Perjalanan Masjid Lautze 2, Rumah Mualaf Tionghoa di Bandung

Bandung - TemanBaik, di Kota Bandung ada satu bangunan yang cukup menarik, lokasinya di Jalan Tamblong. Namanya Masjid Lautze 2. Banyak hal menarik yang bisa dibahas. Apa saja?

Masjid Lautze 2 ini menjadi pembeda di antara bangunan lain di sekitarnya yang mayoritas merupakan toko atau rumah toko (ruko). Ya, bangunan masjid ini dulunya juga sebuah ruko.

Sejak 1997, Yayasan Haji Karim Oei menyewa ruko tersebut dan mengubah fungsinya menjadi masjid. Dulu, bangunan dengan luas 6x7 meter itu tak secantik sekarang. Namun, sejak awal memang identitas Tionghoa begitu lekat di sana.



Seiring berjalannya waktu, Masjid Lautze 2 ini mengalami perluasan setelah ruko di kiri-kanannya disewa. Berbagai perubahan dan perbaikan pun dilakukan tanpa mengubah struktur bangunan yang dikategorikan heritage tersebut.

Dari segi arsitektur, ruko ini mampu disulap menjadi gaya bangunan dan ornamen khas Tionghoa. Terdapat banyak warna merah yang mendominasi. Namun, ada juga warna kuning dan putih yang menambah kecantikan.

Di area sekitar mimbar juga sangat ikonik. Bagian temboknya dibuat dengan motif khas Tionghoa dengan dominasi warna merah. Mimbarnya juga didominasi warna merah dan kuning. Sedangkan di bagian depan masjid, terdapat tulisan 'Masjid Lautze 2' dalam huruf latin dan huruf China. Di bagian depan juga terdapat semacam lentera pada bagian atasnya.

Baca Ini Juga Yuk: Semangat Tim SAR saat Bertugas pada Libur Natal & Tahun Baru



Rumah Bagi Mualaf Tionghoa
Ketua Dewan Pembina Masjid Lautze 2 Bandung Hernawan Mahfudz menjelaskan misi besar hadirnya masjid tersebut di Bandung. Masjid Lautze 2 sendiri merupakan 'cabang' dari Masjid Lautze yang ada di Jakarta karena didirikan yayasan yang sama.

"Kenapa namanya Lautze? Karena itu (yang berlokasi di Jakarta) ada di Jalan Lautze," ujar Hernawan kepada BeritaBaik.id.

Di Jakarta, Masjid Lautze hadir untuk menjadi wadah bagi komunitas muslim etnis Tionghoa. Selain itu, Masjid Lautze juga jadi tempat bagi warga keturunan Tionghoa yang ingin mempelajari dan memeluk agama Islam.

Setelah melihat perkembangan, di Bandung juga ternyata dibutuhkan masjid serupa. Sehingga, pada 1997, Masjid Lautze 2 Bandung akhirnya didirikan. Dengan hadirnya Masjid Lautze 2, warga keturunan Tionghoa di Bandung dan sekitarnya diharapkan punya tempat khusus untuk mempelajari Islam.

Bukan karena ingin ekslusif. Kehadiran masjid ini diharapkan membuat komunitas muslim dari etnis Tionghoa semakin kuat. Sehingga, satu sama lain bisa saling membantu dan menguatkan. Sebab, ketika mereka belajar di tempat lain, sambutan yang diterima belum tentu membuat mereka nyaman sebagai minoritas.



Di Masjid Lautze 2, para mualaf dan muslim keturunan Tionghoa, akan merasa seperti di lingkungan keluarganya sendiri. Sehingga, satu sama lain merasa lebih 'nyambung' dan diterima. Hal itu diharapkan membuat mereka istiqamah alias konsisten dalam memeluk dan menjalankan agama Islam. Selain itu, suasana di lokasi yang sangat identik dengan nuansa Tionghoa juga memberi kenyamanan tersendiri.

"Begitu komunitasnya sama, frekuensinya sama, kan lain ceritanya (akan membuat mereka lebih nyaman), termasuk suasana," tutur Hernawan.

Namun, masjid ini tetap seperti masjid pada umumnya. Di sini, semua umat muslim bisa masuk, salat, mengikuti pengajian, serta berbagai kegiatan lainnya. Bahkan, karena lokasinya berada di tengah kota dan tepat di pinggir jalan, banyak orang yang tak sengaja melintas ke lokasi ikut salat ketika azan berkumandang.



139 Orang Berikrar Syahadat
Sebagai 'rumah' bagi para mualaf, Masjid Lautze 2 menjadi tempat bagi mereka yang ingin masuk Islam dan belajar. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat ada 139 orang yang mengikrarkan syahadat sebagai syarat memeluk Islam di masjid tersebut.

"Kalau dari 1997 saya enggak hapal (berapa orang yang bersyahadat). Tapi yang tiga tahun dipegang sekarang sudah 139 orang. Itu hampir setiap minggu (ada yang bersyahadat)," jelas Hernawan.

Mereka yang datang ke sini untuk berikrar syahadat memang mayoritas warga keturunan Tionghoa. Hanya sekitar 30 persen bukan Tionghoa. Meski begitu, menurutnya jika dirunut ke garis keturunan leluhurnya, dari 30 persen itu juga mayoritas punya garis keturunan Tionghoa.

Menurutnya, yang datang ke sana biasanya sudah punya tujuan ingin mempelajari agama Islam sekaligus jadi mualaf. Mereka biasanya mendapatkan informasi dari teman atau mencarinya dari internet.

Namun, enggak serta-merta mereka yang ingin menjadi mualaf langsung diajak mengucapan dua kalimat syahadat. Pihak DKM akan lebih dulu memberikan bimbingan.

"Kalau di sini, kita syaratkan kalau mau ikrar syahadat ada pembinaan dulu empat kali. Jadi, mereka diberi pemahaman soal Islam," tutur Hernawan.

Dengan cara itu, para calon mualaf akan dibekali berbagai pengetahun. Sehingga, di akhir pembinaan, calon mualaf benar-benar yakin dan mantap ingin memeluk agama Islam. "Kalau sudah mantap, sudah yakin, baru kita fasilitasi (mengikrarkan syahadat)," ucapnya.

Mereka yang menjadi mualaf di sini juga enggak hanya berasal dari Bandung loh, TemanBaik. Beberapa di antaranya ada yang dari daerah lain seperti Kalimantan, Manado, dan Bali. Setelah menjadi mualaf, mereka akan dibimbing melalui pengajian rutin. Namun, khusus bagi mereka yang tinggal di luar Bandung, mereka dibimbing jarak jauh, misalnya melalui telepon atau video call.

Dengan cara seperti itu, komunikasi dengan para mualaf tidak terputus. Di saat yang sama, mereka akan terus mendapatkan berbagai ilmu dan pemahaman seputar dunia Islam. Bahkan, karena mereka sudah mantap menjadi muslim, hingga kini tak ada satupun mualaf yang berpindah keyakinan ke agama lain.

"Alhamdulillah selama ini saya tidak pernah mendengar ada yang keluar (pindah ke agama lain)," katanya.

Selain membimbing dari segi ilmu, para mualaf juga difasilitasi untuk usaha jika membutuhkannya. Sebab, kerap ada persoalan jalur ekonomi mualaf 'terputus' setelah memutuskan menjadi muslim. Pihak DKM akan membantu dan membimbing mereka hingga kembali mandiri dan bisa berusaha. Bahkan, di lokasi disediakan rumah singgah bagi mualaf.

"Prinsipnya kita bantu mereka sesuai kemampuan kita, tapi fokusnya biar mandiri. Banyak yang begitu," ungkap pria yang berprofesi sebagai dosen teknik sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Perkembangan Jemaah
Di awal-awal keberadaannya, Masjid Lautze 2 Bandung tak seperti sekarang. Justru, awalnya masjid ini hanya dibuka ketika azan harus berkumandang. Setelah salat, masjid akan kembali ditutup. Itu karena tidak ada pengurus yang tinggal di lokasi.

Namun, sejak akhir 2016, masjid ini beroperasi seperti masjid lain pada umumnya. Kapasitas masjid ini mampu menampung hingga 200 jemaah. Namun, khusus setiap salat jumat, jemaah bisa mencapai lebih dari 1.000 orang. Itu karena jemaah meluber hingga trotoar, termasuk di seberang masjid.

Keberadaan masjid ini dari waktu ke waktu semakin dicintai dari jumlah jemaah yang hadir. Dulu, jemaah di sini paling hanya sekitar 10 orang. Namun, secara perlahan, semakin banyak yang salat dan berkegiatan di sana. Bahkan, untuk pengajian setiap hari minggu saja bisa mencapai 100 orang.

Tak hanya itu, warga setempat juga banyak yang salat di lokasi. Sehingga, meski nama dan suasananya berbau Tionghoa, masjid ini jadi masjid publik alias milik bersama. Bahkan, warga setempat juga kerap terlibat berbagai kegiatan di masjid ini.

Ketika salat jumat misalnya, anak-anak muda dari Karang Taruna setempatlah yang aktif mempersiapkan segala kebutuhan, mulai dari bersih-bersih hingga memasang tenda di luar masjid.

Masjid ini juga jadi representasi kerukunan umat beragama. Sebab, kerap ada berbagai kegiatan yang dilakukan bersama antara umat Islam dengan umat agama lain. Saat Ramadan misalnya, di sini rutin dilakukan pembagian takjil gratis. Mereka yang terlibat berasal dari berbagai umat beragama.

Bahkan, beberapa kali mereka juga bekerja sama untuk membagikan makanan dan sembako kepada masyarakat setelah terjadi pandemi COVID-19. Tak hanya itu, setiap bulan pengurus di sini juga rutin melakukan bakti sosial ke berbagai daerah.

Kini, para pengurus Masjid Lautze 2 Bandung dan jemaahnya terus menguatkan diri agar masjid itu jadi tempat ibadah umat muslim. Di saat yang sama, Masjid Lautze 2 juga jadi 'rumah' bagi para mualaf sesuai dengan konsep awal didirikannya.

Foto   : Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Layout: Agam Rachmawan/beritabaik.id 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler