Efektifkah Masker Kain untuk Cegah Penularan Penyakit?

Bandung - TemanBaik, tahu kan saat ini masker menjadi barang langka yang sulit sekali dicari? Kalaupun ada, harganya sudah naik berkali-kali lipat. Hal itu terjadi sejak beberapa pekan terakhir ini isu seputar virus corona atau COVID-19 semakin gencar dikabarkan di Indonesia.

Masker bedah hingga masker tipe N95 kini seolah jadi barang mewah. Padahal, dulu barang ini bisa didapat dengan mudah, terutama di apotik. Bahkan, dulu masker bedah tergolong murah dan mudah dicari, termasuk di minimarket dan tempat penjualan lainnya.

Selain dibutuhkan untuk orang yang sakit, termasuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona, masker juga diburu orang sehat. Sebab, banyak masker dinilai sebagai cara tepat untuk mencegah tertular dari penyakit tersebut.

Meski masker sebenarnya hanya direkomendasikan untuk orang yang sakit, pada akhirnya orang yang sehat juga memakainya. Bahkan, tak sedikit ada yang memborong masker demi proteksi diri, terutama untuk dipakai di tempat umum dengan risiko penularan terbuka.

Saking sulitnya mendapatkan masker bedah, termasuk masker tipe N95, masker berbahan kain kini juga diburu. Harga yang melonjak tajam pun kini seolah dipandang wajar. Semua pihak seolah memaklumi akan hukum pasar, tingginya permintaan tak sebanding dengan ketersediaan barang. Akibatnya, harga akan melonjak.

Baca Ini Juga Yuk: Bunga Bangkai Kembali Mekar di Kebun Raya Cibodas 

Solusinya, kini banyak yang memburu masker berbahan kain. Tujuannya sama, yaitu untuk mencegah penularan atau tertular penyakit menular, terutama virus corona. Tapi, efektifkah penggunaan masker kain untuk tujuan ini?

"Kalau soal efektivitas, minimal sebaiknya gunakan masker bedah," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita.


                                                                          Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Masker bedah menurutnya sudah cukup untuk mencegah penularan. Sebab, masker itu dibuat memang dibuat dengan spesifikasi yang ideal. Tapi, ingat ya, masker ini maksimal hanya digunakan selama 8 jam saja. Bahkan, ada yang mengatakan efektivitas masker bedah sebenarnya 3-4 jam saja.

Sedangkan untuk masker tipe N95, kemampuannya jauh lebih baik daripada masker bedah. Masker ini tergolong memiliki kerapat lebih baik dari masker bedah. Tapi, masker ini sebenarnya direkomendasikan untuk dipakai oleh mereka yang bekerja di lingkungan dengan risiko paparan tinggi terhadap suatu penyakit.

"Kalau masket N95 diutamakan untuk petugas kesehatan yang memang sering kontak dengan pasien-pasien ya. Kalau yang efektif (untuk masyarakat umum) ya masker bedah," jelas Rita.

Hanya Alternatif Saja
Masker berbahan kain sendiri sebenarnya tidak direkomendasikan. Sebab, masker kain memiliki 'pori-pori' yang jauh lebih besar dari masker bedah, apalagi jika dibandingkan dengan masker tipe N95.

Masker berbahan kain ini jelas tidak sesuai untuk standar penularan atau pencegahan penyakit menular. Sebab, partikel, bakteri, hingga virus tetap berpotensi terhidup dengan melewati celah-celah pada masker kain.

Tapi, di tengah kondisi pandemi virus corona seperti sekarang, penggunaan masker kain menuru Rita jauh lebih baik ketimbang tidak menggunakan masker sama sekali, terutama bagi yang sedang sakit. Sehingga, potensi menularkan atau tertular penyakit bisa sedikit lebih diminimalisir.

"Ya, kalau untuk sementara sambil menunggu (bisa mendapatkan masker bedah) enggak apa-apa, daripada enggak pakai sama sekali," tutur Rita

Foto: Ilustrasi Unsplash

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler