Begini Keseruan Teman Daksa Bermain Sepak Bola Tangan

Bandung - TemanBaik, tentu tahu kan dengan permainan sepak bola? Namun, kamu pernah melihat enggak jika permainan sepak bola enggak menggunakan kaki? Ada loh permainan seperti ini. Simak ulasannya, yuk!

Permainan ini terlihat di area lapangan SLBN Cicendo Kota Bandung, Kamis (3/12/2020). Ada empat tim yang bermain mewakili Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Komunitas Motor Difabel (Modif).

Saat dua tim bertanding, masing-masing tim terdiri dari enam orang, rinciannya satu penjaga gawang dan lima pemain 'bebas'. Mereka saling menyerang satu sama lain untuk menceploskan bola ke gawang lawan.

Uniknya, permainan ini tidak menggunakan kaki sebagai tumpuan utama dalam permainan. Yang digunakan sebagai senjata utama adalah tangan. Singkatnya, tangan dalam permainan ini difungsikan seperti kaki dalam permainan sepak bola. Sehingga, permainannya disebut sepak bola tangan.



Para pemainnya adalah teman Daksa alias tunadaksa. Namun, kondisi mereka berbeda satu sama lain. Ada yang tak memiliki satu atau dua kaki karena diamputasi, ada yang tak punya kaki sejak lahir, ada yang bertubuh kecil, hingga ada yang kakinya menekuk dan tak bisa diluruskan.

Baca Ini Juga Yuk: Makin Kreatif di Hari Disabilitas Internasional 2020

Meski fisik mereka, itu tak menyurutkan semangat mereka bermain sepak bola tangan. Nuansa kompetisi bahkan cukup terasa karena mereka serius saat bermain. Namun, sesekali permainan mereka diselingi canda-tawa.

Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Bandung Guntur Afandi mengatakan kegiatan hari ini merupakan babak final. Sehingga, sepak bola tangan ini sekaligus jadi ajang untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional. Turnamennya sendiri digelar sejak akhir November 2020.

"Hari ini sekaligus kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum peringatan ulang tahun kita (Hari Disabilitas). Mudah-mudahan harapan dari kita semua bisa tercapai," ujar Guntur.



Apa Bedanya dengan Sepak Bola Biasa?
Sepak bola tangan ini merupakan olahraga baru. Sebab, olahraga ini belum masuk menjadi salah satu cabang olahraga resmi di bawah naungan NPCI, yaitu induk organisasi olahraga penyandang disabilitas.

Menurut Guntur, ia dan teman-temannya sudah mulai menjalankan sepak bola tangan sejak 2003. Sempat terhenti beberapa tahun, pada 2009 olahraga ini kembali dijalankan. Namun, lagi-lagi sepak bola tangan ini kembali vakum dan baru pada 2020 ini kembali diaktifkan.

Kebetulan, tahun ini peminat sepak bola tangan cukup besar. Sehingga, untuk mewadahi minat tersebut, kompetisi akhirnya dibuat. Harapannya, kelak olahraga ini bisa masuk cabang olahraga resmi dan dipertandingakan dalam kompetisi atau kegiatan olahraga seperti Peparda atau Peparnas.

Hal yang bikin penasaran tentu cara bermainnya? Karena belum ada aturan resmi, secara umum aturan dalam sepak bola tangan ini mengacu pada sepak bola. Namun, ada hal lain yang disesuaikan. Bahkan, ada aturan yang diadopsi dari cabang olahraga lain, misalnya dari basket.

"Yang paling beda dengan sepak bola umum adalah pergerakan si pemain harus merangkak, pengendalian bola juga harus digiring, dioper, sampai menjadi gol menggunakan tangan," jelas Guntur.

Namun, pemain diperbolehkan menyundul bola. Meski begitu, bola tak boleh dilempar dengan tangan, kecuali oleh penjaga gawang. Kalaupun pemain ingin memberi umpan untuk disundul rekan setim, pemain harus menyepak bola dengan menggunakan tangan.

Pemain juga tak diperbolehkan mengendalikan bola dengan kedua tangan. Saat pemain membawa atau menyentuh bola, hanya satu tangan yang diperbolehkan digunakan. Namun, aturan ini berbeda dengan penjaga gawang yang boleh menggunakan kedua tangan untuk menangkap bola. Selain itu, penjaga gawang juga diperbolehkan berdiri, tapi menggunakan lutut saja.

"Pemain juga tidak boleh menguasai bola lebih dari lima detik," ungkap pria yang juga merupakan atlet bowling itu.

Dalam permainan ini juga ada pelanggaran yang tak boleh dilakukan. Jika dilanggar, maka akan berujung tendangan bebas, lemparan ke dalam, tendangan sudut, hingga tendangan penalti. Beberapa aturannya adalah pemain tak boleh merebut bola dari arah belakang, penjaga gawang tak boleh mengambil bola mati dari rekan setim dengan dua tangan, hingga lengan pemain tak boleh masuk ke bagian antara lengan dan badan pemain lawan.

Untuk lapangan, standarnya luas yang digunakan adalah 18x9 meter. Ukuran gawangnya memiliki lebar 3 meter dengan tinggi 1,5 meter. Sedangkan durasi permainan adalah 40 menit yang dibagi ke dalam dua babak. Masa istirahatnya adalah 15 menit untuk jeda dari babak pertama dan kedua.

Berbagai aturan soal permainan sepak bola tangan ini pun digunakan sebagai aturan baku. Draft peraturan pun sudah disusun. Ke depan, diharapkan olahraga ini bisa diangkat jadi olahraga resmi yang dipertandingkan di kalangan teman Daksa.

Bahkan, Guntur dan kawan-kawan berencana membentuk semacam PSSI-nya sepak bola tangan. Sehingga, olahraga ini diharapkan lebih terarah dan terbina dengan baik ke depan.

"Setelah turnamen ini kami inginnya ada organisasi khusus yang mengelola sepak bola tangan, kalau di umum ada PSSI-nya lah," tutur Guntur.

Sebagai langkah awal, ia dan rekan-rekannya bakal berkeliling ke berbagai daerah, terutama di Jawa Barat. Tujuannya untuk menyosialisasikan olahraga baru tersebut. Sehingga, diharapkan olahraga ini semakin diminati di kalangan teman Daksa.

Foto: Oris Riswan/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler