Kerajinan Tutul Jember Menembus Pasar Internasional

Jember - TemanBaik, tentu tahu kan Indonesia punya banyak ragam produk berkualitas? Bahkan, banyak loh produk yang sudah diekspor dan dipasarkan di luar negeri.

Salah satu daerah yang cukup banyak mengekspor produk adalah Desa Tutul, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember. Apa yang dihasilkan dari desa ini?

Di Desa Tutul ini cukup banyak perajin aksesoris. Dari 9.989 warga di Desa Tutul, lebih dari 1.000 orang berprofesi sebagai perajin. Mereka memproduksi beragam aksesoris, terutama kayu yang diolah menjadi tasbih, gelang, kalung, cangklong rokok, dan lain-lain.

Melansir laman Indonesia.go.id, pembuatan kerajinan atau aksesoris di Desa Tutul dimulai pada 1970-an. Semula, warga desa banyak menemukan tumpukan kayu yang hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Karena tumpukan kayu itu banyak, akhirnya ada yang memanfaatkan dengan mengolahnya menjadi produk kreatif.

Awalnya, aksesoris yang dibuat adalah gelang dan tasbih. Setelah dipasarkan, sambutan dari pasar tergolong bagus. Dari situ, warga lain kemudian ikut memanfaatkan sisa dan tumpukan kayu yang ada menjadi aksesoris.

Dalam perkembangannya, warga pun membuat kerajinan berbahan kayu menjadi sendok, garpu, piring, nampan, mangkuk, cangkir, hingga spatula. Hal itu terus berkembang hingga akhirnya produk dari Desa Tutul secara perlahan mampu menembus pasar ekspor seperti Arab Saudi, Australia, Amerika, Eropa, serta berbagai negara lain, termasuk di Asia.

Untuk bisa menembus pasar internasional, semula kerajinan itu dipasarkan di Bali. Namun, sejak sekitar 2010, pesanan akhirnya berdatangan langsung ke Desa Tutul untuk dikirim ke luar negeri.

Hasilkan Ratusan Juta Sebulan

Produk dari Desa Tutul yang menembus pangsa pasar luar negeri ini pun memberi berkah tersendiri. Warga memiliki penghasilan yang menggiurkan.

Ida Giawati misalnya, ia merintis usaha kerajinan sejak 2001. Ia membuat aneka aksesoris berbahan kayu berbentuk tasbih, kalung, cincin, slongsong kris, pipa rokok, hingga peralatan dapur.

Saat awal merintis usaha, ia memiliki tiga pekerja. Namun, kini ia memiliki 20 pekerja. Mereka membantunya mengerjakan pembuatan aksesoris untuk dikirim ke Pakistan, Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan Korea. Sebulan, ia bisa meraup omzet hingga Rp150 juta.

Yono, perajin lainnya, juga bisa menembus omzet Rp120 juta dalam sebulan. Ia memiliki usaha aksesoris sama seperti Ida, namun tak punya pekerja tetap. Pesanan yang datang padanya dilimpahkan ke warga di Desa Tutul. "Ada 40 orang warga yang ikut membantu saya," tutur Yono.

Nah, saking produktifnya warga di Desa Tutul ini derngan kegiatan ekonominya, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era Muhaimin Iskandar menobatkan Desa Tutul sebagai salah satu dari 132 desa produktif di Indonesia.

Karena produktivitasnya, di desa ini tingkat pengangguran bisa diminimalisir. Bahkan, tingkat imigrasi warga pun minim. Itu karena lapangan pekerjaan menjadi sangat terbuka di sana.

Foto: istimewa (Indonesia.go.id)



Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler