Mengenal Happy Hypoxia, Gejala dan Pencegahannya

TemanBaik, belakangan ini istilah happy hypoxia menjadi populer di tengah pandemi COVID-19. Biar kamu enggak gagal paham, simak ulasannya, yuk!

Bandung - Happy hypoxia adalah keadaan di mana darah seseorang mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini terjadi pada beberapa pasien COVID-19. Jadi, enggak semua pasien COVID-19 mengalami happy hypoxia, ya.

Normalnya, mereka yang kekurangan oksigen dalam darahnya akan otomatis merasakan sesak. Sebab, ada sinyal yang diberikan pada otak saat darah kekurangan oksigen.

"Normalnya kalau terjadi kekurangan oksigen, biasanya akan ada sinyal ke otak 'mengatakan' tubuh kekurangan oksigen. Otak biasanya akan memberi perintah kepada tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan cara orang bernapas cepat. Sehingga akan terlihat sesak," kata dokter spesialis par RS Persahabatan Erlina Burhan.

Pada mereka yang mengalami happy hypoxia, 'sinyal' ke otak justru tidak diterima. Sehingga, tubuh tidak melakukan respon otomatis berupa bernapas cepat atau sesak meski darah kekurangan oksigen.

Namun, di saat bersamaan, pasien akan merasakan lemas yang semakin parah dari waktu ke waktu. Sebab, asupan oksigen yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi secara normal. Itu karena berbagai organ tubuh kekurangan oksigen yang harusnya disuplai melalui darah.

Baca Ini Juga Yuk: Masker Scuba Tak Direkomendasikan, Ini Masker yang Tepat

Selain lemas, gejala lainnya adalah batuk yang menetap atau menjadi lebih sering. Kondisi paling parah adalah bibir dan mulut yang membiru. Jika ini terjadi, maka akan sangat berbahaya dan bisa berakibat menurunnya kesadaran.

"Warna bibir atau ujung jari berwarna kebiruan itu artinya saturasi oksigen sudah semakin turun. Ini enggak ada jalan lain, harus dilarikan segera ke rumah sakit," ungkap Erlina.


Foto: dok. BNPB

Namun, ia mengingatkan jangan sampai pasien mengalami gejala bibir atau ujung jari berwarna kebiruan. Ketika tubuh semakin lemas dan batuk menetap, segeralah ke rumah sakit. Di sana, pasien akan ditangani dengan melakukan terapi oksigen.

Tak Diderita OTG
Ini jadi hal yang ditegaskan Erlina. Menurutnya, happy hypoxia hanya dialami mereka yang terjangkit COVID-19 dan memiliki gejala. Sedangkan pada orang tanpa gejala (OTG), meski positif COVID-19, happy hypoxia ini tidak terjadi. Bahkan, mereka yang bukan OTG pun tidak mengalaminya. Happy hypoxia juga tidak menular.

"Biasanya happy hypoxia itu tidak terdapat pada OTG, hanya pada orang yang bergejala. Pada OTG jarang sekali kemungkinan terjadi hapy hypoxia," jelas Erlina.

Mencegah Happy Hypoxia
Cara terhindar dari happy hypoxia ini menurut Erlina mudah kok. Kuncinya adalah hindari potensi tertular COVID-19. Sebab, happy hypoxia ini berpotensi dialami mereka yang terjangkit COVID-19.

"Untuk menghindari happy hypoxia, jangan sakit COVID-19," imbau Erlina.

Langkah pencegahannya pun sudah berkali-kali disosialisasikan pemerintah dan berbagai pihak. Bahkan, kamu pasti sudah mengetahuinya. Yang paling utama adalah menjalankan protokol kesehatan melalui 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Kedua, bisa dilakukan dengan meningkatkan imunitas dengan makan makanan bergizi, istirahat cukup, jangan merokok, kalau perlu konsumsi suplemen atau vitamin," tuturnya.

Erlina juga menegaskan untuk menghindari stres. Sebab, stres akan membuat imunitas menurun. Saat imunitas menurun, potensi terjangki penyakit akan lebih terbuka. Bukan hanya COVID-19, ada berbagai penyakit yang siap menyerang.

"Stres berkepanjangan secara terus-menerus akan memungkinkan penurunan imunitas. Kalau imunitas turun, penyakit apapun bisa terjadi," tandas Erlina.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Cristian Newman
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler