Situs Purbakala Era Mataram Kuno Abad IX Ditemukan di Malang

Malang - Berbagai penemuan situs purbakala kerap ditemukan di wilayah Malang. Salah satu yang paling baru yakni sebuah situs yang diduga merupakan peninggalan pada era sebelum kerajaan Singhasari atau Singosari.

Situs yang diduga objek Cagar Budaya budaya tersebut berupa struktur bata kuno berukuran panjang 38 cm dengan lebar 28 cm dan tinggi 10 cm, dan berada di atas lahan milik warga di Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

"Selain struktur bata kuna di lahan ini terdapat banyak sebaran pecahan keramik dan gerabah," kata Ketua Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM), Restu Respati selepas meninjau lokasi bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, belum lama ini.

Menurut analisis tim peninjauan situs tersebut, ukuran bata kuno yang ditemukan mencerminkan bahwa bangunan ini telah ada sebelum masa Singhasari.

"Kemungkinan pada masa Mataram Kuno, yaitu pada masa Mpu Sindok sewaktu berpindah dari Jawa Tengah ke Malang Jawa Timur pada abad sembilan hingga sepuluh," sambung Restu.



Baca Ini Juga Yuk: Ada Program Sampah Jadi Makanan di Bandung, Seperti Apa Ya?

Semenatara dari bentuk struktur dan penentuan arah mata angin, dugaan awal fungsi bangunan tersebut adalah sebagai bangunan suci yang berorientasi ke arah timur, yaitu menghadap ke Gunung Arjuno.

Selain BPCB Jawa Timur dan Komunitas Jelajah Jejak Malang, kegiatan observasi awal tersebut juga diikuti oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Camat Singosari beserta perangkat dari Kecamatan Singosari, Kepala Desa beserta perangkat dari Desa Langlang, dan warga Desa Langlang beserta pemilik lahan.

"Direncanakan setelah observasi awal ini akan dilanjutkan dengan tahap ekskavasi oleh BPCB Jatim dalam waktu yang tidak terlalu lama," ujar Restu.

Menurut Restu, peninjauan tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari Komunitas JJM pada 13 April 2020 lalu.

"Karena terkendala pandemi COVID-19, maka baru pada tanggal 23 Juli 2020 BPCB Jatim dapat meninjau ke lokasi," tuturnya.

Restu mengatakan, pihaknya mendapat informasi mengenai situs tersebut dari seorang warga yang merupakan mantan kepala desa setempat bernama Akhmad Firdaus pada 7 April 2020 lalu.

Pada tanggal 10 April 2020, bersama Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, Restu meninjau meninjau ke lokasi yang berada di sebuah ladang singkong milik dari Roni.

Di ladang singkong tersebut terdapat banyak pecahan bata kuno, pecahan gerabah dan pecahan keramik.

"Kami meminta bapak Akhmad Firdaus dan warga atas seijin pemilik lahan untuk sedikit mengelupas lapisan tanah. Pada kedalaman tanah 10 cm hingga 20 cm sudah tampak adanya struktur bata kuna," ucap Restu.

Selain menemukan bata kuno, Restu dan tim juga menemukan batu lumping yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi struktur bata kuo.

"Batu lumpang berada di lokasi ladang singkong. Batu lumpang tersebut berukuran diameter 70 cm dan tinggi 45 cm. Lobang ceruk batu lumpang diameter 20 cm dengan kedalaman 15 cm," tandasnya,

Bentuk batu lumpang tersebut, menurutnya, tidak bulat silinder. Pada permukaan atas terdapat batu dakon dengan 12 lubang.

Sedangkan di sisi kanan kiri lubang ceruk terdapat masing-masing dua sayatan batu gores. Ada cerat air yang mengarah ke luar dari lobang ceruk. Lalu pada salah satu sisi samping batu lumpang seolah berbentuk kepala hewan.

Foto: dok. Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM)

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler