Cerita Jumono Mengajak Teman Daksa Tur Naik Sepeda Motor

TemanBaik, saat ini disabilitas dari kalangan teman Daksa bisa bepergian dengan mudah ke mana pun mereka mau. Salah satunya karena kini tergolong cukup banyak bengkel yang bisa memodifikasi sepeda motor.

Sepeda motor yang umumnya memiliki dua roda, bisa dimodifikasi hingga menjadi tiga roda, dengan rincian satu di depan dan dua di belakang. Sepeda motor seperti ini sangat berguna untuk menopang aktivitas teman Daksa agar bisa pergi ke tempat yang mereka ingin tuju.

Namun, kondisi ini tentu berbeda jika dibandingkan beberapa tahun lalu, tepatnya hingga kurun tahun 2000-an awal. Sangat sulit menemukan bengkel yang bisa memodifikasi sepeda motor khusus bagi disabilitas.

Hal ini pernah dialami Jumono, teman Daksa asal Bandung. Dulu, ia kerap beraktivitas ke mana-mana menggunakan kursi roda. Bahkan, ia harus menempuh jarak hingga belasan dan puluhan kilometer ke tempat tujuan dengan kursi roda. Selain tak punya sepeda motor roda tiga, saat itu akses kendaraan umum belum ramah bagi penyandang disabilitas.

"Sampai 2008 saya ke mana-mana harus naik kursi roda karena naik angkutan umum sangat kesulitan. Itu karena di Bandung saat itu angkutan umum belum memadai untuk bisa digunakan difabel dengan aman, nyaman, dan mandiri," ujar Jumono kepada BeritaBaik.id.



Hingga akhirnya, ia memiliki sepeda motor roda tiga pada tahun 2008. Meski bekas, kebetulan sepeda motor itu sudah dimodifikasi dan memiliki tiga roda. Ia pun melakukan modifikasi tambahan agar sepeda motornya memiliki tempat untuk menyimpan kursi roda.

Baca Ini Juga Yuk: Ini yang Berbeda Jika Bioskop Kembali Dibuka

Jumono sendiri kehilangan kedua kaki akibat penyempitan pembuluh darah yang berujung harus diamputasi. Karena itu, ia lebih banyak menggunakan kursi roda dalam beraktivitas. Setelah memiliki sepeda motor pun, ia kerap membawa kursi rodanya yang disimpan tepat di area belakang jok. Begitu sampai di tujuan, ia akan turun dari motor dan beralih menggunakan kursi roda.

Dengan memiliki sepeda motor, ia jelas bisa lebih menghemat waktu saat bepergian. Tenaga juga tak terkuras seperti menggunakan kursi hingga berjam-jam menuju tempat tujuan.

"Hal yang saya rasakan, sepeda motor ini sangat membantu untuk mobilitas saya," ucap Jumono.



Membentuk Komunitas
Sadar akan manfaat sepeda motor roda tiga miliknya, Jumono justru tertarik untuk menyebarkan informasi, terutama kepada sesama disabilitas. Ia pun kerap memberikan informasi di mana bengkel yang bisa memodifikasi sepeda motor agar memiliki tiga roda.

Akhirnya, setelah semakin banyak rekan-rekannya yang memiliki sepeda motor roda tiga, Jumono menggagas sebuah komunitas yang diberi nama Motor Difabel atau disingkat Modif.

"Saya mendirikan Modif ini tahun 2010 dan saya jadi ketua pertama yang ditunjuk sama teman-teman," kata Jumono.

Di awal berdirinya Modif, diakuinya tak mudah untuk mengumpulkan anggota meski banyak teman Daksa yang memiliki sepeda motor roda tiga. Bahkan, dalam peresmian lahirnya Modif di Indramayu, hanya sekitar 21 orang yang hadir. "21 orang itu juga susah ngumpulinnya," cetusnya.

Sulitnya menjaring anggota dikarenakan kegiatan komunitas sepeda motor identik biasanya dengan tur jarak jauh. Hal itu belum terbiasa dilakukan teman Daksa dengan sepeda motor roda tiganya.

Namun, dengan jumlah anggota seadanya, Modif akhirnya tetap berjalan. Beragam kegiatan dilakukan, mulai dari sekadar nongkrong di Kota Bandung hingga tur ke luar kota. Beberapa daerah di Jawa Barat pun sudah dikunjungi.

Hal itu berdampak positif. Semakin banyak teman Daksa yang tertarik menggunakan sepeda motor roda tiga, termasuk bergabung jadi bagian Modif.

"Sekarang anggota Modif ini sudah lebih dari 60 orang dan tersebar di beberapa daerah (di Jawa Barat) karena kita membentuk chapter," ungkap Jumono.

Melalui kegiatan di Modif, para teman Daksa pun akhirnya bisa menemukan berbagai hal. Mereka bisa mendapatkan kesenangan karena memiliki teman senasib dan satu hobi. Di saat yang sama, sesama anggota pun semakin dekat satu sama lain dan sudah seperti keluarga sendiri.

Secara tidak langsung, ragam aktivitas yang dilakukan Modif pun menjadi bukti kepada masyarakat. Intinya, disabilitas bisa melakukan hal apapun, termasuk tur menggunakan sepeda motor yang mungkin selama ini tak terpikirkan oleh orang banyak.

Di sisi lain, kehadiran Modif juga jadi sarana edukasi dan memperjuangkan hak disabilitas, terutama teman Daksa. "Di sini kita juga memperkuat soliditas dalam satu pandangan bahwa banyak yang harus kita lakukan," tutur Jumono.

Kini, Jumono dan rekan-rekannya berencana melakukan tur dari Bandung menuju Istana Merdeka bersama NPCI Kota Bandung. Semula, kegiatan ini direncakan digelar pertengahan Agustus ini, tapi terkendala perizinan karena masih pandemi COVID-19. Kegiatan ini akhirnya terpaksa diundur dan diharapkan bisa digelar dalam beberapa waktu ke depan.

Foto: Jumono/Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler