134 Orang Dinyatakan Sembuh, Pemerintah Gencarkan Pemeriksaan

Jakarta - TemanBaik, jumlah pasien yang terjangkit virus corona atau COVID-19 memang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Data yang tercatat hingga Jumat (3/4/2020), total ada 1.986 orang yang dinyatakan positif. Dari jumlah itu, 134 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh. Sedangkan yang meninggal ada 181 orang.

Kenpa sih jumlah pasien positif bertambah banyak? Itu karena pemeriksaan gencar dilakukan pemerintah. Total ada 7.924 spesimen COVID-19 yang diperiksa dari 32 provinsi yang meliputi 120 kabupaten/kota. Hal ini harus dipandang dari sisi positif juga ya. Sebab, jumlah orang yang terjangkit COVID-19 kini terdeteksi lebih banyak. Sehingga, pemerintah bisa melakukan penanganan dengan tepat dan cepat.

Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto, pemeriksaan spesimen itu jadi salah satu faktor kunci untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Sehingga, berbagai langkah pencegahan COVID-19 menjangkiti lebih banyak orang bisa diminimalisir.

"Salah satu kunci di dalam pemutusan rantai ini adalah menemukan kasus-kasus baru, menemukan kasus positif yang masih berada di tengah-tengah masyarakat. Sehingga, kita berharap bisa kemudian memutuskan ini dan bisa melakukan pencegahan dengan cara yang maksimal," kata Yuri, sapaan akrabnya, dalam rilis yang diterima BeritaBaik.id.

Saat ini, total ada 48 laboratorium yang beroperasi dengan kapasitas berbeda. Pemerintah pun akan memperbanyak fasilitas pengujian. Pemerintah juga akan mengaktifkan beberapa alat diagnostik yang semula dipakai untuk pemeriksaan TBC bakal dikonversi untuk pemeriksaan COVID-19.

"Ini cukup banyak jumlahnya dan tersebar di seluruh wilayah tanah air. Namun masih diperlukan beberapa konversi dari mesin dan kemudian beberapa setting. Kita akan bekerja keras untuk mengejar semua ini," jelas Yuri.
Salurkan 300 Ribu APD
Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk menanggulangi COVID-19. Salah satunya adalah mendistribusikan alat pelindung diri (APD) ke seluruh wilayah untuk digunakan tenaga kesehatan yang menangani kasus COVID-19.

"APD menjadi bagian yang terpenting karena kita tahu hanya dengan APD yang benar, yang terstandar, tenaga kesehatan bisa menangani dengan baik," ucap Yuri.

Dalam pendistribusian APD itu, DKI Jakarta jadi provinsi terbanyak yang menerima bantuan tambahan, yaitu sebanyak 85 ribu APD. Berikutnya ada Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Banten, dan wilayah lain di luar Jawa.

Tapi, Yuri mengingatkan, penambahan APD itu bisa menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat dalam mencegah penularan virus corona. Berbagai imbauan yang sudah disampaikan pemerintah dan para ahli pun diharapkan dilaksanakan masyarakat.

"Kuncinya bukan seberapa banyak rumah sakit yang disiapkan, seberapa banyak laboratorium dan peralatan yang disiapkan. Tetapi, seberapa banyak peran kita semua mencegah jangan sampai terjadi penularan, karena ini penting," tutur Yuri.

Donasi dari Masyarakat Capai Rp72,2 Miliar
Pandemi COVID-19 membuat masyarakat Indonesia banyak yang tergerak dan terketuk hatinya. Apalagi saat mendengar kabar bahwa kebutuhan APD sangat mendesak tapi sulit didapatkan. Selain itu, ada berbagai kebutuhan lain yang sulit dipenuhi secar instan.

Hebatnya, masyarakat Indonesia dan berbagai elemen menunjukkan diri bisa bahu-membahu untuk saling membantu. Pemerintah pun total sudah menerima lebih dari Rp72,2 miliar dari sumbangan untuk penanganan COVID-19.

"Donasi kita sudah mencapai lebih dari Rp72,2 miliar," ucap Yuri.

Ia pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang sudah memberikan donasi melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Mewakili pemerintah, Yuri juga mengapresiasi relawan yang tergabung dalam penanganan COVID-19.

Di luar bantuan yang disalurkan melalui pemerintah, masyarakat dan berbagai pihak jugak ini gencar menggalang bantuan. Banyak yang menyalurkannya secara langsung ke rumah sakit. Bahkan, sudah mulai banyak gerakan untuk membantu sesama yang terkena dampak COVID-19, misalnya pada yang kehilangan pendapatan.

Foto: Achmad Yurianto/ dok.dokumentasi BNPB
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler