Cerita Konferensi Asia Afrika yang Nyaris Digelar di Tenda

Bandung - TemanBaik, tahu kan momentum bersejarah Konferensi Asia Afrika (KAA)? Ya, ini adalah salah satu momentum penting bagi Indonesia serta negara-negara di Asia dan Afrika. Ini adalah kegiatan internasional yang bahkan turut mendorong lahirnya perdamaian dunia dan kemerdekaan beberapa negara.

KAA sendiri digelar di Kota Bandung. Dibuka pada 7 April 1955, konferensi ini digelar di Gedung Societeit Concordia. Gedung ini kemudian berubah nama menjadi Gedung Merdeka. Hingga kini, Gedung Merdeka pun masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu dari sejarah.

Tapi, ada fakta menarik loh di balik digelarnya KAA. Konferensi ini nyaris digelar dengan menggunakan tenda loh. Wah, bayangkan deh ada begitu banyak tamu kehormatan dari berbagai negara di Asia dan Afrika menggelar kegiatan di bawah tenda. Beruntung hal ini tak terjadi. Simak ceritanya yuk!

Dilansir di laman asianafricanmuseum.org, adalah Muhammad Junus yang mengusulkan KAA digelar di bawah tenda. Utusan khusus Perdana Menteri India saat itu Jawaharlal Nehru tersebut melihat ada kesulitan yang dialami pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan KAA.

Saat itu, Junus memberi gambaran bahwa menggelar KAA dengan memakai tenda adalah solusi di tengah kesulitan yang ada. Ia pun memberi gambaran bahwa Partai Kongres di India sudah berpengalaman menggelar kongres dengan ribuan peserta. Ia menyebut perkemahan besar-besaran di salah satu lapangan di Bandung akan bisa membuat peserta konferensi tertampung semuanya.

Baca Ini Juga Yuk: Berdaya di Tengah Pandemi, Omah Difabel Malang Ikut Produksi APD

Tapi, Perdana Menteri Indonesia saat itu, Ali Sastroamidjojo, punya pandangan lain menanggapi usulan Junus. Ali memandang usulan Junus berisiko. Sebab, terdapat para ketua delegasi yang berpangkat perdana menteri atau menteri luar negeri. Akomodasi untuk mereka dinilai tak layak jika KAA digelar di bawah tenda dan dibuat perkemahan besar di atas lapangan.

Di saat yang sama, Ali juga masih terngiang kritikan dari majalah TIMES. Saat itu, TIMES sempat mengkritik pelaksanaan akomodasi Konferensi Bogor pada 1954 yang pernah digelar. Akomodasi yang ada saat itu dinilai tak layak. Media internasional itu menyinggung buruknya akomodasi bagi delegasi, seperti air yang tak mengalir, gantungan pakaian yang tak ada di kamar, hingga listrik yang kedap-kedip.

Tapi, saat mempersiapkan KAA, Indonesia memang kesulitan. Saat itu, Sekretariat Bersama KAA kesulitan mencari gedung di Bandung yang layak untuk pelaksanaan KAA. Informasi itu sampai kepada Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Hingga akhirnya, Nehru memberi usulan kepada pemerintah Indonesia melalui perantara Junus sebagai wakil resmi pemerintah India saat itu.

Nehru sendiri sempat meragukan kemampuan Indonesia menggelar konferensi internasional. Tapi, di sisi lain, ia sangat ingin melihat KAA sukses digelar di Indonesia. Karena itulah ia mengusulkan KAA digelar di tenda. Tujuannya agar KAA bisa tetap digelar dan berjalan sukses.

Persiapan yang Mepet
Konferensi Bogor pada 1954 sendiri jadi salah satu tonggak digelarnya KAA. Saat itu, penetapan KAA diserahkan kepada Perdana Menteri Indonesia. Ali yang saat itu merupakan perdana menteri memutuskan Bandung jadi lokasi digelarnya KAA.

Tapi, kesulitan pun dihadapi, terutama soal sulitnya mencari gedung yang layak untuk menggelar konferensi internasional. Di saat yang sama, waktu yang ada untuk melakukan persiapan juga sangat mepet. Panitia total hanya memiliki waktu efektif 15 minggu untuk mendapatkan gedung dan mempersiapkannya.

Dalam memoar bertajuk 'Tonggak-tonggak di Perjalananku', Ali mengungkapkan jumlah gedung di Bandung saat itu masih sangat terbatas. Gedung yang representatif saat itu dipakai semuanya untuk kantor pemerintahan. Sedangkan panitia KAA harus menyiapkan gedung cukup besar untuk sekelas konferensi internasional.

Tapi, berkat peran Gubernur Jawa Barat saat itu, Sanusi Hardjadinata, pelaksanaan KAA akhirnya bisa digelar di Bandung. Sebagai Ketua Panitia Lokal KAA, pria yang sering disapa Mang Uci itu memberikan solusi. Ia menawarkan Gedung Societeit Concordia di Jalan Raya Timur (kini Jalan Asia-Afrika) dan Gedung Dana Pensiun di Jalan Diponegoro.

Kedua gedung itu pun kemudian dipoles sedemikian rupa. Sehingga, kedua itu bisa dipakai para delegasi untuk menggelar konferensi, terutama Gedung Societeit Concorida yang jadi lokasi pembukaan dan acara utama.

Foto: dok. NL Wikipedia
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler