Warnet Gratis ala Imam & Semangat Siswa di Balik PJJ

Bandung - TemanBaik, saat ini kegiatan belajar sekolah masih menerapkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena masih dalam suasana pandemi COVID-19. Tentu bukan hal mudah untuk menjalaninya.

Di satu sisi, hal ini membuat orang tua harus menjamin kuota untuk mengikuti PJJ. Namun, tak semua orang tua punya kemampuan untuk menyediakan kuota. Bagi sebagian orang tua, saat ini bahkan ada yang harus 'berebut' antara membeli kuota dengan kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, siswa juga rentan mengalami kejenuhan. Sebab, mereka hanya hanya bisa belajar di rumah dengan didampingi orang tua. Tak ada keseruan hingga interaksi seperti suasana di kelas.

Hal itu memantik kepedulian Imam Sumantri (45), warga yang tinggal di Jalan Turangga Timur, Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Batununggal. Sejak pertengahan Maret 2020, ia menjadikan rumahnya sebagai warung internet (warnet) gratis.

Imam sendiri memiliki warung dan menjual peralatan listrik di rumahnya. Di masa awal-awal pemberlakuan metode PJJ bagi siswa, ia banyak menerima curahan hati para orang tua siswa yang berbelanja ke warungnya.

"Waktu itu ada yang beli lampu, dia cerita anggaran belanja sekarang harus kepotong karena harus beli kuota buat anak sekolah. Saya kepikir waktu itu, wah, ini mulai jadi masalah nih internet," kata Imam kepada BeritaBaik.id.

Setelah itu, beberapa warga yang berbelanja ke warungnya juga mengungkap beragam keluhan. Salah satunya ada orang tua yang memilik tiga anak yang masih sekolah, tapi hanya satu gawai yang dimiliki. Mereka jelas harus berbagi dan kebutuhan kuota pun terbagi tiga.


Baca Ini Juga Yuk: Kehebatan Bio Farma & Optimisme Jokowi soal Vaksin COVID-19

Mendengar beragam keluhan itu, Imam merasa terpanggil melakukan sesuatu. Karena memiliki dua jaringan internet di rumah, ia memutuskan untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar dengan menyediakan internet gratis.

Beberapa siswa yang merupakan warga sekitar akhirnya memilih belajar di rumah Imam. Bahkan, ada yang sengaja datang dari daerah lain untuk menikmati fasilitas di sana. Protokol kesehatan pun dijalankan. Bahkan, Imam menyediakan masker, hand sanitizer, hingga face shield atau pelindung wajah bagi siswa secara gratis. Ia juga memberikan fasilitas printer gratis bagi yang ingin mencetak tugas. Komputer yang dimiliki pun bisa digunakan jika dibutuhkan.

Dengan jumlah paling banyak 10 siswa, kegiatan belajar di dalam rumah itu pun berlangsung. Bahkan, secara perlahan semakin banyak yang berdatangan ke rumah Imam untuk ikut belajar dan menikmati fasilitas internet gratis. Jumlahnya mencapai puluhan setiap harinya.

Demi meminimalisir kerumunan, akhirnya hanya bisa beberapa orang saja yang belajar di dalam rumah. Namun, mereka yang tak kebagian tempat bisa tetap menikmati internet gratis. Caranya, mereka datang untuk mengunduh tugas. Setelah itu, mereka pulang dan mengerjakannya di rumah. Begitu tugas selesai dan harus diunduh, mereka akan kembali ke rumah Imam untuk memanfaatkan internet gratis.

Seiring berjalannya waktu, para siswa yang datang bisa belajar lebih leluasa. Sebab, tetangga Imam merelakan teras rumahnya dijadikan tempat belajar siswa. Namun, di lokasi hanya memiliki kapasitas empat hingga enam orang agar bisa tetap menjalankan protokol kesehatan, terutama agar siswa saling berjarak satu sama lain.

Agar bisa menampung banyak orang, dalam sehari ia membagi waktu tempat belajar itu menjadi beberapa sesi. Sehingga, siswa dari berbagai tingkatan bisa menikmati fasilitas yang ada. Dengan modal pribadi seadanya, ia berusaha membuat siswa nyaman, salah satunya membuat meja belajar.



Ikut Membantu Belajar
Imam sendiri tak hanya menyediakan fasilitas pendukung bagi belajar siswa. Bersama sang istri, keduanya kerap membantu siswa agar bisa mengerjakan tugas sesuai instruksi guru masing-masing. Imam dan sang istri kerap bergiliran. Saat salah seorang menjaga warung, yang lainnya menemani dan membantu siswa belajar.

"Alhamdulillah anak-anak banyak yang nilainya 100 (saat diberikan tugas oleh guru)," ungkap Imam.

Ia sama sekali tak keberatan memberikan beragam fasilitas, termasuk meluangkan waktu menemani dan membantu siswa belajar. Ia memandang apa yang dilakukannya sebagai jalan berbuat kebaikan.

Imam bahkan menemukan kebahagiaan tersendiri dengan #AksiBaik yang dilakukannya. Apalagi ketika melihat semangat siswa yang begitu semangat belajar.

"Target saya anak-anak ini tugas sekolahnya bisa terselesaikan dengan baik. Apalagi mereka semangatnya kelihatan sekali bisa belajar di sini," tuturnya.

Dengan apa yang dilakukannya, Imam seolah menjadi orang tua bagi para siswa tersebut. Akhirnya, ia pun menjadi lebih dekat dengan mereka. Sehingga, ia kini seolah mendadak memiliki banyak anak yang disayangi seperti anaknya sendiri.

Menebus Kesalahan Masa Lalu
Di balik #AksiBaiknya, Imam lalu bercerita alasan besarnya. Pernah bekerja di salah satu BUMN sebelum menikah, ia mengaku dulu kerap menerima uang 'pelicin'. Namun, Imam kemudian sadar dan berusaha memperbaiki diri, terutama setelah menikah dan dikaruniai anak.

"Dulu saya banyak dapat uang haram. Dengan cara berpikir seperti itu, saya berniat menebus kesalahan saya (dengan berbuat baik kepada orang lain)," ungkap Imam.

Ia sendiri mengaku berusaha memperbaiki secara bertahap dari waktu ke waktu. Warnet gratis itu pun jadi salah satu caranya berbuat baik. Prinsipnya, apa yang bisa dilakukan bakal dilakukan Imam demi menebus kesalahannya.

Baca Ini Juga Yuk: #merahputihchallenge, Peringati Kemerdekaan Lewat Media Sosial

Bahkan, dari warnet gratis itu, ia memiliki mimpi besar. Ia ingin para siswa yang memanfaatkan beragam fasilitas belajar darinya bisa menjadi orang hebat. Hal yang tak kalah penting, mereka diharapkan menjadi orang baik.

"Saya ingin anak-anak ini lebih pintar dari saya, jangan punya mental lebih jelek dari saya. Sederhana saja, saya mampunya melakukan ini, saya lakukan semampu saya," tutur Imam.

Imam sendiri harus membayar lebih dari Rp300 ribu setiap bulannya untuk jaringan internet. Di luar itu, biaya lain juga dikeluarkan mandiri, misalnya face shield, printer lengkap dengan tinta dan kertas, hingga hand sanitizer. Bahkan, ada printer yang akhirnya rusak karena begitu sering dipakai.

Namun, hal itu tak masalah baginya. Ia bahkan mengaku tak mau menerima donasi atau sumbangan dari orang lain. Kalaupun ada yang ingin membantu untuk kegiatan belajar di lokasi, ia lebih memilih menerima dalam bentuk barang.

Sisi baiknya, apa yang dilakukan Imam ini justru memantik warga lain di sekitar rumahnya. Ada beberapa warga lain yang terinspirasi dan menyediakan fasilitas internet gratis bagi siswa.



Siswa Senang, Orang Tua Terbantu
Saat BeritaBaik.id berkunjung ke lokasi warnet gratis Imam, Selasa (11/8/2020), para siswa SD terlihat begitu serius mengerjakan tugas. Sesekali, mereka melihat ke arah layar gawai yang dipegang dengan tangan kiri untuk melihat tugas atau soal yang diberikan guru.

Imam atau sang istri yang kebetulan sedang menemani mereka juga kerap menghampiri. Seolah pada anaknya sendiri, mereka bertanya apa kesulitan yang dihadapi dalam mengerjakan tugas. Sesekali, arahan diberikan dan mengecek yang dikerjakan siswa agar mereka bisa mengerjakannya dengan baik.

Tak jarang, Imam maupun sang istri memotret atau merekam video kegiatan belajar siswa sesuai instruksi guru. Selain Imam dan istrinya, biasanya ada juga orang tua siswa yang ada di lokasi untuk memantau dan membantu anaknya belajar.

Setelah kegiatan belajar selesai, para siswa itu biasanya berbincang untuk melepas penat. Hal itu tentu jadi hal langka di masa pandemi. Sebab, selama pandemi, siswa tak pernah bertemu temannya di kelas.

Bisa bertemu teman pun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi siswa. Sebab, mereka tak lagi merasa sendirian saat belajar. Meski hanya bertemu beberapa orang saja, hal itu cukup mengobati rasa kangen mereka pada suasana kelas dan tentunya teman-teman.

"Lebih enak belajar di sini daripada di rumah. Kalau di sini ada temannya, kalau di rumah sendirian," ujar Intan Chairunnisa (9), salah seorang siswi.

Selain itu, dari koneksi internet juga terasa lebih nyaman baginya belajar di sana. Sebab, koneksinya jauh lebih 'ngebut' daripada mengandalkan koneksi langsung dari gawai saat berada di rumah.

"Ngerjainnya tugasnya juga lebih gampang karena suka dibantuin (oleh Imam dan istrinya)," ucap Intan.

Siswi kelas 3 itu pun mengungkap rasa kangennya pada suasa belajar di sekolah. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Selain karena kebijakan pemerintah, metode PJJ akan lebih aman.

"Kangen ketemu teman-teman, kangen ketemu bu guru. Sampai sekarang belum pernah ketemu, kecuali yang dekat di rumah," ujar Intan.

Sementara itu, Maelani Latifah (30), orang tua siswa, mengaku merasa terbantu dengan adanya beragam fasilitas yang disediakan Imam. Bahkan, ia merasa terbantu secara ganda.

Sebab, ia memiliki dua anak, satu kelas 3 SD dan satu lagi TK. Waktu belajar mereka pun sama di pagi hari. Di satu sisi, anaknya yang kelas 3 belajar di warnet gratis. Sesekali, Maelani datang ke lokasi untuk memantau dan membantu anaknya belajar.

Namun, saat harus menemani anaknya yang TK belajar, Maelani memercayakan kegiatan belajar anaknya yang kelas 3 SD pada Imam dan istrinya. Sehingga, ia bisa merasa aman dan nyaman. Sebab, kegiatan belajar dua anaknya bisa berjalan lancar.

"Anak saya belajar di sini dari awal pandemi (Maret). Lebih nyaman di sini karena anaknya juga belajar lebih semangat. Kalau di rumah kurang semangat. Di sini juga lebih meringankan buat saya," papar Maelani.

Di rumah, otomatis ia harus membeli kuota internet untuk dua anaknya. Setidaknya, butuh minimal Rp70 ribu untuk membeli kuota bagi mereka. Itu di luar pemakaian normal. Di tengah kondisi ekonominya saat ini, keberadaan warnet gratis ala Imam jelas cukup membantu meringankannya.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler