Berkunjung ke Sekolah Tunanetra Pertama di Asia Tenggara

Bandung - TemanBaik, jika kamu berkunjung ke suatu daerah, salah satu hal yang wajib dilakukan tentu mencicipi kuliner khas daerah tersebut. Namun, selain itu, jika daerah atau kota yang kamu kunjungi dikenal sebagai kota dengan banyak bangunan bersejarah, alangkah sayangnya jika 'sejarah' tersebut dilupakan begitu saja.

Salah satunya adalah kota Bandung, selain dikenal wisata kulinernya, Bandung juga memiliki banyak 'kekayaan' bangunan bersejarah yang sayang untuk tidak dijelajahi. Banyak bangunan bersejarah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia terjadi di kota ini.



Nah, jika kamu sedang bekunjung ke Bandung, dan kebetulan melintas di Jalan Pajajaran, di sana terdapat sekolah khusus bagi Teman Netra alias tunanetra, namanya SLBN A Pajajaran Kota Bandung. Lokasinya ada di sebelah kiri jalan dan masih satu komplek dengan Pusat Rehabilitasi Sosial Bina Netra (PRSBN) Wyata Guna.

Jika kamu mencari tempat yang bisa memberi inspirasi, tempat ini bisa jadi solusinya. Di sini, kamu bisa melihat para siswa yang penuh semangat tinggi meski memiliki keterbatasan pada penglihatannya.

Baca Ini Juga Yuk: #AksiBaik Atalia Praratya & Pramuka Jabar Menanam 27.250 Pohon

Coba deh sesekali datang ke sini. Hanya sekadar duduk dan memperhatikan para siswa. Mereka kerap berjalan berbaris, berbincang, bercanda, serta membicarakan berbagai hal. Lihat ekspresi kejujuran mereka ketika melakukan sesuatu. Tawa riang kerap terlihat dari mereka.

Bahkan, kamu mungkin akan dibuat kagum atau kaget ketika ada Teman Netra yang berjalan sendirian. Tanpa dituntun atau menggunakan tongkat, mereka bisa bergerak dengan leluasa seolah memiliki penglihatan.



Mereka tahu kapan harus berbelok hingga kapan naik-turun tangga. Mereka bisa melakukan itu karena tahu betul kondisi di lokasi. Namun, hal ini tentu enggak mudah jika kamu praktikkan sendiri dengan menutup mata.

Jika ingin ngopi, ada kedai kopi di sebelah kiri lapangan. Di sini, kamu bisa ngopi dengan sajian kopi dari barista Teman Netra. Lihat kemampuan mereka dalam menyajikan minuman dan rasakan kenikmatannya. Di saat yang sama, kamu bisa belajar arti syukur dari orang-orang di sekitar tempat ini. Ada semangat yang tetap terjaga di tengah keterbatasan.

Jadi, jika kamu merasa sedang 'bermasalah', datang ke sini bisa jadi tempat merenung. Sebab, di luar sana ada banyak orang yang memiliki kekurangan masing-masing. Namun, mereka tetap semangat dalam menghadapi berbagai hal.



Sejarah Panjang
SLBN A Pajajaran ini punya sejarah panjang loh. Bahkan, tempat ini adalah sekolah untuk tunanetra pertama di Asia Tenggara. Sekolah ini didirikan tahun 1901 atau di saat zaman kolonial Hindia Belanda.

Dulunya, sekolah ini dinamakan 'Rumah Buta Bandung'. Pendiriannya diprakarsai dokter mata berkebangsaan Belanda bernama dr. C.H.A. Westhoff. Pengelolaannya dilakukan Yayasan Belanda bernama Bereniging tot Berbetering van Het Lof der Blinder. Dalam bahasa Indonesia, artinya adalah Yayasan Perbaikan Nasib Orang Buta.

Kenapa istilahnya buta? Sebab, saat itu belum ada istilah disabilitas, khususnya tunanetra. Sehingga, istilah buta digunakan saat itu. Rumah Buta Bandung ini pun jadi sarana untuk memberikan keahlian bagi para Teman Netra.

"Didirikannya (Rumah Buta Bandung) adalah untuk memberikan pelayanan pendidikan dan rehabilitasi kepada para tunanetra di Indonesia," kata Plt. Kepala SLBN A Pajajaran Wawan, M.Pd.



Yayasan Perbaikan Nasib Orang Buta mengelola tempat tersebut sejak 1901 hingga 1942. Namun, para pengurus yayasan akhirnya berhenti mengelola Rumah Buta Bandung. Sebab, penjajah berikutnya datang ke Indonesia dan mengambilalih berbagia hal di Indonesia, termasuk Rumah Buta Bandung.

"Bertepatan dengan dimulainya penjajahan bangsa Jepang di Indonesia, pengelolaan Rumah Buta Bandung dikelola 'Bandung Sie'," ungkap Wawan yang juga menjabat sebagai Kepala SLBN Cicendo Kota Bandung.



Bandung Sie sendiri merupakan pemerintah Kota Bandung saat itu di bawah kewenangan Jepang. Bandung SIe mengelola Rumah Buta Bandung dalam kurun 1942-1945 atau sampai Indonesia merdeka.

Sempat Dikelola Palang Merah Inggris
Setelah Indonesia merdeka, Rumah Buta Bandung tak langsung dikelola Indonesia. Palang Merah Inggris yang sempat beropreasi di Indonesia mengelolanya dalam kurun 1945-1947.

"Ketika itu, baik masyarakat Belanda (yang masih tinggal di Indonesia) atau masyarakat Indonesia tidak memungkinkan untuk menangani Rumah Buta Bandung. Karena waktu itu situasi dan kondisi negara yang tidak menentu," ungkapnya.

Seiring perjalanannya, sejak 1947, untuk kepentingan pendidikan formal anak-anak tunanetra, di tempat ini didirikan sekolah rakyat istimewa, sekolah rakyat khusus anak-anak buta, dan sekolah menengah pertama.



Pada 1962, sekolah rakyat istimewa dan SMP ditiadakan dan berganti menjadi SLB A yang diperuntukkan bagi siswa tunanetra. Selain itu, statusnya juga jadi sekolah negeri dan disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 13 Maret 1962.

"Pada 1958, pengelolaan Rumah Buta Bandung diambilalih oleh pemerintah dengan berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang Rehabilitasi Sosial Tunanetra dengan nama Pusat Pendidikan dan Pengajaran Kegunaan Tunanetra (P3KT)," jelas Wawan.

Baca Ini Juga Yuk: Lewotolo, Gunung dengan Pemandangan Cantik yang Sedang Erupsi

Namun, hal ini hanya berlangsung hingga 1964. Sejak 1964 sampai 1967, tempat itu kembali di bawah penanganan pihak swasta dengan nama Panitia Pengasuh Wyata Guna. Sehingga, namanya pun dikenal sebagai Wyata Guna. Pada 1967, dibentuk Badan Pembina Wyaga Guna (BPWG) Bandung.

Badan ini berstatus sebagai Badan Kesatuan Usaha (Joinproject) antara Departemen Sosial, Pemprov Jawa Barat, dan masyarakat. Pada periode ini, BPWG Wyata Guna berfungsi sebagai Panti Rehabilitasi Penderita Cacat Netra (PRPCN).

Pada perjalanannya, tempat ini kemudian 'terbagi', ada yang kini menjadi Pusat Rehabilitasi Sosial Bina Netra (PRSBN) Wyata Guna dan SLBN A Pajajaran Kota Bandung. Namun, keduanya berjalan berdampingan satu sama lain.

Di satu sisi, SLBN A Pajajaran menjadi tempat untuk pendidikan formal. Di sisi lain, PRSBN Wyata Guna jadi tempat untuk pendidikan non formal. Di SLBN A, pendidikan diberikan layaknya di SLB tunanetra. Mereka ditempat dengan berbagai pelajaran dan kemampuan. Sedangkan di PRSBN, para siswanya dibekali berbagai kemampuan, mulai dari pijat hingga keahlian komputer.



Tempat Menyemai Mimpi
Di dua lokasi ini, terdapat beberapa bangunan khas ala kolonial Belanda. Salah satunya adalah dari ciri khas tembok yang menggunakan batu besar dan banyak terdapat ventilasi. Sehingga, ruangan yang ada bisa sejuk meski tanpa penggunaan AC.

Namun, ada juga beberapa bangunan baru yang terdapat di kawasan ini, baik di komplek Wyata Guna maupun SLBN A Kota Bandung. Untuk ruang kelas misalnya, mayoritas adalah bangunan 'baru' yang lebih moderen.

Ada juga lapangan yang cukup luas. Lapangan ini kerap digunakan untuk olahraga atau kegiatan lain yang memerlukan tempat luas. Di tempat ini juga kerap dijadikan lokasi sepak bola tunanetra setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI.



Kini, sekolah itu menjadi tempat para anak-anak tunanetra dalam mengenyam pendidikan. Di sana, mereka menyemai harap agar bisa jadi pribadi unggul yang menguasai berbagai keahlian.

"Melalui perjalanan sejarah panjang tersebut, SLBN A Pajajaran tetap konsisten memberikan pelayanan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra sampai saat ini, tetap merdeka dalam berekspresi, inovasi, mengembangkan pelayanan," pungkas Wawan.

Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler