Yuk! Pahami Apa Itu Social Distancing dan Cara Kerjanya

Bandung - TemanBaik, belakangan ini pandemik global virus corona terus berkembang pesat di sejumlah negara. Beberapa cara untuk menangkal virus ini pun mulai jadi kajian utama para pegiat medis. Sejumlah negara seperti Italia, misalnya, memberlakukan kebijakan ekstrim yakni lockdown guna menghambat penyebaran virus ini.

Akan tetapi di Indonesia, kebijakan lockdown belum diberlakukan. Belakangan ini, yang menjadi imbauan pemerintah adalah untuk melakukan social distancing untuk menghambat peredaran virus corona di Indonesia. Pertanyaanya, kenapa sih kita harus melakukan social distancing? Apakah cara ini efektif?

Situs siencealert.com dan The Washington Post menerbitkan kurva yang menggambarkan kasus corona yang harus ditangani dan kapasitas rumah sakit yang bisa menanganinya. Dalam kurva tersebut, kita bisa melihat ada lengkungan ke bawah setelah lonjakan grafik meningkat ke atas. Lengkungan ke bawah ini menandakan bahwa suatu saat virus atau wabah ini akan segera berakhir. Dan garis putus-putus yang kita lihat dalam gambar adalah kapasitas rumah sakit yang menjadi daya tampung pasien.

Sementara itu diagram yang berada di bagian bawah garis putus-putus adalah gambaran orang-orang yang sakit, namun masih bisa ditangani kapasitas rumah sakit yang ada, sedangkan diagram yang berada di atas garis putus-putus adalah gambaran orang-orang yang tak bisa ditangani secara maksimal karena melampaui kapasitas rumah sakit. Orang-orang inilah yang punya kans besar tak tertolong bahkan hingga meninggal dunia.

Dalam animasi grafis yang ditampilkan, kita bisa mengetahui beberapa fakta, misalnya kecil kemungkinan virus corona menyerang seseorang yang telah diserangnya, karena tubuh orang yang sudah terkena virus lalu kemudian sembuh sudah memiliki imun. Merujuk pada sejarah, sebuah pandemik juga akan berakhir jika sudah banyak orang yang terkena virusnya, sehingga virus ini tak punya 'calon korban' lagi untuk ditularkan.

Baca Ini Juga Yuk: Cara Ustaz Adi Hidayat Tebar Syiar Islam di Tengah Virus Corona

Namun, yang jadi permasalahan adalah orang-orang yang tadi disebut berada pada bagian atas garis putus-putus pada kurva, alias mereka yang punya kans tak tertolong. Yang menjadi tugas kita adalah menekan kurva-nya agar tak melampaui ambang batas garis putus-putus. Kenapa demikian? Agar jumlah pasien yang terinfeksi virus tetap bisa ditangani secara maksimal karena sesuai kapasitas rumah sakit yang ada.

Video animasi grafis tersebut juga menampilkan tiga perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemik ini. Yuk kita simak perbedaannya!

1. Jika Kita Acuh
Saat kita acuh terhadap wabah global ini, alias tetap berkerumun, membuat acara pesta besar-besaran dan lain-lain, penyebaran virus ini akan sangat cepat loh. Namun akan banyak orang yang masuk ke bagian atas garis putus-putus dari kurva di atas. Kendati ujungnya, wabah ini akan mereda, tapi jumlah pasien yang meninggalnya akan sangat banyak karena jumlah pasien tak sebanding dengan daya tampung rumah sakit.

2. Jika Terjadi Lockdown
Bila di sebuah wilayah dilakukan lockdown, maka proses penyembuhan dilakukan secara berbarengan. Terjadi perbedaan grafik kurva, yang mana grafik kurva penyebaran virus di wilayah yang diberlakukan lockdown akan lebih landai ketimbang kurva di wilayah yang acuh.

3. Jika Melakukan Social Distancing

Di beberapa negara yang melakukan social distancing, grafik dalam kurva menunjukkan tetap ada korban atau pasien yang tertular, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dan masih sesuai dengan daya tampung rumah sakit yang disimbolkan oleh garis putus-putus pada kurva. Bahkan bila social distancing itu dilakukan secara ekstrem, lonjakan dalam gerak kurva sangat minim, walau tetap ada. Jumlah lonjakan orang sakit pun berada di angka yang lebih rendah, bahkan dari kurva yang menggambarkan situasi lockdown!


Nah, bisa dibayangkan tidak olehmu, betapa pentingnya menjaga jarak untuk sejenak sampai wabah global ini benar-benar lenyap? Sebab tugas kita semua adalah meratakan sampai habis lonjakan kurva yang ada. Selain social distancing, beberapa kebiasaan baik seperti rajin cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir juga harus rutin dilakukan untuk menghambat virus masuk ke tubuh kita. Jangan lupa pakai masker bila kondisi tubuh sedang tidak fit dan jangan ragu untuk memeriksakan tubuh ke dokter bila terdapat gejala-gejala virus corona.

TemanBaik, yuk kita ratakan kurvanya bersama-sama dengan melakukan social distancing. Cukup beraktivitas dari dalam rumah, produktif dari dalam rumah, dan senantiasa berdoa agar wabah ini segera lenyap dari dunia.

Foto: dok. The Washington Post


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler