Kenapa Vaksin Sinovac yang Dipilih Pemerintah? Ini Penjelasannya

Jakarta - TemanBaik, ada berbagai jenis vaksin COVID-19 yang dikembangkan berbagai pihak di dunia. Namun, pemerintah Indonesia akhirnya memilih vaksin COVID-19 buatan Sinovac, perusahaan farmasi asal China.

Vaksin ini rencananya akan digunakan untuk vaksinasi di Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Saat ini, berbagai hal sedang disiapkan, termasuk menunggu hasil uji klinis tahap ketiga yang dilakukan di Bandung.

Namun, sebagian masyarakat bertanya-tanya, dari sekian banyak vaksin, kenapa sih vaksin buatan Sinovac yang dipilih pemerintah Indonesia? Direktur Utama PT. Bio Farma Honesti Basyir memberi penjelasannya. Yuk, simak ulasannya biar kamu paham!

Menurutnya, dalam penentuan pemilihan vaksin, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan secara matang, mulai dari unsur keamanan, kecepatan, dan memenuhi aspek mandiri.

Vaksin juga harus memenuhi unsur keamanan, khasiat, dan mutu yang terjamin oleh lembaga berwenang dan dapat dibuktikan dengan serangkaian pengujian. Rangkaian pengujiannya cukup panjang, mulai dari pengujian praklinis dan uji klinis tahap pertama hingga ketiga.

"Dilihat dari timeline ataupun proses pengembangan, calon vaksin COVID-19 dari Sinovac termasuk satu dari 10 kandidat yang paling cepat yang sudah masuk ke uji klinis tahap ketiga," kata Honesti dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (8/12/2020).

Baca Ini Juga Yuk: Ini Hal Penting Tekait Vaksin COVID-19 yang Dipaparkan 5 Menteri

Dari seluruh rangkaian pengujian, vaksin COVID-19 buatan Sinovac memenuhi hampir seluruh persyaratan yang diperlukan. Kini, vaksin itu tinggal menunggu hasil uji klinis tahap ketiga untuk memastikan seluruh aspek. Sehingga, izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berupa Emergency Use Authorization (EuA) bisa keluar jika hasilnya baik. Setelah izin ini keluar, vaksinasi baru bisa dilakukan.

Platform atau metoda pembuatan vaksin juga jadi pertimbangan. Seperti diketahui, vaksin buatan Sinovac ini menggunakan metode inactivated alias menggunakan virus yang dimatikan. Metode ini sudah terbukti bagus pada vaksin-vaksin lainnya. "Dan platform tersebut sudah dikuasai oleh Bio Farma," ucapnya.

Selain itu, ada faktor lain yang jadi penentu. Vaksin buatan Sinovac sudah memenuhi sistem mutu yang diakui oleh WHO World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia. Hal lain yang jadi pertimbangan adalah adanya transfer teknologi yang dilakukan Sinovac kepada Bio Farma sebagai BUMN farmasi di Indonesia. Sehingga, hal ini akan turut meningkatkan kualitas BUMN tersebut.

Persiapan Bio Farma
Vaksin COVID-19 sendiri sudah tiba di Indonesia sebanyak 1,2 juta dosis pada Minggu (6/12/2020) malam. Bahkan, pada Senin (7/12/2020) pagi vaksin itu sudah dibawa dan tiba di Bio Farma. Di sana, vaksin disimpan di tempat khusus.

Pada akhir Desember ini, 1,8 juta dosis vaksin dari Sinovac juga akan kembali didatangkan. Maksimal, vaksin itu tiba di Indonesia pada awal Januari 2021. Selain dalam bentuk jadi, vaksin juga akan didatangkan dalam bentuk curah atau bahan baku, yaitu untuk 15 juta dosis pada Desember dan 30 juta dosis pada Januari.

Vaksin berupa bahan baku ini nantinya bakal diproduksi Bio Farma. Namun, meski diproduksi di Indonesia oleh Bio Farma, hasil akhir vaksin ini akan sama dengan yang dibuat langsung di pabrik Sinovac. Vaksin Sinovac sendiri sudah dipakai dalam uji coba klinis tahap ketiga di Bandung. Vaksin inilah yang nantinya bakal dipakai untuk vaksinasi di Indonesia.

"Keseluruhan vaksin yang akan tiba, seluruhnya akan menjadi vaksin yang sama yang tengah dijalankan pada uji klinis fase ketiga, baik di Indonesia maupun Brasil dan beberapa negara lainnya," ungkap Honesti.

Saat ini, Bio Farma sedang melakukan berbagai persiapan produksi. Di saat yang sama, Bio Farma juga sedang mempersiapkan distribusi vaksin. "Bio Farma akan fokus pada penyebaran vaksin COVID-19 dan akan melakukan berbagai persiapan agar siap melakukan pendistribusian setelah mendapatkan izin penggunaan dari BPOM," jelasnya.

Bio Farma sendiri punya pengalaman panjang dalam berbagai hal berkaitan dengan vaksin, termasuk proses distribusi. Sehingga, proses distribusi diyakini akan berjalan baik meski tidak mudah dilakukan.

"Distribusi vaksin harus memenuhi good distribution practice dimana dalam proses distribusi dari Bio Farma hingga klinik atau fasilitas kesehatan harus memperhatikan sistem rantai dingin untuk menjamin kualitas vaksin tetap terjaga. Bio Farma saat ini sedang mempersapkan solusi digital untuk kebutuhan pemenuhan distribusi vaksin COVID-19 baik untuk pemenuhan kebutuhan pemerintah maupun untuk pemenuhan kebutuhan mandiri," ucap Honesti.

Foto: Ilustrasi/dok. Biro Pers Setpres RI


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler