Kapan Uji Klinis Vaksin COVID-19 Tuntas? Ini Penjelasannya

Bandung - TemanBaik, uji klinis vaksin COVID-19 di Bandung masih berlangsung hingga kini. Apa perkembangan terbaru dari uji klinis tersebut? Simak ulasannya, yuk!

Juru Bicara Tim Uji Klinis Vaksin COVID-19 Universitas Padjadjaran (Unpad) Rodman Tarigan mengatakan para relawan akan menjalani kunjungan penelitian sebanyak enam kali.

Pada visit 0 alias kunjungan pertama, relawan mendapatkan penjelasan mengenai alur uji klinis dan swab test alias uji usap. Setelah itu, relaan melakukan kunjungan kedua atau visit 1 untuk menjalani penyuntikkan pertama.

Penyuntikan kedua akan dilakukan saat relawan melakukan kunjungan ketiga atau visit 2. Berikutnya, relawan akan diambil darah tiga kali, yaitu pada kunjungan keempat atau visit 3 (14 hari setelah penyuntikkan kedua), kunjungan kelima atau visit 3A (tiga bulan setelah penyuntikkan kedua), dan kunjungan keenam atau visit 4 pada enam bulan setelah penyuntikkan kedua.

Baca Ini Juga Yuk: Begini Skema Sekolah Tatap Muka di Jabar pada Januari 2021

Kenapa pengambilan darah dilakukan hingga tiga kali? Ini bertujuan untuk melihat efektivitas vaksin Sinovac yang dipakai dalam uji klinis tersebut di tubuh relawan.

"Ini untuk mengetahu berapa lama kekebalan atau antibodi yang terbentuk pada relawan yang mendapatkan vaksin," ujar Rodman.

Dua Kali Pelaporan
Dalam uji klinis ini, tim peneliti akan membuat dua pelaporan. Pelaporan pertama atau laporan sementara akan dilakukan pada Desember ini. Laporan akan diberikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Laporan yang diberikan pada Desember ini merupakan hasil dari pengambilan darah relawan yang sudah dijalani. Selanjutnya, pelaporan akan kembali dibuat setelah pengambilan darah ketiga selesai dilakukan.

"Setelah pengecekan antibodi enam bulan dari penyuntikkan kedua, laporan lengkap akan disusun dan dikirim. Kira-kira April 2021. Sedangkan pada Desember, kami juga mengirim laporan interim atau laporan sementara," jelas Rodman.

Laporan inilah yang akan jadi salah satu pertimbangan BPOM dalam memberikan Emergency Use of Authorization (EuA) alias izin penggunaan darurat. Setelah mengantongi izin tersebut, barulah vaksin boleh digunakan untuk vaksinasi.

Foto: dok. Biro Pers Setpres RI

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler