Perjalanan hingga Mitos di Balik Bioskop Legendaris Bandung

Bandung - TemanBaik, Kota Bandung punya banyak tempat bersejarah dan menarik. Salah satunya adalah bekas gedung Bioskop Dian di Kota Bandung.

Saat ini, gedung eks Bioskop Dian tak berfungsi apapun. Gedungnya tak terawat dan pintu serta gerbangnya kerap ditutup. Trotoar di depan gerbang pun menjadi arena berjualan makanan.

Bagi yang tak tahu, sekilas tak akan menyangka jika bangunan itu adalah gedung bersejarah dan punya cerita menarik. Ya, kondisinya memang terbengkalai.

Gedung Bioskop Dian sendiri berada di Jalan Dalem Kaum. Lokasinya tepat berada di samping area rumah dinas Wali Kota Bandung. Di seberangnya adalah Palestine Walk atau Jalan Palestina yang diapit Alun-alun Kota Bandung dan lahan eks bangunan Palaguna.



Begitu masuk ke lokasi, bau apek khas bangunan tak terawat menyapa hidung. Penerangan pun hanya mengandalkan cahaya yang masuk melalui celah-celah gedung. Suhu di lokasi pun terasa lembap.

Beberapa bagian atapnya menjuntai semacam kayu triplek yang sudah tak lagi kokoh di tempatnya. Bahkan, triplek itu mungkin tinggal menunggu waktu saja untuk jatuh. Apalagi, di lokasi sudah banyak triplek yang tak ada di tempatnya. Jika diibaratkan, bagian atap bangunan, terutama tripleknya ini seperti baju compang-camping, bolong di beberapa tempat, sebagian di antaranya menjuntai tinggal menunggu waktu terjatuh.


Baca Ini Juga Yuk: Perjalanan Masjid Lautze 2, Rumah Mualaf Tionghoa di Bandung

Struktur rangka atapnya terlihat jelas terbuat dari kayu. Namun, kayu-kayu ini tampak masih kokoh karena kualitas tinggi yang dimilikinya. Sedangkan bagian dindingnya di beberapa sudah terlihat keropos dan memperlihatkan isi di dalamnya.

Di lantai dua yang merupakan balkon sekaligus tempat film diputar sebelum disorotkan ke layar, suasananya juga tak jauh berbeda. Bau apek dan lembap! Namun, BeritaBaik.id tak diperbolehkan masuk ke area proyektor pemutar film. Yang bisa dilihat hanya bagian pintunya saja yang berwarna cokelat.

Namun, kondisi ini sebenarnya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebab, pada Desember 2020, tempat ini dibersihkan untuk menggelar pameran tunggal seniman Tisna Sanjaya. Sekitar 20 orang dikerahkan untuk membersihkan gedung.

Mereka yang membersihkannya pun harus bekerja ekstra keras untuk membuat gedung tersebut jauh lebih bersih. Namun, faktanya gedung ini tak bisa benar-benar bersih karena kadung terbengkalai sangat lama.



Sebelum dibersihkan, sampah berserakan di mana-mana. Bahkan, untuk membuat lantai kembali terlihat butuh keuletan tersendiri membersihkannya. Sebab, pada lantainya menempel tanah dan debu yang sangat tebal.

Setelah para petugas bekerja keras, gedung ini pun akhirnya menjadi lebih hidup. Apalagi, di lokasi dipasang beberapa karya seni karya Tisna Sanjaya, salah satunya lukisan dipasang di bagian kiri-kanan gedung di lantai satu.

Sejarah
Dari segi arsitektur, bangunan eks Bioskop Dian ini begitu terasa khas gedung kolonial Hindia Belanda dengan dominasi warna putih di bagian dindingnya. Dulu, gedung yang disebut-sebut dibangun pada 1925 ini dikenal dengan sebutan Bioskop Radio City. Bangunan ini dulu dimiliki pengusaha bioskop bernama F.J.W. de Kort.

Di zaman kolonial Hindia Belanda, tempat ini merupakan bioskop bagi orang-orang Belanda. Sedangkan kaum pribumi saat ini hanya bisa berangan-angan menonton film di sana. Kaum pribumi hanya bisa menikmati film layar tancap. Menonton layar tancap pun jelas tak senyaman di bioskop. Sebab, ketika hujan terjadi, penononton akan bubar. Sehingga, lahirkan istilah misbar alias gerimis bubar.

Singkatnya, setelah Indonesia merdeka, barulah kaum pribumi bisa menonton film di bioskop, termasuk di Radio City yang kemudian berubah nama menjadi Bioskop Dian. Pengelolaannya pun berada di tangan Perusahaan Daerah Jawa Kepariwisataan Jawa Barat.

Bioskop ini aktif beroperasi hingga 1990-an. Secara perlahan, keberadaan bioskop ini tergerus oleh hadirnya bioskop lain yang jauh lebih baik di Bandung. Hingga akhirnya, bioskop ini benar-benar mati.

Gedung ini sempat terbengkalai cukup lama hingga kondisinya memprihatinkan. Seiring perjalanan, gedung ini sempat dijadikan lapangan futsal dan tempat penjualan pakaian bekas atau orang Bandung menyebutnya pakaian Cimol. Namun, ujung-ujungnya gedung ini kembali terbengkalai seolah tak punya tuan.



Baca Ini Juga Yuk: Mengenal 'Derenten', Tempat Wisata Legendaris di Bandung

Tempat Gaul Anak Bandung
Meski sekarang gedung ini terbengkalai, dulunya merupakan tempat keren loh, TemanBaik. Bahkan, ada istilah jika belum nonton di sini, orang Bandung belum disebut gaul. Apalagi di era 1980-an hingga 1990-an. Bioskop Dian jadi tempat yang hits banget bagi warga Bandung.

Jika enggak percaya, coba deh kamu tanya orang tua di Bandung yang pernah merasakan hidup pada periode tahun tersebut. Menyebut nama Bioskop Dian akan membuat mereka terkenang.

"Bioskop Dian ini dulu paling bagus, paling ramai di Bandung," ujar Supriatna (49), warga Kebon Kalapa, Kota Bandung.

Pria yang lebih akrab disapa Pak Ujang ini pun mengenang masa jaya Bioskop Dian. Ia kerap datang ke sana bersama orang tuanya pada tahun 1980-an. Seingatnya, dulu tiket untuk menonton di sana sekitar Rp500.

Ia tahu dengan detail berbagai tempat di sana. Tempat penjualan tiket ada di posisi dekat gerbang di sebelah kiri. Namun, tempat itu kini begitu berserakan dengan sampah. Bahkan, ada kasur segala loh yang tentunya enggak terawat.

Pak Ujang lalu menunjuk bagian tempat poster film dipasang di sebelah kanan dekat pintu masuk. "Ini masih asli kayu dan kacanya," ucapnya.



Area tangga menuju ke lantai dua alias balkon juga masih asli. Pegangan tangga berwarna cokelat menurutnya tak berubah sama sekali sejak ia pertama kali ke sana. Di dekat tangga, terdapat toilet.

Secara keseluruhan, gedung ini tak mengalami perubahan. Apalagi, gedung ini masuk kategori heritage alias cagar budaya. Sehingga, tak boleh diubah sama sekali dan harus tetap seperti bentuk aslinya.

"Itu gerbang besi buat pintu keluar juga masih asli bentuknya seperti itu," ungkap Pak Ujang sambil menunjuk gerbang besi di sebelah kiri lantai satu.

Dulu, warna kursi di bioskop ini berwarna merah. Menurutnya, bentuk kursinya mirip seperti kursi bus Damri zaman dulu. Kapasitas di bioskop sendiri menurutnya bisa menampung sekitar 100 orang, itu termasuk di lantai dua.

Ia sendiri paling suka menonton di lantai dua. Sebab, jaraknya cukup jauh dengan posisi di atas. Sehingga, menonton di sana lebih memanjakan pandangan saat menyaksikan film. Seingatnya, harga tiket untuk bisa nonton di sana sekitar Rp500 saat itu.



Identik dengan Film Bollywood
Bioskop Dian sendiri punya ciri khas dibanding bioskop lain di Bandung pada masanya. Bioskop ini lebih banyak memutar Bollywood alias film India. Meski begitu, ada juga film dari negara lain yang diputar, terutama dari barat.

Sehingga, tak heran biasanya penggemar film India selalu datang ke Bioskop Dian. Sebab, bioskop ini jadi surganya film India di masa jayanya. Pak Ujang juga termasuk salah seorang penggemarnya.

"Ada film lain, tapi ciri khasnya film India. Saya dulu senang nonton film Mithun (Chakraborty)," kenang Pak Ujang.

Menurutnya, bioskop ini memang begitu ramai di masaa jayanya. Bahkan, setiap akhir pekan, biasanya banyak muda-mudi yang nonton. Namun, ada juga orang tua yang jadi 'penonton tetap' di sini.



Mitos
Karena gedung ini tak terawat, ada beberapa mitos yang berkembang. Apalagi, suasana di lokasi memang terkesan horor. Sehingga, mitos pun berkembang.

Salah satu yang cukup kental di sini adalah adanya penampakan orang tinggi-besar. Sosok ini biasanya muncul jika orang yang berkunjung ke sini bertingkah sembarangan dan menantang keberadaan makhluk di sini. Orang Sunda biasanya menyebut sikap ini dengan istilah sompral.

Tak tanggung-tanggung, sosok tinggi-besar ini biasanya memperlihatkan diri secara jelas pada yang bersangkutan. Namun, ini hanya sekadar mitos ya, TemanBaik. Percaya atau tidak, ini tergantung kamu sendiri.

Meski begitu, di masa jayanya, mitos soal sosok tinggi besar ini menurut Pak Ujang tak terdengar. Ia menduga mungkin karena ramai oleh pengunjung, sehingga mitos-mitos seperti itu tak berkembang. Mitos itu baru berkembang setelah gedung itu terbengkalai.

Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler