Cerita 'Stopan' Terlama di Bandung yang Perlu Kamu Tahu

Bandung - TemanBaik, khususnya warga Kota Bandung, pasti hafal deh dengan traffic light atau lampu lalulintas  di perempatan Jalan Soekarno Hatta-Kiaracondong atau sering disebut 'stopan Samsat'. Mungkin kamu bakal senyum-senyum sendiri ketika mendengarnya atau bahkan mendadak kesal. Itu karena 'stopan Samsat' dikenal sebagai lampu lalulintas berdurasi "terlama" di Kota Bandung.

Durasi lampu merahnya saja bisa sekitar 5 menit. Bahkan, di waktu-waktu tertentu bisa menembus hingga 10 menit. Sebaliknya, lampu hijau hanya berkisar sekitar satu hingga dua menit saja.

Lampu lalulintas di perempatan ini pun sering bikin meradang pengendara yang melintas. Bahkan, ada berbagai anekdot yang disematkan pada stopan tersebut. Mulai dari bisa ngopi sambil nunggu lampu berwarna hijau, bisa menyeduh mie instan, bahkan hingga bisa mengerjakan Pekerjaan Rumah.

Jika TemanBaik kebetulan melintas ke lokasi, kamu memang harus punya kesabaran ekstra. Sebab, kamu bisa kebagian beberapa kali lampu merah. Itu karena saat kebagian lampu berwarna hijau, kamu justru terhalang antrean kendaraan di depan. Akibatnya, kamu mesti menunggu antrean lagi sampai lampu berwarna hijau.

Bahkan, cukup sering pengendara yang langsung melaju super kencang agar bisa lolos dari stopan ini. Jangan ditiru ya, itu membahayakan keselamatan kamu dan pengendara lain. Kondisi ini juga terjadi hampir serupa di traffic light Jalan Soekarno Hatta-Buahbatu. Ya, sama-sama lama dan sering bikin kesal pengendara.

Kondisi ini akan makin membuat kamu gelisah jika dalam kondisi cuaca yang panas menyengat atau hujan. Kesabaran pun jelas harus lebih ekstra. Apalagi jika ditambah kamu lagi buru-buru karena dikejar waktu untuk pergi ke suatu tempat. 

Jangan Kesal, Ini Penjelasannya
Kepala Bidang Manajemen Transportasi dan Parkir Dinas Perhubungan Kota Bandung Khairul Rijal memberi penjelasan kenapa lampu merah di 'stopan Samsat' berdurasi lama. Alasan utamanya adalah karena tingginya volume lalu lintas kendaraan di lokasi.

Lampu lalulintas SAMSAT itu adalah jalur utama yang digunakan pengendara dari berbagai daerah. Jalan Soekarno-Hatta merupakan jalur penghubung kendaraan dari dan ke luar Kota Bandung. Setiap harinya ada puluhan ribu, bahkan ratusan ribu kendaraan yang melintas.

Sehingga, sering terjadi penumpukkan kendaraan yang signifikan di Jalan Soekarno-Hatta dan sekitarnya. Sementara kondisi jalan bisa dibilang seadanya. Intinya, lebar jalan yang ada tak sebanding dengan jumlah kendaraan. Akibatnya, kendaraan akan mengular di 'stopan Samsat' dan Buahbatu.

Lalu, kenapa harus dibuat lama? Kan bisa dibuat masing-masing lebih singkat durasinya? Dishub Kota Bandung tentu sudah melakukan pertimbangan sehingga membuat lampu lalulintas itu memiliki durasi yang membuat mayoritas pengendara meradang.

Tujuannya, agar masing-masing kendaraan dari empat arah bisa kebagian melaju. Sebab, penumpukkan kendaraan terjadi di empat titik, bukan hanya dari dua arah di Jalan Soekarno-Hatta saja.

"Kita harus memberi ruang semua kendaraan agar tidak mengekor terlalu panjang," kata Rijal, sapaan akrabnya.

Sebab, durasi lampu merah di sana dibuat lama atau sebentar, kondisinya akan tetap terjadi penumpukkan kendaraan. Tapi, jika durasi lampu merah dibuat lama, justru antrean kendaraan diharapkan tidak terlalu lama.

Meski saat lampu berwarna merah kendaraan akan menular, tapi saat lampu berwarna hijau kendaraan bisa melaju lebih banyak. Sebaliknya, jika lampu berwarna merah durasinya sebentar, maka hanya sedikit kendaraan yang bisa melaju. Akibatnya, sedikit demi sedikit kendaraan akan terus bertumpuk ke belakang dan mengakibatkan antrean panjang.

Petugas Dishub pun melakukan cara lain agar antrean yang lebih panjang di salah satu jalur bisa lebih cepat berjalan lebih lancar. Caranya dengan melakukan pengaturan traffic light. Sehingga, kadang di waktu-waktu tertentu ada yang lampu merahnya berdurasi lebih lama dari biasanya, tapi ada juga yang lebih sebentar.

"Kita saat ini melakukan pengaturan agar kendaraan tidak 'terkunci' di salah satu titik. Kalau pagi misalnya, kita prioritaskan kendaraan untuk kendaraan dari arah timur menuju barat. Kalau sore, kita prioritaskan untuk kendaraan dari arah barat menuju timur," jelas Rijal.


                                                                               Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Pengaturan seperti itu dilakukan sebab pagi dan sore adalah jam sibuk dan sering terjadi kemacetan. Saat pagi, jumlah kendaraan dari arah timur menuju barat Kota Bandung jauh lebih banyak dari arah sebaliknya. Sehingga, durasi lampu hijaunya akan lebih lama dari dibanding arah lain.

Sebaliknya, saat sore, kendaraan dari arah barat menuju timur yang sangat padat. Sehingga, petugas akan mengatur agar durasi lampu agar dari arah itu menjadi lebih lancar. Di saat yang sama, kendaraan dari arah lain juga tetap bisa melaju meski dengan 'waktu tunggu' yang lebih lama dari jam normal.

Imbau Pengendara Tetap Tertib
Meski kamu berada dalam situasi yang membuat kesal jika berada di dua 'stopan' itu, kamu sebaiknya tetap berperilaku tertib dalam berkendara, ya. Usakahan jangan salip-menyalip antrean ya agar tak ada kendaraan lain yang terhalang. Sebab, akibatnya justru akan mengganggu arus lalu lintas dan menimbulkan kemacetan panjang.

"Kemacetan itu enggak bisa diselesaikan sendiri (oleh pemerintah), partisipasi publik, terutama pengendara sangat dibutuhkan dengan berusaha disiplin dan tertib berlalu lintas," jelas Rijal.

Ia pun mengimbau agar pengendara tidak memacu laju kendaraannya berlebihan saat lampu di traffic light berwarna hijau. Sebab, hal itu berpotensi mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Intinya, melajulah dengan kecepatan normal. Jangan ngebut biar kebagian lampu hijau.

"Jangan buru-buru kalau di stopan. Utamakan keselamatan, bukan kecepatan," tandas Rijal.

Foto: Ilustrasi Agam/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler