Dua Sekolah di Bandung Buat Hand Sanitizier Sendiri

Bandung - TemanBaik, di tengah sulitnya mendapatkan hand sanitizer, cara kreatif dan mandiri dilakukan berbagai pihak untuk membuatnya sendiri. Salah satunya dilakukan SMAN 10 Bandung.

Hal ini diinisiasi Wini Mandalalia yang merupakan Koordinator Mata Pelajaran Kimia SMAN 10 Bandung. Anjuran untuk menyediakan hand sanitizer di sekolah membuatnya mengusulkan kepada Kepala SMAN 10 Bandung untuk membuatnya. Gayung bersambut, hal itu didukung penuh dan kini proses pembuatan terus dikebut.

"Karena sekarang langka hand sanitizer yang dianjurkan untuk selalu dipakai, di pasaran sekarang susah. Kalaupun ada, harganya sudah mahal sekali. Bukan lagi dua kali lipat, mungkin ada yang sampai lima kali lipat. Kami sebagai guru kimia merasa terpanggil untuk membuat hand sanitizer sendiri, karena sebenarnya membuatnya enggak sulit-sulit amat," kata Wini, Rabu (18/3/2020).

Ada tiga formula hand sanitizer yang dibuat. Satu formula sesuai komposisi yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dua lainnya adalah hasil modifikasi yang bahannya relatif lebih mudah dicari.

Formula BPOM memiliki komposisi isopropil alkohol, gliserol, hidrogen peroksida, dan air murni. Sedangkan formula kedua berbahan dasar lidah buaya, alkohol, dan gliserol. Formula ketiga adalah yang paling mudah, yaitu hanya menggunakan alkohol dan lidah buaya.

Hand sanitizer itu rencananya akan disimpan di seluruh ruangan di sekolah, termasuk tempat resepsionis dan pos satpam. Sehingga, semua orang yang berada di lingkungan sekolah bisa memakainya.

Tapi, ada kendala tersendiri yang saat ini dihadapi. Bahan baku untuk membuat hand sanitizer mendadak sulit didapatkan. Kalaupun tersedia, harganya pun mendadak mahal, bahkan harus menunggu dikirim beberapa hari.

Meski begitu, ada solusi lain yang disiapkan, terutama untuk alkohol. Menurut Wini, kandungan seperti alkohol bisa dibuat dari daun sirih. "Sebetulnya bisa alkohol dibuat sendiri dengan gula kemudian kasih fermipan. Tapi waktunya tiga hari (baru bisa dipakai)," ucapnya.

"Atau bisa diganti menggunakan daun sirih yang diremas-remas dan air. Perbandingannya untuk membuat 100 mililiter itu menggunakan lima sampai enam lembar daun sirih, kasih aloe vera (lidah buaya) cukup satu batang yang kecil atau satu sendok kecil, itu juga bisa untuk mengatasinya (sebagai pengganti alkohol yang sulit didapat). Itu langsung bisa dipakai, begitu selesai langsung bisa digunakan," jelas Wini.


Berawal dari Mata Pelajaran Sekolah 
Sejak virus corona (CO-VID 19) menjadi pandemik global, berbagai negara yang dampaknya mulai mencari solusi bagaimana menangkal virus tersebut. Di Indonesia, protokol pencegahan tersebarnya virus corona sudah diterbitkan, yang mana di dalamnya tiap orang diharuskan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, serta menggunakan hand sanitizer.

Lantas yang jadi masalah adalah pola konsumsi masyarakat yang mengalami panic buying, sehingga produk hand sanitizer itu sendiri ludes di pasaran, bersamaan pula dengan masker. Hal itu kemudian memicu beberapa kalangan untuk membuat produk hand sanitizer sebagai alternatif bagi kelangkaan produk ini. Sebut saja siswa SMK Prajnaparamita di Malang yang berhasil memproduksi hand sanitizer dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran.

Namun, siswa-siswi Jurusan Kimia Analisis di SMK Negeri 13 Bandung punya cerita sendiri. Mereka sudah membuat hand sanitizer jauh sebelum kelangkaan itu terjadi. Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen dan Mutu SMK Negeri 13 Bandung Rohayati. Menurutnya, produk hand sanitizer di SMK Negeri 13 Bandung adalah produk hasil mata pelajaran Produk Kreatif Kewirausahaan (PKK) Kelas 11 di Jurusan Kimia Analisis.

"Awalnya sih memang murni dari mata pelajaran itu. Produk kreatifnya apa nih yang belum dibuat, akhirnya guru mata pelajarannya menugaskan siswa bikin hand sanitizer," ujar Rohayati.

Berkaca Pada Keadaan
Seiring berjalannya waktu, Indonesia pada akhirnya mengumumkan virus corona telah masuk. Hal itu berbarengan dengan momen Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang sedianya akan digelar hari ini, sebelum adanya kebijakan siswa belajar dari rumah. Nah, sebelum kebijakan siswa sekolah dari rumah itu dikeluarkan oleh, awalnya Pemerintah lebih dulu mengeluarkan protokol UNBK yang mana salah satu poinnya adalah sekolah harus menyediakan titik tempat untuk hand sanitizer dan sabun untuk cuci tangan.

Berangkat dari protokol itulah, kreatifitas siswa kelas 11 Jurusan Kimia Analisis dalam membuat produk ini dikembangkan. Selain itu, Rohayati dan pihak SMKN 13 juga berkaca pada situasi di lapangan, yang mana produk hand sanitizer itu sendiri mengalami kelangkaan.

Adapun di SMK Negeri 13, sebanyak 26 titik hand sanitizer dipasang dengan masing-masing 1 liter hand sanitizer di dalamnya. Bahan baku yang mereka gunakan pun tak berbeda jauh dengan bahan baku hand sanitizer pada umumnya. Namun, Rohayati menambahkan, inovasi produk siswa-siswinya dalam membuat hand sanitizer ada pada pewangi-nya. Dalam proses pembuatannya, pihak sekolah juga melibatkan laboran dan analis yang melayani pembelajaran praktik untuk siswa-siswi.

"Karena memang enggak untuk jualan ya awalnya. Ini berangkat dari tugas mata pelajaran dan kebetulan, kita juga enggak nyangka jadinya bakal langka, akhirnya kita kembangin untuk kebutuhan mandiri. Jadi ya kalaupun ada inovasi-inovasi, itu sih lebih ke anak-anak aja kreativitas mereka nambahin pewangi," bebernya.

Meski demikian, Rohayati menyebutkan jika ada pihak sekolah lain yang memerlukan hand sanitizer, pihak SMK Negeri 13 Bandung bisa saja melayani, namun itu hanya sebatas untuk kebutuhan di sekolah yang membutuhkan tersebut.

Tidak Dijual, Tapi Dibagikan untuk Warga Sekitar
Mengenai situasi kelangkaan hand sanitizer yang terjadi, pihak SMKN 13 Bandung akhirnya berinisiatif untuk membagikan produk hand sanitizer ini utamanya ke lingkungan internal mereka terlebih dahulu. Rohayati menyebutkan, ada 120 botol hand sanitizer berukuran 100ml yang dibagikan kepada guru dan petugas di lingkungan sekolah.

Ditanya mengenai produksi hand sanitizer tersebut untuk dijual ke publik, Rohayati menyebutkan tak ada penjualan produk hand sanitizer ke publik, karena pihak sekolah harus mengantongi izin terlebih dahulu dari otoritas terkait perihal penjualan produk ini.

Lebih lanjut lagi, produk hand sanitizer karya siswa-siswi SMK Negeri 13 Bandung ini nantinya akan dibagikan dalam kemasan 30ml untuk warga setempat yang berada di wilayah SMK Negeri 13 Bandung.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler