapkan langsung dengan persoalan yang ada. Kegiatan napak tilas ini akan dilakukan pada 18 Februari 2020.

"Dalam napak tilas nanti kita juga akan ada diskusi dengan warga Kampung Adat Ciereundeu," kata Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung Sofyan Hernadi.

Warga Kampung Adat Cireundeu sendiri adalah yang terdampak langsung dengan keberadaan sampah di TPA Leuwigajah. Sebab, lokasi kampung adat ini masih satu area dengan kawasan tersebut. Beberapa warganya pun tercatat jadi korban longsor.

"Dan mereka sampai sekarang masih menyisakan trauma akibat longsor sampah yang terjadi pada 2005 lalu," ungkap Sofyan.

Dari diskusi itu, mereka yang hadir juga diharapkan semakin tersentuh dan peka untuk menjaga lingkungan. Setidaknya, masing-masing pihak akan berusaha menekan sekecil mungkin produksi sampah. Sementara selain napak tilas, akan digelar juga berbagai kegiatan lainnya terkait hari sampah. Salah satunya pameran foto dan pemutaran film yang berhubungan dengan sampah pada 26-28 Februari di Bandung Creative Hub.

Sedangkan kegiatan puncaknya adalah pada 21 Februari, tepat pada Hari Sampah Nasional. Kegiatan ini akan dipusatkan di Pendopo Kota Bandung. Berbagai pihak akan menguatkan komitmen untuk masalah penanganan sampah. Dalam kegiatan ini juga akan diperlihatkan bagaimana model pengolahan, pengurangan, dan pemanfaatan sampah. Pendopo sendiri menjadi percontohan untuk penanganan masalah sampah.

"Di pendopo ini pengolahan sampahnya sudah mandiri dan lengkap sekali, mulai untuk sampah organik sampai anorganik. Di pendopo maggotisasi (pengurangan sampah memanfaatkan belatung) juga sudah berjalan," tutur Sofyan.

Foto: Ilustrasi Unsplash


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler