Tak Banyak Diketahui, Ini Fakta dan Cerita Para Guru Saat PJJ

Bandung - TemanBaik, sejak pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ), orang tua banyak yang dipusingkan karena harus menemani dan membantu anaknya belajar di rumah. Bahkan, ada yang menganggap kerja guru lebih mudah saat PJJ.

Ada juga anggapan yang cukup 'kejam' dialamatkan kepada guru, mulai dari guru dinilai santai-santai, seenaknya memberikan tugas, hingga disebut makan gaji buta. Agar tercerahkan dan tidak terjebak dalam pandangan itu. Benar enggak sih anggapan ini?

Di balik berbagai persepsi itu, menjadi guru saat PJJ seperti sekarang enggak mudah loh. Bahkan, tugas mereka saat ini jauh lebih rumit. Heli Setiawati, guru SMPN 13 Bandung memberikan gambaran bagaimana sulitnya menjadi guru saat PJJ. Apa yang dialami Heli jadi gambaran umum dari profesi guru saat ini. Apa saja kesulitan mereka? Simak ulasannya, yuk!

1. Lebih Sulit Mengajar
Dalam PJJ, enggak mudah bagi guru agar bisa menyampaikan materi pelajaran. Sebab, pembelajaran tatap muka jelas jauh lebih efektif ketimbang dalam jaringan alias daring.

Guru harus menyiapkan berbagai materi dengan cara berbeda dibanding sebelumnya, misalnya membuat video, audio, bahan presentasi, serta berbagai hal lainnya. Ini enggak bisa dilakukan instan. Bahkan, terkadang butuh berhari-hari bagi guru untuk menyiapkannya sebelum disampaikan kepada siswa.

2. Waktu Pribadi Terganggu
Pernah membayangkan bagaimana rasanya 'diteror' setiap saat melalui ponsel? Ini dialami guru hampir setiap hari. Mereka kerap dihubungi siswa atau orang tua siswa yang sekadar bertanya seputar tugas hingga mengumpulkan tugas.

Secara teori, biasanya guru akan memberi batas waktu pengumpulan tugas atau jam 'normal' jika ingin menghubungi. Namun, kenyataannya, hal itu kerap hanya sebatas teori. Justru, pada akhirnya banyak yang menghubungi sang guru di luar jam normal.

Baca Ini Juga Yuk: Ini Program Belajar yang Bisa Bikin Kamu Keliling Dunia Gratis

Tak jarang, guru juga dihubungi saat sedang melakukan aktivitas pribadi di rumah saat bersama keluarga. Bahkan, mereka kerap dihubungi malam-malam oleh siswa maupun orang tua.

"Di rumah juga kan kita ada yang harus diurus, masak dan lain-lain," ujar Heli.

Meski waktu pribadi kerap terganggu, hal itu tak menyurutkan Heli dan guru lainnya untuk tetap melayani siswa atau orang tuanya. Mereka rela waktunya terganggu untuk urusan sekolah para siswa.

"Jadi, waktu mengajar itu sekarang seperti enggak ada jadwal (tetap)," kata guru bahasa Inggris tersebut.

3. Harus Ekstra Sabar
Kenapa guru di masa PJJ harus punya kesabaran ekstra? Sebab, mengajar daring tak semudah yang dibayangkan. Sebab, daya tangkap setiap siswa berbeda dalam menyerap pelajaran. Tak jarang guru harus sabar berkali-kali memberi penjelasan materi atau tugas yang diberikan agar siswanya paham.

Ini berbeda dengan cara mengajar tatap muka. Ketika ada siswa yang tak paham, guru bisa menjelaskan secara lebih personal. Sedangkan ketika daring, hal itu cukup sulit dilakukan.

4. Siswa 'Hilang' & Tak Punya Nilai
Di balik PJJ, ternyata ada beberapa kasus dimana siswa 'hilang'. Ketika pembelajaran daring dimulai melalui aplikasi percakapan video, kerap ada siswa yang tak bisa hadir. Biasanya, mereka terkendala karena tak memiliki ponsel.

Kalaupun ada, ponselnya adalah milik orang tua. Sedangkan ketika anak harus belajar, orang tua harus pergi bekerja dan membawa ponselnya. Sehingga, mereka tak bisa mengikuti pelajaran karena terjebak dalam situasi itu. Begitu juga ketika pengumpulan tugas, mereka harus menunggu orang tuanya pulang agar bisa menggunakan ponselnya untuk mengirim tugas.

Selain itu, kerap ada siswa yang tak punya nilai karena tak mengerjakan tugas. Bukan hanya karena tak ada ponsel, tapi ada juga masalah lain, misalnya siswa tak semangat mengerjakan tugas. Sebab, mereka merasa situasi di rumah kurang nyaman untuk mengerjakannya. Sebaliknya, kadang siswa seperti itu tergolong pintar dan disiplin ketika diberi tugas di sekolah secara tatap muka.

Akibatnya, siswa tak memiliki nilai, sedangkan nilai itu dibutuhkan untuk akumulasi nilai pada rapornya. Sehingga, setiap guru harus mencari solusi kenapa siswa tak mengerjakan tugas.

Heli pun punya cara sendiri. Ia biasanya memanggil siswa dan orang tuanya ke sekolah. Di sana, Heli akan bertanya seputar permasalahan yang dihadapi. Solusi pun diberikan. Sehingga, siswa bisa mengikuti pelajaran dan mengerjakan seluruh tugasnya. Ujung-ujungnya nilai rapor siswa bisa terisi.

"Karena saya wali kelas, perlu ada sentuhan (untuk menangani anak yang sulit belajar) agar tahu ini anaknya kenapa. Itu cara saya, tapi atas seizin kepala sekolah," tutur ibu dua anak tersebut.

5. Ponsel Eror
Bagian ini yang mungkin tak banyak diketahui orang. Coba deh tanya para guru di masa PJJ ini, berapa kali ponsel mereka eror? Rata-rata mereka pasti pernah mengalaminya.

Sebab, ponsel mereka dipaksa 'bekerja keras' hampir setiap hari, baik untuk menggunakan aplikasi video, mengirim dan menerima tugas siswa, hingga menjawab pesan di aplikasi percakapan. Untuk tugas saja, file yang masuk ke ponsel mereka bisa mencapai belasan hingga puluhan gigabyte dalam sebulan loh!

"Iya (ponsel pernah eror), sampai anak saya membelikan saya handphone baru," ungkap perempuan kelahiran Tasikmalaya, 6 Juni 1965.

Ia sendiri tak meminta dibelikan ponsel baru. Namun, sang anak membelikannya sebagai bentuk perhatian sekaligus dukungan agar tugas mengajar sang ibu berjalan lancar.

Di luar itu, ia juga menggunakan ponsel pinjaman dari sekolah. Sebab, untuk menjalankan tugasnya, tak cukup dengan sekadar mengandalkan satu ponsel saja. Ia juga menggunakan komputer jinjing yang dipinjamkan pihak sekolah.

TemanBaik, masih ada yang menganggap guru saat PJJ mudah? Sudah tahu kan ternyata banyak kendala yang dihadapi mereka. Bahkan, di luar sana, ada yang jauh lebih sulit dalam mengajar, misalnya di daerah perbatasan atau terpencil.

Foto: Oris Riswan Budiana/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler