Mengangkat Kisah Istimewa Inggit Garnasih Lewat Buku

Bandung - TemanBaik, tahu enggak dengan sosok Inggit Garnasih? Perempuan ini pernah menjadi istri Presiden Soekarno dalam kurun 1923-1943. Begitu banyak kisah menarik di balik sosok yang mendampingi Bung Karno di saat muda hingga jadi sosok yang matang sebagai pejuang kemerdekaan.

Tapi, sangat sulit mencari literatur tentang sosok Inggit. Hanya ada beberapa buku saja yang membahasnya. Hal itu memantik semangat Deni Rachman (41) untuk membuat sebuah buku tentang Inggit. Buku itu berjudul 'Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih' yang diluncurkan belum lama ini.

"Kita kekurangan referensi tentang sosk Ibu Inggit Garnasih, referensi tentang ibu sedikit sekali. Ada beberapa buku tentang ibu, tapi itu pun sudah sangat langka," kata Deni kepada BeritaBaik.id.

Ia sendiri merasa terpanggil untuk mengenalkan sosok Inggit Garnasih, terutama kepada generasli milenial. Sebab, sangat jarang sosok Inggit diangkat ke publik. Sehingga, ia ingin menambah referensi tentang sosok Inggit Garnasih melalui buku yang dibuatnya.

Deni berharap sosok Inggit bisa diketahui generasi masa kini dengan lebih banyak. Sehingga, mereka bisa tahu bahwa ada sosok perempuan hebat yang pernah ada di Indonesia dan patut dikenang dalam bagian sejarah penting bangsa.

Keistimewaan Inggit Garnasih

Secara pribadi, Deni memandang ada beberapa keistimewaan yang dimiliki seorang Inggit Garnasih. Sosok perempuan tangguh yang mandiri menjadi cerminan utama dari perempuan kelahiran Banjaran, Kabupaten Bandung ini.

Itu terlihat dari kerja keras Inggit dalam menopang kehidupannya, termasuk berjuang menyokong Bung Karno dalam melawan penjajahan. Inggit melakoni berbagai usaha, mulai dari menjual bedak, menjadi agen sabun cuci, serta membuat dan menjual tembakau.

Tak ada gelimang harta yang dirasakan Inggit saat hidup bersama Bung Karno. Tapi, hal itu justru menjadi bukti bagaimana setianya Inggit dalam mendampingi sosok yang justru kelak menjadi Proklamator kemerdekaan negeri ini.

"Ibu juga jadi sosok ibu yang layak dijadikan teladan negeri ini. Ibu juga sosok yang merakyat karena hidupnya terbiasa dekat dengan rakyat. Bahkan, beliau pernah hidup dengan 20 rakyat dan menghidupinya dengan gratis. Beliau mengakui lebih cocok disebut sebagai Ibu Rakyat," tutur Deni.

Keistimewaan lainnya tentu adalah kesabaran luar biasa dari sosok Inggit. Bayangkan bagaimana sulitnya mendampingi sosok pejuang macam Bung Karno? Bahkan, saat Bung Karno dipenjara akibat melawan Hindia Belanda, Inggit justru jadi penyambung perjuangan Bung Karno dari balik jeruji besi.

Dalam buku 'Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih', Deni menceritakan berbagai hal tentang sosok Inggit. Ia membaginya dalam tiga bagian utama. Pertama, menceritakan sosok Inggit tanpa embel-embel Bung Karno. Kedua, hubungan Inggit dengan Bung Karno.

"Yang ketiga, reaktualisasi nilai-nilai kekinian (dari Ingit Garnasih), contohnya bagaimana nasib rumah Ibu Inggit," ungkap Deni.


Proses Pembuatan Buku

Menurut Deni, buku yang dibuatnya sebenarnya bukan tulisannya. Buku itu berisi kumpulan kliping tentang sosok Inggit dari berbagai koran dan majalah yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Sehingga, ia mengaku lebih tepat disebut mengkurasi bahan-bahan tulisan tersebut hingga menjadi buku.

Kenapa sih ia lebih memilih mengangkat sosok Inggit dari tulisan para wartawan? Sebab, ia menilai pasti wartawan memiliki kejelian tersendiri dalam memandang keistimewaan Inggit dan berbagai kisah hidupnya. Apalagi, banyak yang tak diceritakan di buku-buku tentang Inggit Garnasih sebelumnya.

"Yang istimewa itu karena diangkat wartawan. Kalau diangkat wartawan, sudah pasti ada sudut istimewa dan saya ingin membagikan kisah-kisah istimewa itu," jelas Deni.

Untuk proses kreatif pengumpulan bahan, secara fokus ia mengaku melakukannya dalam kurun 2018-2019. Tapi, ketertarikan Deni pada sosok Inggit sudah ada sejak 2014 lalu.

"Jadi, sudah enam tahun saya kenal dengan sosok Ibu Inggit. Tapi, baru mulai dua tahun ke belakang saya mulai mengumpulkan bahan. Jadi, kalau rentang rohani dengan Ibu Inggit sejak enam tahun lalu, tapi kalau serius untuk mengumpulkan bahan menulis dari dua tahun terakhir," ungkap Deni.

Ia pun berburu ke berbagai tempat untuk mendapatkan bahan berupa kliping koran dan majalah. Bahkan, ia pernah melakukannya hingga Yogyakarta dan beberapa daerah lain. Salah satu sasarannya berburu bahan adalah ke tempat loakan dan barang-barang antik, terutama tempat penjualan buku lawas.

"Tapi paling banyak bahannya saya temukan di Bandung. Ada juga yang enggak saja saya temukan bahannya di loakan. Seperti dari majalah Mangle, saya juga menemukannya di loakan," tutur Deni.

Ada juga bahan yang didapatnya dari kolektor barang dan buku antik, termasuk ada teman yang memberinya bahan untuk membuat tulisan. Sementara sebelum meluncurkan bukunya, Deni juga sudah bertemu dengan keluarga Inggit Garnasih, yaitu cucu angkatnya yang bernama Tito Asmarahadi. Respon positif pun didapat.

Dicetak dan Dijual Mandiri

Untuk membuat buku 'Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih', Deni justru berjuang keras sendirian. Ia mencari bahan sendiri, menyusun sendiri, mencetak sendiri, hingga memasarkannya sendiri.

Deni sendiri dalam kesehariannya adalah kolektor sekaligus penjual buku-buku lawas. Ia menjual buku itu secara online. "Saya menjualnya dengan harga Rp45 ribu. Harapannya, saya ingin buku ini masuk ke anak-anak milenial," jelasnya.

Ia mengaku tak menjualnya di toko. Sebab, toko buku lawas yang pernah dimilikinya sudah tutup sejak beberapa tahun lalu. Sehingga, jika TemanBaik ingin membeli bukunya, kamu bisa membelinya secara online. Informasi penjualan bisa kamu dapat dengan mengunjungi akun Instagram @lawangbuku.

Selain buku 'Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih', kamu juga bisa mencari buku-buku lawas yang sangat sulit didapatkan di pasaran.

Foto: dokumentasi pribadi Deni Rachman

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler