Intip Keseruan Budidaya Tanaman Hias di Pesantren Mahad Toyyiba

Bandung - Sebelum tanaman hias menjadi populer belakangan ini, budidaya tanaman hias ini sudah dilakukan oleh siswa dan pengasuh di Pesantren Mahad Toyyiba Al Islamy sejak tahun 2001. Bagaimana keseruan budidaya tanaman kaktus dan sukulen di sana?

Beritabaik.id punya kesempatan mengunjungi lahan berkebun mereka di Kampung Sukamulya Desa Langensari Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Tiap sore, puluhan siswa pesantren tingkat satu sampai enam bergiliran melakukan pemeliharaan berkala terhadap puluhan jenis tanaman sukulen dan kaktus di kebun ini. Pengasuh Pesantren, Eden Deni Herdani menyebut kendati bukan kegiatan wajib, namun budidaya tanaman hias ini merupakan pengenalan wirausaha kepada siswa-siswi pesantren. Dari proses budidaya ini, diharapkan siswa-siswi jadi termotivasi untuk jadi wirausahawan.

Mayoritas siswa di Pesantren ini disebut oleh Deni berasal dari latar belakang keluarga petani sayuran. Sehingga kegiatan budidaya ini rasanya masih sejalan dengan latar belakang siswa, dan masih familiar bagi dunia para siswa.

“Ada hal yang enggak disadari, yaitu hasil panennya. Panen tanaman hias itu bisa sepuluh kali lipat hasilnya daripada panen sayuran. Di sisi lain, perawatannya pun bisa dilakukan anak-anak tanpa mereka harus berkotor-kotoran,” ujar Deni.

Benar saja. Kegiatan berkebun dilakukan tiap hari oleh para pengasuh, guru, dan murid bahkan di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Dari aspek keuntungan, angka sepuluh kali lipat yang disebut Deni itu bisa terwujud dengan lahan sekitar 20 tumbak. Namun jumlah itu dirasa cukup fantastis karena ia membandingkan penghasilan sepuluh kali lipat tersebut dengan lahan pertanian yang luasnya ratusan tumbak.

Selanjutnya, kami ngobrol seputar metode budidaya tanaman hias di sini. Deni menyebut budidaya tanaman hias di sini menerapkan sistem grafting atau sambung pucuk. Metode ini memungkinkan para siswa menghasilkan banyak jenis tanaman hias. Hasilnya, silakan kamu kunjungi kebun tanaman hias mereka. Di sana, ada ratusan pot tanaman hias dengan puluhan jenis tanaman hias kaktus dan sukulen. Lebih rincinya, ada 80 jenis tanaman sukulen yang dibudidayakan di pesantren ini.

Baca Ini Juga Yuk: Tak Ada Lagi Penyapu Jalan di Bandung, Kenapa Ya?

Dalam satu bulan, tanaman hias tersebut dapat terjual sebanyak 1.000 pot. Harganya pun bervariasi mulai Rp4 ribu hingga Rp100 ribu. Deni menyebut para pembelinya itu datang dari berbagai kota. Pembeli dari Kota Bandung disebutnya sudah enggak perlu ditanya lagi, alias banyak pembeli yang datang ke sini. Ia juga sering kedatangan pembeli dari luar kota Bandung seperti beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, bahkan hingga ke Kalimantan. Mereka juga melayani pembelian via online.

“Pembelian tanaman ini tuh simpel. Bahkan kalau beli online itu lebih simpel. Dibungkusnya lebih aman, dan enggak gampang rusak. Jadi peminatnya masih tinggi walaupun sekarang kan tanaman hias yang selain kaktus atau sukulen nih yang lagi hits,” terang Deni.

Perjalanan 19 tahun membudidaya tanaman hias ini enggak melulu berjalan lancar. Mereka sempat mengalami vakum pada tahun 2007 hingga 2015 karena penjualan tanaman hias dan sukulen mengalami penurunan drastis. Selain itu, kerusakan pada green house juga menjadi penyebab vakumnya budidaya tanaman hias di sana. Mereka baru memulai kembali budidaya ini pada 2016, dan terus berlangsung hingga saat ini.

Keuntungan dari penjualan tanaman hias yang mencapai 1.000 pot per bulan itu diakui Deni banyak dialokasikan untuk keperluan operasional pesantren. Ia menyebut, lewat budidaya ini ia ingin mengubah stigma pesantren menjadi lebih mandiri dan berdaya.

Siswa-siswi Begitu Menikmati

Kami juga sempat menghampiri beberapa siswa yang sedang sibuk memindahkan tanaman dari pot satu ke pot lainnya. Rosyihan Syahid Al Bukhori misalnya. Siswa kelas 2 di Pesantren ini mengaku sangat senang dengan kegiatan bercocok tanam yang dilakukannya saban sore. Ia mengaku sedang kebagian piket hari ini. Ya, perawatan tanaman di kebun ini menggunakan sistem piket juga. Artinya, tiap hari dipilih 4 hingga 5 siswa dari tiap kelas dari satu hingga enam untuk menjalankan jadwal piket, yaitu merawat tanaman.

“Saya sebenernya lebih suka main bola. Tapi, sekarang kan sering hujan, jadi kayaknya lebih seru main sama tanaman deh,” terangnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Salsa. Siswa kelas 1 Pesantren ini mengaku senang bisa merawat tanaman dari mulai bibit atau pucuk hingga menjadi besar dan berjumlah banyak. Kegiatan ini disebutnya sebagai upaya mengisi waktu luang dengan cara yang menyenangkan.

“Seru. Ini tuh kayak arena bermain yang baru dan bermanfaat untuk saya. Mungkin juga untuk teman-teman,” ujarnya.

Sebagai pamungkas, Deni berharap manfaat dari kegiatan bercocok tanam ini dapat dirasakan secara bersama. Dalam proses sehari-harinya, bercocok tanam juga bisa jadi metode ‘pelarian’ untuk memberi jarak antara anak dengan gawainya. Kedua, bercocok tanam bisa jadi metode pengenalan dunia bisnis untuk anak. Dari dua manfaat jangka pendek dan jangka panjang tersebut, Deni berharap kegiatan budidaya tanaman hias di Pondok Pesantren Mahad Toyyiba Al Islamy ini dapat terus berlangsung. Enggak hanya saat sedang menjadi tren saja.

Wah, menyenangkan sekali ya bisa menghabiskan waktu soremu dengan melihat ribuan tanaman di kebun. TemanBaik, adakah di antara kamu yang tertarik membuat ruang hijau, sekalipun itu skala kecil-kecilan di rumah? Coba sebutkan, tanaman hias apa saja yang akan kamu pilih untuk mengisi ruang hijau tersebut.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler