Sambil Mencoblos, Yuk! Intip Perjalanan Pilkada di Indonesia

Bandung - TemanBaik, beberapa wilayah di Indonesia sedang menjalankan Pilkada serentak. Sambil mencoblos, yuk kita cari tahu bagaimana sih asal mulanya pemilihan kepala daerah ini ada di Indonesia?

Seperti kita ketahui bersama, pemilihan kepala daerah atau pilkada merupakan ajang memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah melalui pemungutan suara langsung layaknya Pilpres. Hanya saja, calon pemimpin yang terpilih nanti bakal mengemban tugas sebagai kepala daerah seperti Gubernur, Wakil Gubernur, Wali Kota, Wakil Walikota, Bupati, atau Wakil Bupati.

Pada era kolonial Belanda dahulu, kepala daerah dipilih langsung oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Ya, Pemerintah Kolonial saat itu punya kewenangan penuh untuk mengatur siapa yang menjadi kepala daerah di wilayah Nusantara. Jabatan setingkat Gubernur hingga Karasidenan diisi oleh orang-orang Belanda, sedangkan orang Indonesia mendapatkan posisi sebagai pemimpin tingkat Kabupaten sampai Kecamatan (Camat).

Pada masa setelah kemerderkaan, atau tepatnya pada era Presiden Soekarno, kepala daerah kemudian ditunjuk oleh Presiden melalui Undang-Undang tahun 1948 yang mengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945. Nama-nama yang akan dipilih Presiden dan Menteri Dalam Negeri ini merupakan rekomendasi dari Dewan Perwakilan Daerah (DPRD). Proses tersebut berlanjut hingga pada era Orde Baru. Hanya saja bedanya, pada masa Orde Baru, Presiden punya kontrol penuh terhadap kepala daerah. Presiden pula yang mengangkat kepala daerah pada era tersebut. Kebijakan dan peraturan pilkada era orde baru tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Baca Ini Juga Yuk: Keren! Kelapa Parut Kering Jabar Diminati Luar Negeri

Memasuki era Reformasi, Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan pemerintah di daerah. Jika pada sebelumnya, DPRD hanya merekomendasikan nama yang nantinya akan dipilih oleh Presiden, maka pada era ini DPRD yang punya wewenang penuh terhadap terpilihnya calon kepala daerah menjadi kepala daerah.

Skema ini berlangsung hingga tahun 2004. Hingga akhirnya diberlakukan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sejak saat itu, kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui gelaran Pilkada. Pilkada itu sendiri pertama kali digelar di Indonesia pada tahun 2005, di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kemudian pada tahun 2007, keluarlah Undang-Undang Nomor 22 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama Pemilihan umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau disingkat Pemilukada. Provinsi DKI Jakarta adalah wilayah pertama yang menerapkan sistem pilkada ini. Lalu pada 2008, muncul Undang-Undang Nomor 12. Melalui Undang-Undang tersebut, tiap calon kepala daerah bisa maju Pilkada tanpa melalui jalur partai politik. Selain itu diatur pula tentang pencalonan kepala daerah melalui jalur perseorangan, yakni dengan syarat dukungan dari masyarakat.

Sejak tahun 2015, Pemerintah eksekutif dan legislatif menyepakati pilkada serentak untuk daerah-daerah yang akan habis masa jabatan kepala daerahnya. Tahun ini menjadi tahun pertama metode penyelenggaraan pilkada digelar serentak. Tercatat ada 269 daerah yang mengikuti pilkada serentak pada 2015. Selanjutnya, pada tahun 2017, 2018, dan tahun ini 2020, pemilihan kepala daerah kembali dilakukan serentak.

Pilkada serentak tahun 2020 digelar hari ini, Rabu (9/12/2020). Pilkada 2020 mungkin jadi pilkada yang berbeda dari tiga edisi sebelumnya. Sebab ada berbagai kebiasaan baru dan adaptasi dikarenakan situasi pandemi belum juga reda pada gelaran pilkada tahun ini. Sebanyak 270 daerah menggelar pilkada serentak pada tahun 2020 ini.

Seluruh wilayah tersebut menjalankan pilkada dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ada 15 prosedur kesehatan di dalam penyelenggaraan Pilkada serentak 2020 mulai dari 500 Pemilih, memakai masker, menjaga jarak, menggunakan tinta tetes, pengecekan suhu tubuh, penggunaan alat tulis sendiri, pengaturan jam kedatangan, penggunaan pelindung wajah, mencuci tangan, menerapkan TPS sehat, proses disinfeksi di TPS, tidak bersalaman satu sama lain, menyiapkan sarung tangan, tisu kering, dan bilik khusus di TPS.

Untuk kamu yang wilayahnya sedang menjalankan pesta demokrasi Pilkada serentak, selamat ya! Meski dalam keadaan yang mungkin agak kurang nyaman, tetap berikan hak suaramu ke TPS, ya. Jangan lupa terapkan protokol kesehatan, serta menghindari kerumunan dalam proses pemilihan suara. Semoga proses pesta demokrasi di Indonesia berikutnya dapat berlangsung meriah dan menyenangkan seperti sediakala, ya.

Foto: Ilustrasi Pexels/Element Digital

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler