Gerakan #DiRumahAja Ternyata Kurangi Potensi Bencana Longsor Loh!

Malang - Selama pandemi virus corona penyebab coronavirus disease (COVID-19) seperti saat ini, pergerakan dan mobilitas manusia di seluruh penjuru dunia berkurang cukup signifikan. Terlebih dengan adanya gerakan #DiRumahAja.

Pergerakan manusia yang berkurang ditambah pemusatan aktivitas keseharian di rumah saja terjadi sebagai upaya mengurangi penyebaran COVID-19 secara lebih luas. Hal ini kemudian berdampak pada berkurangnya penggunaan kendaraan berat, pesawat terbang, dan kendaraan darat lain yang bertonase besar atau kecil. Ternyata, hal tersebut ternyata berpengaruh terhadap proses-proses di kulit bumi yang selama ini banyak dipengaruhi oleh gerakan-gerakan yang dilakukan oleh manusia.

"Berkurangnya aktivitas manusia seperti penggunaan kendaraan berat dan pesawat terbang akan berpengaruh terhadap frekuensi timbulnya gelombang seismik,” ungkap Pakar Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya (UB) Prof. Adi Susilo, M.Si., Ph.D.

“Gelombang seismik ini adalah gelombang yang merambat pada bagian dalam bumi, dan juga permukaan bumi,” lanjutnya.

Prof Adi mengatakan, gelombang seismik dalam frekuensi tertentu dapat memicu terjadinya longsor, seperti yang pernah terjadi di provinsi Jawa Barat beberapa waktu lalu. Gelombang ini muncul akibat banyaknya getaran dari kendaraan yang bermobilisasi.

Oleh karenanya, berkurangnya aktivitas manusia saat pandemi corona menjadi momentum di mana bumi bisa ‘berisitirahat’. Sekaligus, kata Prof Adi, hal tersebut dapat mengurangi proses yang ada di kulit bumi, dan berpengaruh terhadap keberlangsungan infrastruktur bangunan-bangunan.

"Jika frekuensi getaran sama dengan dengan frekuensi bangunan, maka akan menimbulkan resonansi bangunan sehingga bisa menyebabkan kerusakan, seperti retak. Getaran ini dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan yang lewat," tandas Adi yang juga professor bidang Geofisika pertama di UB.

Berkurangnya aktivitas manusia, kata Adi, juga akan mengurangi gangguan pada infrastruktur buatan manusia, seperti jembatan dan bangunan. Terutama di daerah pesisir utara yang banyak memiliki endapan tanah akibat endapan dari lumpur bawaan sungai. “Seperti daerah pesisir Surabaya itu sangat potensial sekali dan kuat sekali untuk meneruskan gelombang seismik, sangat kuat sekali dilewati getaran-getaran seismic,” ujar Adi.

“Getaran saat melewati (tanah) lempung itu akan diperkuat, tapi kalau melewati pasir akan diredam. Nah, kalau daerah udara utara itu karena banyak lempung, maka getaran akan bisa diperkuat dan itu akan menimbulkan infrastruktur yang terganggu,” imbuhnya.

Meskipun begitu, Adi mengaku muncul adanya kekhawatiran ketika masa pandemi ini berakhir. Salah satunya yakni meningkatnya mobilitas yang berpotensi memicu bencana-bencana baru.

"Sekarang bumi relatif istirahat dari dilewatinya getaran seisimik dan bencana alam yang lain juga berkurang. Itu hikmahnya. Saya justru khawatir setelah Ramadan dan pandemi berakhir, mobilitas serta kebutuhan banyak maka kondisi alam akan menjadi lebih buruk lagi," pungkasnya.


Foto: Dok Humas UB

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler