Udara Terasa Lebih Panas? Ini Penjelasan BMKG

Bandung - TemanBaik, terasa enggak jika dalam enam hari terakhir suhu udara terasa lebih panas? Pastinya bikin gerah juga kan? Bukan cuma kamu kok merasakannya, tapi dirasakan secara umum. Simak ulasannya yuk!

Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung Tony Agus Wijaya, suhu yang terasa gerah itu secara meteorologis disebabkan suhu udara panas yang disertai kelembapan udara tinggi. Kelembapan udara tinggi ini menyatakan jumlah uap air yang terkandung pada udara.

"Semakin banyak uap air yang terkandung pada udara, maka akan semakin lembap udara tersebut. Saat suhu meningkat akibat pemanasan matahari secara langsung karena berkurangnya tutupan awan, maka suasana akan terasa lebih gerah," kata Tony kepada BeritaBaik.id, Rabu (27/5/2020).

Namun, normalkan suhu udara yang bikin gerah tersebut? Tenang, ini hal wajar kok dan kerap terjadi saat peralihan musim.

"Fenomena udara gerah ini sebenarnya adalah fenomena biasa. Ini biasanya terjadi pada saat memasuki musim kemarau," jelas Tony.

Sementara berdasarkan laporan pencatatan meteorologis suhu maksimum udara, umumnya udara panas ini terjadi pada siang hari. Suhunya ada di kisaran 34-36 derajat selsius.




Daerah yang terpanas, beberapa kali suhu udara juga ada yang tercatat lebih dari 36 derajat selsius, yaitu di Sentani, Papua. Di Tanjung Perak pun tak kalah panas, yaitu terukur 35 derajat selsius.

Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum terjadi antara 34,7-35 derajat selsius. Sedangkan suhu maksimum saat musim kemarau biasanya di bawah itu. Di Jakarta misalnya, suhu udara saat kemarau ada pada rentang 32-36 derajat selsius.

Saat peralihan musim ini, suhu di kawasan kota besar umumnya memiliki suhu lebih panas dibandingkan bukan wilayah perkotaan. Sedangkan suhu udara yang panas akan jauh lebih terasa saat siang hari menjelang hujan. Itu karena udara lembap melepas panas laten dan panas sensibel yang menambah panasnya udara akibat pemanasan permukaan oleh radiasi matahari.

Sementara hingga pertengahan Mei, tercatat 35 persen wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Di antaranya sebagian besar wilayah NTT, NTB, sebagian Jawa Timur bagian selatan, sebagian Jawa Tengah bagian utara dan timur, sebagian Jawa Barat bagian utara dan timur, Jakarta bagian utara, serta sebagian daerah Papua dan Maluku.

Sudah tahu kan kenapa suhu udara terasa panas dan bikin gerah? Jadi, enggak perlu panik ya. Namun, kamu harus menjaga kesehatan agar tak terkena dampak negatif dari suhu panas yang ada.

"Masyarakat diimbau tidak panik dengan suasana gerah yang terjadi, tetapi tetap perlu menjaga kesehatan dan stamina sehingga tidak terjadi dehidrasi dan iritasi kulit," tutur Tony.

Ia pun menyarankan agar warga banyak minum, makan buah segar, dan makanan bergizi lainnya. Penggunaan tabir surya juga direkomendasikan saat kamu berada di luar ruangan. Namun, karena pandemi virus corona atau COVID-19 belum berakhir, sebaiknya kamu lebih banyak #DiRumahAja ya.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Tomek Baginski
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler