Mau Liburan Akhir Tahun ke Jabar? Simak Ini Dulu!

Bandung - TemanBaik, jika kamu berencana mengisi liburan akhir tahun ini di Jawa Barat, sebaiknya urungkan niat ya. Kamu disarankan #DiRumahAja untuk mengisi liburan jika enggak penting-penting amat pergi ke Jawa Barat.

Ingat! Indonesia sedang enggak baik-baik saja, pandemi COVID-19 masih ada di sekeliling kita. Jadi, lebih baik menghindari potensi penularan dan penyebaran COVID-19. Salah satunya dengan cara enggak pergi liburan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan per hari ini ada delapan zona merah COVID-19 di Jawa Barat. Kedelapan daerah itu adalah Kabupaten Garut, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Depok, dan Kota Cimahi. Status ini sebaiknya jadi bahan pertimbangan bagi warga untuk tiddak datang ke daerah-daerah tersebut.

"Zona merah kita bertambah menjadi delapan daerah. Jadi, ini kita harus waspada ya," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (14/12/2020).

Namun, di luar delapan daerah itu, bukan berarti daerah lain di Jawa Barat bebas dari COVID-19. Potensi terpapar tetap ada di manapun. Karena itu, semua pihak diajak untuk waspada dan tetap melakukan berbagai langkah pencegahan.

Baca Ini Juga Yuk: Sah! 12.12 Jadi Hari Pencak Silat Jabar

Siapkan Langkah Tegas
Di Jawa Barat, jumlah kasus COVID-19 di Jawa Barat saat ini secara umum masih tinggi. Jumlahnya per 13 Desember 2020 ada di atas 9.000 kasus.

Tingginya kasus COVID-19 ini disebabkan beberapa hal. Salah satunya akibat libur panjang beberapa pekan lalu. Selain itu, klaster keluarga juga meningkat tajam, termasuk klaster industri.

Karena itu, pria berlatar belakang arsitek tersebut akan mengambil kebijakan khusus demi mencegah penularan dan penyebaran COVID-19, terutama dalam menghadapi masa liburan Natal dan akhir tahun. Ia tak mau ada klaster baru penyebaran COVID-19 yang terjadi saat liburan akhir tahun.

"Jabar tidak mengizinkan ada perayaan tahun baru. Saya ulangi, pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Komite Penanggulangan COVID-19, sudah memutuskan, bersepakat dengan para gubernur yang lain bahwa tidak mengizinkan ada perayaan tahun baru yang memang pasti punya potensi ada keriuhan keramaian yang membahayakan," jelas ayah dua anak tersebut.

Tak hanya di tempat terbuka, perayaan tahun baru di tempat tertutup juga akan dilarang, terutama jika berpotensi menghadirkan kerumunan atau keramaian. Namun, secara teknis hal ini akan dibahas lebih lanjut.

Selain itu, ia juga berencana menerapkan pengetatan di masa liburan akhir tahun. Ia bakal 'mempersulit' warga masuk ke Jawa Barat, terutama ke daerah zona merah atau tempat pariwisata.

"Sedang ada wacana persiapan jika di libur panjang ada (warga) datang ke zona-zona pariwisata seperti Kota Bandung, KBB, Pangandaran, itu wajib menyertakan bukti rapid tes antigen," kata mantan Wali Kota Bandung tersebut.

Kebijakan pengetatan seperti itu tak hanya berlaku di Jawa Barat, daerah lain juga ada yang melakukannya. Ia mencontohkan di Bali, wisatawan atau warga yang ingin ke Bali diwajibkan membawa hasil tes PCR. Namun, di Jawa Barat rencananya hanya akan memberlakukan warga membawa hasil rapid tes.

"Kalau di Bali itu harus dengan PCR kesepakatannya. Kalau di Jawa Barat, yang tidak terlalu berbasis penerbangan, itu kita akan coba diskusikan cukup dengan bukti rapid tes antigen," ungkapnya.

"Kenapa itu dilakukan? Karena kesimpulan dari data libur panjang kemarin meningkatkan kasus COVID-19 cukup signifikan. Sehingga, belajar dari pengalaman itu, maka kita ingin memastikan tamu yang datang dan pergi itu adalah mereka-mereka yang sudah 'bersih' dari COVID-19," papar Emil.

Foto: dok. Humas Jawa Barat

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler