Memutus Mata Rantai COVID-19 dengan Gerakan Perempuan di Malang

Malang - Perempuan disebut-sebut memiliki potensi besar dalam gerakan masif memutus mata rantai penyebaran COVID-19 khususnya di Kota Malang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan dr. Mariya Mubarika saat beraudiensi dengan Wali Kota Malang Sutiaji di ruang rapat Wali Kota Malang, belum lama ini.

Menurut Mariya, hambatan terbesar dalam memutus mata rantai COVID-19 selama ini adalah rendahnya kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat.

"Hal yang mendasar adalah penggunaan masker, karena ini adalah pelindung atau penjaga pertama dari paparan COVID-19," ujarnya.  
Meski masing-masing pemerintah daerah telah gencar meluncurkan program pembagian masker atau bahkan menggelar operasi penggunaan masker, namun, menurut Mariya, masih saja banyak ditemukan masyarakat yang tidak disiplin memakai masker.

"Masker sudah dibagi, setelahnya ya tidak dipakai. Ini faktor, kepatuhan, kedisiplinan dan kebiasaan. Inilah yang akan kita bangun dalam sebuah gerakan masif yang melibatkan ibu-ibu," tandasnya.



Baca Ini Juga Yuk: Pemkot Malang Siapkan Rp3 Miliar untuk Beasiswa

Mariya menegaskan bahwa kota Malang memiliki potensi yang kuat, terutama dilihat dari geliat prestasi Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Malang selama ini.

Dalam gerakan memutus mata rantai COVID-19 tersebut, Mariya menegaskan, perlu langkah-langkah extra ordinary dan hal tersebut bisa dimulai dari peran seorang perempuan, terutama ibu.

Menurutnya, melihat fakta di keseharian, ibu memegang peranan penting dalam setiap aktivitas suami dan anak anak, termasuk dalam menyiapkan peralatan "tempur" dalam kondisi pandemi seperti ini. Mulai dari masker, sarung tangan, dan hand sanitizer.


Ibu juga mampu menduduki peran yang vital sebagai pengingat keluarganya untuk selalu menggunakan masker dan menyiapkan masker sebelum anggota keluarganya beraktivitas di luar rumah.

Hal-hal tersebut yang menjadi inspirasi gerakan perempuan Indonesia untuk menegakkan penggunaan masker di masyarakat, dimulai dari komunitas terkecil bernama keluarga.

"Kami (Kemenkes) ingin, ini dipelopori dari kota Malang. Ada gerakan dari ibu-ibu untuk melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker bahkan menyiapkan masker untuk keluarganya, sosialisasi untuk jaga jarak dan rajin cuci tangan," kata Mariya.

"Kota Malang menjadi salah satu pionir gerakan yang multi-level. Maka PKK jadi pilar penting dalam memutus mata rantai pandemi virus korona ini," sambungnya.

Gayung bersambut, apa yang diinginkan oleh Kemenkes tersebut direspon antusias oleh Wali Kota Malang, Sutiaji. Menurutnya, dengan gerakan perempuan melalui PKK, Sutiaji yakin penegakan protokol kesehatan bisa dilakukan sebab jejaring PKK di Kota Malang sudah sampai di akar rumput.

"PKK Kota Malang selama ini senantiasa di garis depan untuk support program-program Pemkot Malang. Seperti pendataan kesehatan bayi hingga lansia. PKK pula yang mempelopori urban farming sehingga memperoleh penghargaan nasional. Bahkan hingga mendorong kinerja perpajakan," ungkap Sutiaji

Foto: dok. Humas Pemkot Malang 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler