NWSF 2020, Wadah Diskusi Mahasiswa ITB Hadapi Tantangan Sanitasi

Bandung - National Water and Sanitation Festival 2020 (NWSF 2020) digelar di Aula Barat ITB, Sabtu (15/2/2020). Dalam acara yang digagas Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, kita diajak untuk membuka mata mengenai tantangan dalam mengurai isu sanitasi.

Acara ini menghadirkan 4 narasumber, diantaranya Kepala Sub-Direktorat Perencanaan Teknis Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya pada Kementerian PUPR M. Rizat Abidin, Direktur Direktorat Perkotaan dan Pemukiman pada Kementerian PPN/BAPPENAS, Try Dewi Virgiyanti, Kepala Perencanaan Teknis, Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Ditjen Cipta Karya pada Kementerian PUPR Mieke Kencanawulan, dan Project Executive pada kolektif Waste 4 Change Muhammad Fariz.

Fokus pembahasan yang mengerucut kepada isu sanitasi dan manajemen sampah ini banyak memaparkan kondisi tantangan yang harus dihadapi saat ini dalam menyelesaikan isu sanitasi. Kepala Sub-Direktorat Perencanaan Teknis Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya pada Kementerian PUPR M. Rizat Abidin menyebutkan, sanitasi dari masa ke masa memiliki tantangan yang cukup berat. Bahkan, sanitasi masih jadi fokus yang dikejar oleh Pemerintah Pusat karena Pemerintah masih merasa tertinggal dengan negara tetangga.

"Permasalahan sanitasi ini mendapat porsi lebih karena sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup masyarakat," ujar Rizat.

Ia juga menekankan, manajemen sampah jadi sebuah keharusan. Untuk dapat mengurai permasalahan ini, menyelesaikan masalah sampah sejak dari sumber dipercaya akan jadi solusi jitu. Pada praktiknya, perilaku buang sampah di masyarakat Indonesia masih bertumpu pada keberadaan petugas kebersihan yang akan mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir. Hal itu lambat laun akan menyebabkan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir.

Menurut data terbaru dari Kementerian PUPR, upaya menekan sampah sejak sumbernya berhasil, walau di angka 1,55 persen saja. Hal tersebut tentu menjadi fokus yang sedang dikejar oleh Pemerintah.

Selain itu, Rizat juga menyoroti keperluan TPA di beberapa Kota atau Kabupaten. Menurut Rizat, yang terpenting bukan jumlah TPA-nya yang ditingkatkan, tapi kesadaran masyarakat untuk menyelesaikan sampah dari sumber (rumah) jauh lebih penting, karena TPA pun memiliki durasi tampung yang terbatas.

"Pembangunan TPA mungkin jadi solusi penanganan sampah. Tapi, akan lebih punya manfaat berkepanjangan jika kita alihkan energi untuk membina masyarakat agar bisa menyelesaikan masalah sampah ini dari sumber. Dari rumah masing-masing," tutur Rizat.

Pemerintah pusat dan daerah saling berbagi tugas untuk menyelesaikan masalah sanitasi ini. Pemerintah pusat memegang peranan menetapkan pengembangan sistem pengelolaan sampah secara nasional. Sedangkan pemerintah daerah bertugas melaksanakan percepatan dan rencana bisnis.

Sementara itu Direktur Direktorat Perkotaan dan Pemukiman pada Kementerian PPN/BAPPENAS, Try Dewi Virgiyanti sepakat, bahwasannya sanitasi adalah isu penting yang harus segera dibenahi Pemerintah. Hal tersebut merujuk pada produksi air bersih di beberapa wilayah di Indonesia yang masih rendah.

Akan tetapi Try menilai upaya menyelesaikan permasalahan sanitasi ini tak cukup dengan hal teknis saja, tetapi juga membutuhkan aspek non teknis. Menurutnya, advokasi dan diskusi semacam ini sangat penting karena kesadaran masyarakat pada akhirnya akan menggiring kepada aksi dan inovasi Pemerintah untuk mengurai masalah ini.

Sementara itu , Kepala Perencanaan Teknis, Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Ditjen Cipta Karya pada Kementerian PUPR Mieke Kencanawulan menilai, beberapa aspek bisa dilihat sebagai peluang dalam menuntaskan isu sanitasi di Indonesia. Diantaranya pembanguanan infrastruktur berbasis masyarakat dan juga partisipasi badan usaha atau swasta dalam pendanaan pembangunan. Selain itu, keterpaduan berbasis penataan ruang juga diperlukan.

"Kontribusi masyarakat juga penting. Saat pemerintah menggiring masyarakat untuk membenahi isu sampah dari sumber, masyarakat juga menggiring pemerintah untuk mencipta terobosan baru guna menyelesaikan permasalahan ini," ujarnya.

Baca Ini Juga Yuk: Parade Lintas Agama Buktikan Bandung Punya Toleransi Tinggi


Pembakaran
Diskusi pada acara NWSF 2020 juga menghadirkan beberapa pegiat lingkungan yang banyak melakukan aksi sosial mengolah sampah. Antara lain Waste 4 Change dan Parong Pong.

Project Executive pada Waste 4 Change, Muhammad Fariz menyebutkan, permasalahan sampah memerlukan kolaborasi lintas ilmu dan aksi yang nyata. Menurut data yang disajikannya, satu orang memiliki pengeluaran sampah 0,5 hingga 0,69 kilogram per-harinya.

Ia juga menyoroti upaya penanganan sampah yang juga menimbulkan masalah baru, yakni dengan cara dibakar. Hal itu memang kerap terjadi di wilayah pedesaan.

"Sesekali kita perlu menggeser pola manajerial sampah ini untuk saudara-saudara kita di pedesaan. Karena mungkin mereka masih menggunakan metode ini. Jadi yuk! Kita beri pemahaman kepada saudara-saudara kita, kalau membakar sampah bukan solusi untuk menyelesaikan masalah sampah, justru akan menimbulkan masalah baru," bebernya.

Hadirnya regulasi dan penegak hukum juga dianggap Fariz sebagai unsur penting. Ia mengambil contoh saat sosialisasi penggunaan helm berhasil diterapkan di masyarakat Indonesia.

Fariz menilai, idealnya dalam penegakkan hukum terkait lingkungan, keberhasilan itu harus bisa juga diwujudkan, guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah dengan benar sejak dari sumbernya.

Diskusi Sebagai Wadah
Dalam kesempatan yang sama, acara National Water and Sanitation Festival 2020 yang merupakan gagasan Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) dianggap sebagai wadah yang coba dibangun dalam mengurai isu sanitasi di Indonesia. Terlebih, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Pemerintah Republik Indonesia telah memasukkan sanitasi sebagai tantangan yang harus dihadapi bersama.

"Kami berharap para peserta bisa lebih peka akan isu sanitasi ini, terlebih dengan hadirnya keempat narasumber," ujar Ketua Pelaksana Water and Sanitation Festival 2020, Sena Moses.

Senada dengan Sena, Ketua Prodi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Mochammad Chaerul menyebutkan, sanitasi sudah bukan lagi merupakan isu nasional, melainkan isu global. Kehadiran air dianggapnya sebagai penentu kesejahteraan masyarakat.

Tak hanya diskusi saja, dalam acara NWSF 2020 juga digelar pameran dari berbagai lembaga yang bergerak di bidang air dan sanitasi. Pameran tersebut berlangsung di Lapangan Barat CC ITB.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler