Rumah Cut Nyak Dhien, Wisata Sejarah di Bumi Serambi Mekah

Banda Aceh - TemanBaik, apakah kamu sedang berada di Aceh atau memang kamu berencana mengunjungi Bumi Serambi Mekah tersebut dalam waktu dekat? Tempat ini bisa jadi salah satu destinasi wisata yang kamu catat untuk dikunjungi, lho! Ya, namanya Rumah Cut Nyak Dhien. Dengan melipir ke sini, kamu tak hanya berwisata saja, tapi juga akan mendapat edukasi sejarah Bangsa Indonesia era kolonialisme Belanda dulu.

Rumah Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien ini terletak di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Banda, Aceh Besar. Jika ditempuh dari Kota Banda Aceh, kita akan menempuh jarak sekira 10 kilometer. Namun, setibanya di lokasi, kita tak akan mengalami kesulitan untuk menemukan rumah ini karena letak rumahnya yang berada di pinggir jalan. Di dalam rumah ini, tersimpan histori perjalanan panjang perjuangan rakyat Aceh dalam melawan penjajahan Belanda.

Tapi perlu diingat. Rumah Cut Nyak Dhien di Desa Lampisang ini merupakan replika yang dibangun kembali. Pasalnya, rumah asli dari Cut Nyak Dhien itu sendiri sudah lenyap dibakar oleh Belanda pada tahun 1896, setelah peristiwa diketahuinya Teuku Umar yang berpura-pura membelot. Replika dari rumah ini dibangun kembali medio 1981. Tetapi kendati berusia hampir 40 tahun, rumah ini tetap nampak terawat karena para penjaga memperlakukan rumah ini seperti rumahnya sendiri.

Rumah ini ini berbentuk rumah panggung dengan konstruksi kayu dan beratap rumbia, seperti umumnya rumah adat Aceh. Rumah panggung ini disangga oleh sekitar 65 tiang kayu. Ukuran rumah ini jika dihitung sekira 25 meter x 17 meter dengan dominasi warna hitam di beberapa bagian.

Baca Ini Juga Yuk: Menelisik Cikal Bakal Industri Batik Modern di Laweyan

Kita perlu menaiki beberapa anak tangga untuk bisa masuk ke dalam rumah ini. Tangga utama yang jadi akses masuk ke rumah ini terletak di sebelah kanan rumah. Kemudian, pintu masuk utamanya relatif kecil sehingga kita perlu sedikit membungkukkan badan. Setelah masuk ke dalam rumah, kita akan melihat suasana yang lapang. Meski terlihat lapang, namun ada banyak ruangan di rumah  ini. Masing-masing ruangan terhubung oleh pintu. Kita akan merasa  sejuk karena dinding rumah terbuat dari papan kayu dan atap yang dilapisi pelepah daun kelapa tua. 

Pada dinding ruangan di area depan, kita bisa menyimak silsilah keturunan keluarga Cut Nyak Dhien. Kemudian, pada area dinding ruangan yang lain, kita bisa melihat foto-foto yang menggambarkan perjuangan Aceh melawan penjajah Belanda.  

Sementara itu di ruangan lain, kita bisa melihat kursi-kursi kayu dan meja yang diperkirakan sebagai tempat para tokoh pejuang untuk berunding dan menetapkan strategi perang. Ada juga beberapa koleksi senjata yang dipajang, yaitu rencong dan parang. Menurut beberapa sumber, dulunya alat perang ini digunakan oleh Cut Nyak Dhien dalam bertempur melawan penjajah.

Jika kita menuju ruang tengah, maka kita bisa melihat ada dua kamar yang dilengkapi tempat tidur khas Aceh. Satu ruangan kamar untuk para dayang Cut Nyak Dhien. Satu ruangan lainnya, kita bisa melihat kamar Cut Nyak Dhien. Tampak ada  lemari dan tempat tidur dengan tirai berwarna kuning layaknya kamar bangsawan.

Ada cerita unik, mengapa di bagian samping rumah terdapat sumur dengan tinggi sekira dua meter. Konon, sungai yang tinggi itu dibangun agar Belanda tak bisa meracuni air sumur yang ada di sekitar rumah. Wah, menarik juga ya.

Menurut data yang ditulis di laman kemdikbud.go.id, tempat wisata bernuansa edukasi sejarah ini tak pernah sepi pengunjung. Dalam sehari, sekira 50 hingga 100 wisatawan mampir ke Rumah Cut Nyak Dhien. Jumlah tersebut akan meningkat hingga dua kali lipat pada akhir pekan atau hari libur besar. Wisatawan mancanegara asal Malaysia disebut cukup mendominasi jumlah turis yang berkunjung ke rumah ini.

Kamu bisa mengunjungi Rumah Cut Nyak Dhien pada hari apapun, karena jam operasional rumah ini buka pada hari Senin hingga Minggu mulai pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore.

Lalu, adakah diantara TemanBaik yang pernah mampir ke Rumah Cut Nyak Dhien?

Foto: dok. kemdikbud.go.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler