Mencari Tahu Potensi Lemon Sebagai Penangkal Virus

Bandung - TemanBaik, familiarkah kamu dengan buah lemon? Ya, buah ini digadang-gadang sebagai penangkal virus loh. Bagaimana bisa? Yuk kita simak!

Belakangan, muncul kabar bahwa campuran teh dan buah lemon dapat membunuh virus SARS-CoV-2 atau penyebab virus corona. Nah, berkaitan dengan kabar tersebut,  Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Bahan Alam Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) Prof. Abdul Mun’im angkat bicara.

Menurutnya, antivirus dalam buah lemon lebih banyak dikaitkan dengan kandungan mineral, vitamin C, dan vitamin lainnya.

"Walaupun sebenarnya ada kandungan senyawa lain seperti fenol dan flavonoid yang sudah diketahui manfaatnya untuk kesehatan," ujar Abdul dalam keterangan resmi di laman web Universitas Indonesia.

Manfaat flavonoid dari jeruk untuk kesehatan itu sendiri sebelumnya sudah diperkenalkan oleh Albert Szent-Gyorgii pada tahun 1938. Senyawa ini disebut bermanfaat untuk mencegah perdarahan pembuluh darah kapiler dan juga mencegah kerapuhan pembuluh darah kapiler pada penyakit kudis.

Nah, sebagai informasi tambahan, lemon yang banyak kita jumpai di pasaran adalah lemon lisbon. Lemon jenis ini memiliki bagian mengerucut di bagian ujungnya, kulit medium hingga tebal yang halus, dan warnya kuning cerah saat sudah masak pohon. Abdul menyebut lemon lisbon diketahui mengandung hesperidin, disomin, dan eriocitrin yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya.

Baca Ini Juga Yuk: Begini Cara Jaga Keharmonisan Keluarga Selama #DiRumahAja

Mengenai khasiatnya, hesperidin merupakan senyawa golongan flavonoid yang menunjukkan efek toksik terhadap beberapa sel kanker. Sementara itu diosmin paling sering digunakan untuk penanganan wasir dan luka kaki yang disebabkan oleh aliran darah yang buruk. Senyawa ini juga tampaknya memiliki efek antioksidan. Diosmin biasanya dikonsumsi bersama dengan hesperidin. Sementara eriocitrin merupakan senyawa flavonoid yang berkhasiat melindungi hati terhadap stres oksidatif.

Secara spesifik, Abdul mengungkap kandungan flavonoid pada kulit buah berjumlah empat sampai enam kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan daging buahnya.

"Pada kulit buah muda lebih banyak mengandung hesperidin, sedangkan jika sudah tua lebih banyak mengandung diosmin dan eriocitrin," ungkapnya.

Potensi Menangkal Virus
Sebuah riset karya Zakaryan dan kawan-kawan pada laman web Universitas Indonesia merangkum aktivitas antivirus dari berbagai jenis flavonoid pada tahun 2017. Dari studi yang dilakukan itu, kandungan flavonoid memperlihatkan aktivitas antivirus yang kuat baik secara in vitro maupun in vivo dan prospektif dikembangkan sebagai obat.

Flavonoid tersebut juga memperlihatkan efek yang sangat kuat terhadap influenza H1N1 yang resisten terhadap Tamiflu. Pada pengujian lebih lanjut secara in vitro dan in vivo dari salah satu flavonoid kuersetin memperlihatkan efek antivirus influnenza lain seperti H5N2, H7N3 dan H9N2.

Hesperidin (salah satu flavonoid dari lemon) sudah banyak dilaporkan memiliki aktivitas antivirus penyebab penyakit pada manusia. Efek antivirus influenza juga diperlihatkan oleh senyawa flavonoid golongan katekin dan turunannya. Senyawa ini banyak terkandung pada daun teh.

"Jadi sangat wajar kontroversi teh dan lemon sebagai pembunuh virus yang ramai diperbincangkan," ungkap Prof. Abdul.

Kendati demikian pengembangan flavonoid menjadi obat banyak menghadapi kendala. Pasalnya, flavonoid itu sendiri diketahui sedikit terserap ke dalam darah. Selain itu, flavonoid juga mudah mengalami kerusakan dalam saluran cerna karena terdekomposisi oleh enzim dan mikroba.

Sementara itu flavonoid kuersetin hanya 16 persen yang masuk kedalam darah. Hesperidin juga mengalami kendala yang sama karena masalah kelarutan dalam air. Oleh karena itu, Abdul menyebutkan beberapa peneliti membuat turunan hesperidin yang mudah larut dalam air dengan menambahkan gugus glukosa.

Turunan hesperidin hasil penelitian tersebut ternyata lebih mudah terserap ke dalam darah dan memiliki aktivitas antivirus influenza A lebih baik dibandingkan dengan hesperidin alami (sebelum diteliti). Saat ini beberapa flavonoid juga dikembangkan dalam bentuk sediaan nano untuk mengatasi masalah tersebut.

"Penelitian lebih lanjut flavonoid untuk anti virus masih harus dilanjutkan, karena masih lebih banyak penelitian in vitro atau in vivo. Apalagi untuk obat Covid 19 karena virus baru, bukti masih terbatas," tegas Prof. Abdul.

TemanBaik, kendati masih dalam pengembangan, namun kita perlu bersyukur karena obat untuk virus berbahaya ini sudah mulai ditemukan kandidat-kandidatnya. Kita hanya perlu membantu para ilmuwan yang merumuskan obat antivirus dan para tenaga medis yang berjuang di lapangan dengan cara mengikuti anjuran Pemerintah untuk #DiRumahAja.

Selain itu, menerapkan standar kesehatan juga penting. Mulai dari cuci tangan, pakai masker dan selalu sedia hand sanitizer. Yuk, terapkan hidup sehat!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Lauren Mancke

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler