Tradisi Mencari Jodoh dengan Mematahkan Lidi di Banyuwangi

Banyuwangi - TemanBaik, kamu tentu tahu jika Indonesia memiliki begitu banyak budaya dengan segala keunikannya. Setiap daerah pasti memiliki keunikan tersendiri. Salah satu yang akan kita bahas kali ini adalah tradisi Gredoan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Simak ulasannya yuk!

Dilansir di laman Indonesia.go.id, di Banyuwangi terdapat tujuh etnis besar yang hidup dengan rukun. Ketujuh etnis itu adalah suku Using atau Osing, Jawa Mataraman, Madura, Bali, Mandar, Tionghoa, dan Arab. Keanekaragaman ini menghasilkan berbagai upacara adat yang kental dengan basis agama. Salah satunya tradisi Gredoan dari suku Osing.

Menurut Budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan, tradisi Gredoan adalah tradisi masyarakat suku Osing untuk mencari jodoh. Tradisi ini sangat kental dilaksanakan masyarakat di Dusun Banyuputih, Desa Macanputih, Kabupaten Banyuwangi.

"Gredo artinya 'menggoda'. Ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda atau janda. Diadakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya diadakan pada malam hari," kata Hasnan.

Seperti apa sih tradisi gredoan ini? Singkatnya, dalam tradisi ini, orang-orang yang sudah cukup umur akan mencari calon pendamping hidupnya sendiri. Para pria biasanya akan memasukkan lidi dari janur kelapa ke lubang anyaman bambu atau biasa dikenal dengan gedheg milik gadis pilihannya.

Jika sang perempuan setuju, maka lidi tersebut akan dipatahkan dan si laki-laki akan mulai berbicara serta melancarkan rayuan. Dari rayuan inilah tradisi tersebut disebut 'Gredoan'. Gredoan sendiri berasal dari kata 'gridu' yang berarti menggoda. Dalam proses merayu ini, biasanya juga akan terjadi berbalas pantun antara laki-laki dan perempuan.

Uniknya, selama proses itu, pihak laki-laki dan perempuan tak bertatap muka karena dibatasi dinding dari bambu. Sang perempuan ada di dalam, sedangkan laki-laki di area luar. Setelah hati sang gadis luluh dengan rayuan laki-laki, laki-laki itu pun akan segera melamarnya.

Baca Ini Juga Yuk: Safety Chamber untuk Kurangi Risiko Dokter Tertular COVID-19

Tetap Berjalan di Tengah Modernisasi
Tradisi Gredoan sendiri selalu dilaksanakan rutin setiap Maulid Nabi hingga kini. Melalui kegiatan ini, warga pada akhirnya akan saling berkumpul di satu tempat khusus. Makna itulah yang sebenarnya tak kalah besar daripada sekadar ajang mencari jodoh semata.

"Terlepas dari itu (mencari jodoh), tradisi tersebut juga dapat mempererat tali persaudaraan dengan acara kumpul-kumpul. Selain itu, acara ini juga dapat menjadi hiburan karena banyaknya pertunjukkan yang disaksikan," jelas Hasnan.

Dalam tradisi gredoan sendiri biasanya terdapat pertunjukkan seperti menyalakan obor. Para pria kemudian akan saling bertarung dengan menggunakan obor. Ada juga pertunjukkan atraksi tarian tongkat api, musik daerah, hingga karnaval boneka yang dibuat warga.

Tapi, tradisi Gredoan perlahan mulai berubah dan menyesuaikan diri dengan arus modernisasi, dan yang paling kentara adalah tak ada lagi penggunaan lidi dalam proses mencari jodoh.

Untuk alat yang dipakai kini beralih dari lidi menjadi telepon gengam. Sedangkan dinding bambu yang disebut gedheg kini menjadi bangunan batu. Tapi, meski mengalami perubahan, tradisi ini tetap terjaga alias mampu dilestarikan.

"Penggunaan ponsel menjadi aspek yang tidak bisa dihindari. Namun, mau modern atau klasik, gredoan telah banyak membantu masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya dalam menggapai pernikahan," tutur Hasnan.

Foto: dok. Roy Enaher/diplomasi.net

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler