Rahasia Kesabaran ala Petugas Pemadam Bandung

Bandung - TemanBaik, apa yang terlintas di benakmu jika mendengar nama petugas pemadam kebakaran? Tentu mayoritas akan terbayang kemampuan hebatnya dalam menjinakkan api serta menangani beragam bencana.

Mereka memiliki gerakan yang cekatan, pantang menyerah, ulet, dan teliti saat bertugas. Prinsipnya, saat bertugas, mereka akan berusaha mempercepat penanganan, meminimalisir kerugian di lokasi bencanan hingga tentunya mencegah ada korban jiwa.

Namun, ada hal lain yang perlu dimiliki dari petugas pemadam kebakaran di balik kemampuan teknisnya, terutama di Kota Bandung. Hal yang dimaksud adalah kesabaran. Kenapa ya? Simak ulasannya, yuk!

Dalam memadamkan kebakaran, tentu butuh kesabaran ekstra. Begitu juga saat menanggulangi bencana atau peristiwa lain. Sebab, waktu bertugas mereka tak tentu dan terkadang mereka harus rela mengorbankan waktu istirahatnya. Ancaman dan bahaya pun jelas ada di depan mata.

Tak hanya bagi petugas lapangan, kesabaran juga perlu dimiliki petugas pemadam kebakaran yang kebetulan bertugas menerima telepon pengaduan. Sebab, saluran telepon yang ada kerap dijadikan sarana main-main, terutama oleh anak-anak.

Dalam sehari, rata-rata ada 150-200 telepon fiktif yang masuk. Mereka yang menelepon melaporkan kebakaran atau bencana lainnya. Namun, laporan itu hanya bohong belaka.

Baca Ini Juga Yuk: #merahputihchallenge, Peringati Kemerdekaan Lewat Media Sosial

Jika sekali-dua kali, kamu mungkin akan maklum saat ada pelaporan fiktif atau sekadar bercanda. Namun, jika sudah mencapai ratusan kali telepon, bisakah TemanBaik bersabar? Apalagi, setiap telepon yang masuk wajib dijawab dengan baik dan itu belum tahu apakah laporan benar atau sekadar main-main.

Namun, karena sudah terbiasa dengan ratusan telepon fiktif dan main-main, petugas pemadam kebakaran akhirnya terbiasa. Tapi, bukan karena itu saja mereka terbiasa.

Menurut Kabid Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana Diskar PB Kota Bandung Sihar Sitinjak, ada klasifikasi khusus yang diperlukan petugas pemadam. Sehingga, proses penerimaan atau rekrutmen petugas berlangsung ketat. Salah satunya, calon petugas harus memiliki tingkat kesabaran tinggi.

"Saat penerimaan kita melakukan psikotes untuk mengukur bagaimana kesabaran mereka," kata Sihar.

Hasil tes itu jadi salah satu acuan untuk menerima pelamar yang ingin jadi petugas pemadam. Setelah diterima, mereka akan digembleng dengan pendidikan keras yang menguras tenaga, emosi, hingga melatih kesabaran.

Dengan cara itulah petugas pemadam memiliki mental tangguh. Hal itu ditopang dengan kemampuan fisik mumpuni. Sehingga, fisik dan mental jadi satu kesatuan utuh yang dimiliki petugas pemadam.

Namun, tak cukup hanya dengan sekali psikotes dan pelatihan untuk mengembleng mental petugas pemadam. Kontinyuitas tetap diberlakukan. Mereka akan menjalani pelatihan secara berkala. Tujuannya untuk terus melatih keterampilan mereka, termasuk melatih kesabaran.

"Jadi begitu sudah masuk itu kita akan pelatihan terus (secara berkala)," jelas Sihar.

Bahkan, tak ada waktu untuk leha-leha bagi petugas Diskar PB. Jadi, jangan dianggap kalau engak ada kejadian bencana mereka akan santai-santai saja ya! Mereka harus berlatih agar kemampuannya terasah. Sebab, jika hanya mempelajari teori, kemampuan mereka tidak akan matang.

Sebagai contoh, saat musim kemarau, para petugas Diskar PB akan berlatih untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana musim hujan. Salah satunya, mereka akan berlatih menyelam dan evakuasi saat banjir. Tujuannya agar saat bencana di musim hujan terjadi, petugas sudah siap tempur dan kemampuannya masih 'hangat'.

Di saat yang sama, mereka harus tetap siapa kapan saja meluncur ke lokasi bencana. Sebab, Kota Bandung tidak memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tugas yang di tempat lain dijalankan BPBD, di Kota Bandung dilakukan oleh Diskar PB.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler