Enggak Sembarangan, Begini Cara Jerapah Dibawa Menggunakan Truk

Bandung - TemanBaik, pernah terpikir enggak bagaimana jerapah bisa hadir di kebun binatang? Bagaimana ya cara membawanya? Mungkin ada di antara kamu yang berpikir membawa jerapah sama seperti membawa sapi yang menggunakan bak terbuka. Kepala jerapah pun akan terlihat selama perjalanan.

Tapi, enggak seperti itu kok. Ada cara khusus dalam membawa jerapah dari satu tempat ke tempat lain. Penasaran enggak? Simak ulasannya yuk! BeritaBaik.id pun berkesempatan berbincang dengan Adi Romansah (21), keeper jerapah di Kebun Binatang Bandung (KBB). Seperti diketahui, belum lama ini KBB punya koleksi sepasang jerapah bernama Tania dan Kemal yang masing-masing berusia sekitar 3 tahun.

Adi kebetulan kebagian tugas untuk membawa dan mengasuh Kemal, jerapah jantan yang didatangkan dari Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor. Ia pun menceritakan proses detail bagaimana membawa satwa berleher panjang tersebut pada Februari 2020 lalu.

Pendekatan Selama 3 Bulan
Sebagai keeper yang ditugaskan mengasuh jerapah bernama Kemal, Adi ternyata butuh pendekatan selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu, ia berinteraksi setiap hari dengan Kemal. Tujuannya agar Kemal memiliki kedekatan dengan Adi.

Selain itu, Kemal juga dilatih agar bisa dibawa menggunakan kendaraan, yang paling penting, Kemal dilatih masuk ke dalam kotak khusus. Kotak itulah yang kelak dipakai untuk membawa sang jerapah.

"Jadi selama 3 bulan kita training dulu, jerapahnya dilatih masuk ke peti khusus, sambil pengenalan dengan saya sebagai keeper yang akan ngasuh di Kebun Binatang Bandung," kata Adi.

Kenapa sih Adi dan Kemal harus melakukan 'pedekate' selama 3 bulan? Ya, tujuannya biar keduanya punya kedekatan. Sehingga, setelah tiba di Kebun Binatang Bandung, adaptasi Kemal dengan sang keeper enggak butuh waktu lama.


Dibawa Menggunakan Truk dan Peti
Ini mungkin jadi bagian yang bikin kamu paling penasaran. Bagaimana sih jerapah dengan tinggi sekitar 3 meter ini dibawa menggunakan kendaraan? Kendaraan yang dipakai untuk mengangkutnya adalah truk bak terbuka. Tapi, jerapah enggak langsung dimasukkan ke bak truk dan diikat seperti membawa sapi.  Jerapah itu masuk ke dalam peti khusus. Petinya sendiri memiliki tinggi 3,7 meter, lebar 1,8 meter, dan panjang 2 meter.

"Bagian atap petinya sendiri fleksibel, bisa diturunin ketinggiannya," ungkap Adi.

Kenapa petinya dibuat seperti itu ya? Itu karena ada ketingian maksimal kendaraan saat masuk ke jalan tol, yaitu 4,4 meter. Sehingga, jika digabung antara tinggi truk dan peti, ketinggiannya lebih dari 4,4 meter. Karena itu, ketika masuk ke jalan tol, peti akan dibuat lebih rendah sekitar 10 sentimeter. Lalu, bagaimana posisi jerapah? Si jerapah akan dibuat lebih menunduk. Tapi, hal ini enggak menyiksa kok. Sebab, bentuk peti memang dibuat khusus dan bisa membuat jerapah tetap nyaman.

Setelah keluar dari jalan tol, ketingian peti akan dibuat kembali seperti semula yaitu 3,7 meter. Yang jelas, sepanjang perjalanan dari TSI ke Bandung, jerapah itu ada di dalam peti. Sehingga, orang-orang tak bisa melihat kepala jerapah menyembul dari truk.


Didampingi Keeper Saat Masuk Tol
Saat dibawa keluar dari TSI, Adi sebagai keeper duduk di kursi depan truk. Tapi, saat kendaraan masuk ke jalan tol, Adi akan berpindah ke belakang alias ke bak terbuka untuk berada di samping Kemal. Adi akan berusaha membuat Kemal tenang selama perjalanan di dalam tol. Hasilnya, Kemal terlihat nyaman meski menempuh perjalanan total enam jam dari Bogor menuju Bandung.

Perjalanan sendiri sengaja dilakukan tengah malam. Tujuannya agar perjalanan lebih lancar. Selain itu, jalanan juga lebih sepi untuk membuat Kemal terhindar dari stres. Maklum, kita aja manusia stres jika menghadapi macet, jerapah juga akan stres loh jika dalam kondisi serupa.

"Setiap setengah jam atau sejam sekali kita juga periksa dia kondisinya biar tenang. Kita juga kasih makan. Selama perjalanan dia juga mau makan, itu artinya dia nyaman. Kalau enggak nyaman, dia enggak akan mau makan," tuturnya.

Sementara setelah tiba di KBB, Kemal diakuinya butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Dalam beberapa pekan, Adi pun terus melatih Kemal agar bisa beradaptasi dengan cepat. Apalagi, Kemal juga perlu dilatih agar bisa lebih dekat dengan pengunjung.

"Sekarang masih tahap training," ucap Adi.

Kemal dan Tania sendiri sudah bisa disaksikan pengunjung KBB sejak 1 Maret 2020 lalu. Tapi, karena masih masa pelatihan dan adaptasi, keduanya belum bisa berinteraksi lebih dekat dengan pengunjung. Setelah selesai dilatih, diharapkan Kemal dan Tania akan mau berdekatan dengan pengunjung, termasuk disentuh dan mau diberi makan. Kemal dan Tania sendiri didatangkan dari dua tempat berbeda. Kemal dari TSI, sedangkan Tania dari Taman Safari Prigen, Pacitan, Jawa Tengah.

Keduanya diharapkan bisa berkembang biak di KBB. Sehingga, kelak akan lahir jerapah-jerapah lain. Kedua jerapah ini ditempatkan di Zona Afrika. Selain jerapah, di dalamnya terdapat berbagai satwa khas Afrika.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler