'Si Ceper' Penghuni Baru Kebun Binatang Bandung

Bandung - TemanBaik, Kebun Binatang Bandung punya penghuni baru nih, yaitu dua kura-kura 'ceper' atau Cyclemys dentata. Dua kura-kura ini menetas pada 15 Mei 2020 lalu dari proses kehamilan dan penetasan alami. Simak ulasannya, yuk!

"Induknya bertelur tiga, dari tiga itu dua di antaranya berhasil menetas, satu lagi gagal menetas," kata Kurator Kebun Binatang Bandung Panji Ahmad, Sabtu (1/8/2020).

Di lokasi, sebelumnya sudah ada 17 ekor kura-kura ceper. Dengan hadirnya dua anak kura-kura ini, otomatis koleksi kura-kura ceper di menjadi 19 ekor. Berhasil menetasnya dua ekor kura-kura ini adalah yang pertama dalam 3 tahun terakhir.



Keunikan
Kura-kura ceper ini terdapat di berbagai negara Asia. Selain di Indonesia, kura-kura ini hidup di Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, dan Vietnam.

"Di Indonesia, ada empat pulau utama yang jadi tempat populasinya, yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali," ucap Panji.

Kura-kura ini hidup di habitat berupa sungai dangkal, kolam, atau rawa. Untuk makanannya, kura-kura ini mengonsumsi tumbuhan, ikan, serangga, cacing, hingga bangkai.

Secara umum, kura-kura ceper belum masuk kategori dilindungi. Namun, belum ada angka pasti berapa populasinya saat ini di Indonesia. Sebab, belum ada penelitian atau pendataan khusus.



Baca Ini Juga Yuk: Mengurangi Potensi Penyebaran COVID-19 dengan Empati

Meski begitu, populasinya cukup terancam. Sebab, kura-kura ceper kerap dijadikan koleksi atau peliharaan. Bahkan, kura-kura ini juga dijadikan santapan di beberapa daerah di Indonesia.

Kebun Binatang Bandung pun sengaja mengoleksi kura-kura ceper agar bisa dilestarikan. Sebab, jika semakin banyak diburu di alam untuk dijadikan peliharaan atau dikonsumsi, secara perlahan populasinya akan terancam.

Lalu, apa sih yang unik dari kura-kura ceper ini? Sesuai namanya, kura-kura ini tergolong pendek alias 'ceper'. Sehingga, nama kura-kura ceper disematkan.

"Keunikannya lainnya, karapas (cangkangnya) berbentuk bulat berwarna coklat. Di karapasnya itu ada semacam motif seperti kayu yang tidak akan hilang setelah dewasa," tutur Panji.

Setelah menetas, anak kura-kura ceper akan lebih banyak menghabiskan hidupnya di air untuk menghindari pemangsa. Setelah dewasa, sesekali mereka akan ke daratan, terutama di hutan. Warna cangkang coklat pun membantu dalam proses penyamaran.

"Warna coklat ini jadi kamuflase karena di (daratan) hutan kan banyak daun dan benda lain yang berwarna coklat. Jadi akan lebih sulit dikenali predator," ujar Panji.

Keunikan lainnya, saat masih kecil, cangkang kura-kura ceper bagian belakangnya berbentuk semacam duri. Hal ini jadi senjata menghindari predator. Namun, saat dewasa, bagian berduri dari cangkangnya akan hilang dan bentuk cangkang bakal lebih bulat.

"Untuk pertumbuhannya, kura-kura ini bisa tumbuh dengan panjang maksimal antara 21-25 sentimeter dan beratnya paling gede 1,5 kilogram," jelasnya.



Dibuatkan Inkubator Alami
Kebun Binatang Bandung sendiri sengaja mengembangbiakkan kura-kura ceper ini. Agar bisa bertelur dan telurnya menetas, area kandang dibuat jadi semacam inkubator alami. Sebisa mungkin kondisi kandang dipoles agar seperti habitat mereka di alam, mulai dari adanya pasir hingga tempat untuk bertelur.

"Ketika bertelur kita juga biarkan telurnya tetap ada di kandang sampai menetas. Jadi proses bertelur sampai penetasannya berlangsung secara alami," papar Panji.

Namun, demi menjaga agar dua anak kura-kura itu bisa tumbuh dengan baik, mereka kemudian dikeluarkan dari kandang. Keduanya ditempatkan di kandang khusus dan mendapat perawatan khusus.

"Kami khawatir kura-kura ini tidak cukup makan atau ada kendala lain. Sehingga kami pisahkan untuk memastikan bisa terjaga dengan baik," pungkas Panji.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler