'Bandung 132', Cara Beda Belajar Daring di Bandung

Bandung - TemanBaik, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dalam jaringan (daring) masih dilakukan hingga saat ini. Hal ini juga berlaku di Kota Bandung.

Namun, di Bandung ada program khusus yang dijalankan, yaitu Padaringan alias Pembelajaran dalam Jaringan. Apa bedanya dengan PJJ dengan Padaringan? Simak ulasannya, yuk!

Melalui Padaringan, siswa akan bisa belajar dengan memanfaatkan siaran televisi satelit Bandung 132. Ini merupakan siaran televisi tak berbayar yang baru beroperasi sejak pertengahan Oktober 2020. Hal ini tentu berbeda dengan pembelajaran melalui gawai yang memerlukan kuota internet.

Dalam siarannya, Bandung 132 menampilkan aneka pembelajaran tingkat SD dan SMP yang jadi kewenangan pemerintah kota. Kegiatan belajar atau siarannya sendiri berlangsung dari pukul 07.30-11.30 WIB.

Para guru yang memberikan materi melalui tayangannya merupakan guru Kota Bandung. Mereka diseleksi ketat dan dinilai punya kecakapan dalam menampilkan materi melalui siaran televisi. Sebab, tak semua guru memiliki kemampuan tersebut meski mahir mengajar di kelas.


                                                                     Foto: dok. Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Baca Ini Juga Yuk: 'Santri Sehat, Indonesia Kuat', Selamat Hari Santri!

Untuk bisa menggunakan layanan atau siaran dari Bandung 132, perlu menggunakan dekoder dan parabola mini. Saat ini, sudah sekitar 1.000 dekoder dan parabola mini yang disebar ke tingkat RT di Bandung.

Setiap RT diberi keleluasaan untuk lokasi pemasangan dekoder dan parabola mini, bisa di aula pertemuan RT, balai warga, hingga di rumah pribadi warga. Sehingga, ketika siswa akan belajar, mereka tinggal datang ke lokasi sesuai jadwal, yaitu pukul 07.30-09.30 WIB untuk siswa SD dan 09.30-11.30 WIB untuk siswa SMP.

Ke depan, akan ada sekitar 9.000 dekoder dan parabola mini yang bakal disebar ke berbagai titik lainnya secara bertahap. Sehingga, target menyasar siswa dari kalangan ekonomi menengah bawah diharapkan bisa tercapai. Dengan begitu, mereka bisa tetap belajar tanpa harus menggunakan kuota internet.

Untuk pengadaannya segala keperluannya, tidak ada dana APBD yang dipakai. Sebab, anggaran yang ada berasal dari Bandung Economic Empowerment Center (BEEC) dan corporate social responsibility (CSR).

Namun, bagi yang ingin menikmati akses tayangan dari Bandung 132, pengguna juga memanfaatkan gawai berbasis Android. Bedanya, tentu ada kuota internet yang diperlukan. Meski begitu, ini jadi opsi jika siswa atau orang tua ingin pembelajaran dilakukan di tempat tinggalnya sendiri.

Terus Disempurnakan
Ketua BEEC Ujang Koswara mengakui memang pada pekan pertama layanan Bandung 132 belum sempurna. Bahkan, banyak yang mengeluh dan tak paham bagaimana cara mengaksesnya.

Namun, berbagai perbaikan terus dilakukan. Bahkan, pada pekan kedua ini, berbagai keluhan dan pertanyaan dari masyarakat sudah berkurang. Pihaknya pun sedang berupaya segera menghadirkan 9 ribuan peralatan untuk segera disebar kepada siswa agar semakin banyak yang bisa menikmati siaran Bandung 132.

"Harus secepat mungkin meskipun ini tanpa anggaran (pemerintah). Makanya kita sedang berusaha mencari partisipasi (CSR dari perusahaan untuk mendanai)," ucap Uko, sapaan akrabnya.

Mengurangi Tingkat Stres
Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Bandung Bambang Ariyanto mengatakan secara umum kegiatan belajar melalui siaran di Bandung 132 memberi manfaat utama untuk kegiatan belajar. Siswa juga menjadi disiplin karena harus belajar sesuai jam yang ditentukan.

Sebab, untuk belajar, mereka harus melakukan persiapan selayaknya akan pergi belajar ke sekolah. Mereka akan mandi pagi-pagi hingga memakai seragam. Selain itu, ada interaktif yang bisa dilakukan saat pembelajaran melalui layanan percakapan.

"Dengan siaran ini anak juga lebih mengerti karena tidak hanya diberikan tugas. Sebab, anak akan diberikan materi, memahami, setelah itu baru diberi tugas," jelas Bambang.

Ini berbeda dengan pembelajaran sebelumnya karena siswa hanya diberi tugas dan instruksi. Ujung-ujungnya, siswa meminta bantuan orang tua. Ketika orang tua tak paham, mereka justru menjadi stres saat membantu tugas anaknya.

Di saat yang sama, siswa juga bisa stres atau merasa tertekan. Sebab, tugas yang harus dikerjakan terkadang sulit dikerjakan.

"Mudah-mudahan ini jadi solusi dari berbagai persoalan yang dialami para orang tua," harap Bambang.

Saat ini, seluruh materi sudah siapk untuk pembelajaran selama satu semester. Total, ada 701 guru se-Kota Bandung yang menjadi pemateri dalam siaran konten belajar di Bandung 132.

Foto: dok. Humas Kota Bandung
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler