Begini Cara Fosil Dirawat Biar Enggak Rusak

Bandung - TemanBaik, ada yang pernah berkunjung ke Museum Geologi di Kota Bandung? Di sini banyak banget loh koleksi benda purbakalanya, mulai dari gajah purba, kura-kura purba, manusia purba, hingga berbagai batu dari seluruh Indonesia.

Secara keseluruhan, Museum Memiliki memiliki 417.882 koleksi yang disimpan di berbagai titik di lokasi. Semua ditata berdasarkan klasifikasi atau jenisnya masing-masing. Ukurannya pun beragam, ada yang besar, ada juga yang kecil.

Seluruh koleksi yang ada di sini tentu dirawat dengan baik. Sebab, jika tidak, tentu benda-benda yang ada bakal mengalami kerusakan. Dengan koleksi sebanyak itu, pernah membayangkan enggak bagaimana fosil-fosil itu dirawat? Jika penasaran, simak ulasannya, yuk!

Menurut Kepala Museum Geologi Iwan Kurniawan, seluruh koleksi yang ada di lokasi harus dirawat dan dijaga dengan baik. Sebab, seluruh benda itu merupakan milik negara. Karena itu, perawatan terbaik dilakukan, termasuk menjaganya agar tak hilang atau rusak.

Namun, namanya juga benda purba yang berusia sepuh, termasuk ada yang berusia ratusan juta tahun, tentu potensi mengalami kerusakan cukup besar. Bahkan, material berupa batu yang dikategorikan kuat pun tetap harus dirawat untuk meminimalisir kerusakan.



Baca Ini Juga Yuk: 5 Fakta Lobster yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Untuk koleksi berupa batu misalnya, cara utamanya menjaganya agar tak rusak adalah dengan menjaga suhu tempat penyimpanan. Pengelola musem membuat batu itu tetap berada pada suhu yang tetap. Salah satunya agar batu tidak berlumut.

"Kalau batu tidak terlalu riskan mengalami kerusakan karena semua ruangan (tempat menyimpan koleksi batu) di kita ada pemanasnya, jadi suhunya terjaga," kata Iwan kepada Beritabaik.id.

Bagaimana dengan koleksi berupa fosil seperti binatang dan manusia purba? Cara perawatannya tentu berbeda. Masalah utama yang jadi ancaman adalah jamur. Jika dibiarkan tumbuh, jamur ini pada akhirnya akan membuat fosil rentan rusak.

Fosil akan dibersihkan menggunakan kuas. Untuk melakukan ini, tentu perlu ketelitian. Sebab, setiap bagian harus dipastikan bersih. Selanjutnya, jika ditemukan kerusakan, bagian yang berjamur atau berpotensi rusak akan dilapisi campuran cairan aseton dan lem khusus agar lebih kuat dan awet.

Selama masa perawatan akibat kerusakan, koleksi di sini akan dibawa ke tempat khusus di museum. Di sana, petugas akan memoles dan memperbaiki kerusakan yang ada. Setelah selesai 'diobati', benda koleksi akan kembali dipamerkan di ruang pamer.



Namun, enggak semua fosil memerlukan perawatan seperti ini. Sebab, ada fosil yang tergolong kuat alias minim potensi kerusakan. Sehingga, perawatan yang diperlukan tergolong ringan, yaitu memastikan tak ada debu dengan menggunakan kuas.

"Kalau fosilisasinya bagus, itu tidak terlalu riskan. Misalnya fosil ikan dari Timor, itu kuat dan hanya butuh perawatan sekali (dilapis menggunakan campuran aseton dan lem)," jelas Iwan.

Selain koleksi berupa fosil, Museum Geologi juga memiliki fasilitas seperti layar interaktif yang menampilkan gambar atau video. Bagian ini juga tak luput dari pemeriksaan dan perawatan. Tujuannya agar seluruh fasilitas yang ada bisa berfungsi dengan baik.

Tetap Dirawat Meski Ditutup
Museum Geologi sendiri ditutup selama pandemi COVID-19. Namun, bukan berarti tak ada aktivitas sama sekali di sana. Perawatan terhadap seluruh koleksi tetap dilakukan seperti biasa.

"Untuk perawatan koleksi masih sama, tidak ada perubahan antara saat pandemi atau tidak," ucap Iwan.

Setiap koleksi pun dirawat oleh masing-masing 'perawat' sesuai pembagian jenis fosil. Sehingga, mereka yang ditugaskan benar-benar ahli di bidangnya dan tahu seluk-beluk fosil yang dirawat.

Untuk perawatan, biasanya dilakukan saat hari jumat. Ini rutin dilakukan setiap pekannya. Sebab, pada hari itu biasanya museum memang diliburkan alias ditutup untuk umum. Di masa pandemi, jadwal perawatan pun tak berubah alias tetap di hari jumat.

"SOP kita jumat itu libur karena diperuntukkan untuk melakukan perawatan," kata Iwan.

Pengecekan dan perawatan ini perlu dilakukan berkala. Sebab, potensi tumbuhnya jamur atau fosil mengalami kerusakan bisa kapan saja terjadi. Sehingga, jika potensi negatif itu muncul, hal lebih buruk bisa diminimalisir.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler