Yayasan AIR, Mengikis Stigma Residivis dengan Kegiatan Positif

Bandung - Menjadi mantan narapidana atau residivis tentu bukan hal mudah. Usai menjalani hukuman di balik jeruji besi, mereka harus berkutat dengan stigma di masyarakat ketika bebas.

Cap sebagai pelaku kriminal kerap membuat langkah mereka sulit. Apalagi, terkadang mantan narapidana dijauhi masyarakat. Akibatnya, mantan narapidana seolah tak di terima masyarakat meski mereka sudah tuntas menjalani hukuman dari perbuatannya.

Hal ini yang kemudian direspon Yayasan Anugerah Insan Residivist (Yayasan AIR). Yayasan ini menjadi rumah bersama bagi para residivis. Mereka akan diterima dengan tangan terbuka. Sehingga, para mantan narapidana bisa mendapatkan tempat yang akan menerima mereka apa adanya.

Secara formal, Yayasan AIR resmi dibentuk pada 1 April 2018. Namun, cikal-bakalnya sudah ada sejak tahun 2000 dengan berbasis komunitas. Sempat beberapa kali berganti nama, Yayasan AIR kemudian dipilih sebagai identitas serta diperkuat dengan pengesahan sebagai yayasan oleh Kementerian Hukum dan HAM.

Saat ini, Yayasan AIR punya anggota lebih dari 500 orang. Mereka adalah para mantan narapidana yang mayoritas warga Bandung. Selain di Bandung, yayasan ini juga kerap menjangkau lapas atau rumah tahanan (rutan) di daerah lain untuk menyosialisasikan keberadaan mereka.


                                                                         Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Baca Ini Juga Yuk: Ini Kabar Terbaru Vaksin COVID-19 Buatan Sinovac

Apa Kegiatannya?
TemanBaik mungkin penasaran, apa sih yang dilakukan para mantan narapidana di Yayasan AIR? Ada banyak banget loh kegiatannya. Salah satunya adalah menyosialisasikan keberadaan Yayasan AIR hingga pencapaian yang dilakukan.

Contoh lainnya adalah melakukan bakti sosial ke berbagai lapas serta rutan di Bandung dan Jawa Barat. Sesekali, mereka juga mengunjungi daerah lain di luar Jawa Barat, di antaranya pernah ke Deli Serdang, Banten, hingga Manado.

"Kamis ini kita mau ke lapas di Indramayu, kita mau sharing motivasi dan baksosnya bagi-bagi masker," ujar Heri Coet, sapaan Asep Djuheri, kepada BeritaBaik.id di Balai Kota Bandung, Selasa (5/1/2021).

Para anggotanya juga kerap melakukan berbagai kegiatan, mulai dari seni-budaya, olahraga, hingga pemberdayaan dan pelatihan keterampilan kerja. Tujuannya agar membuat mereka menjadi pribadi yang positif selepas dari penjara. Bahkan, mereka akan dibantu agar bisa kembali mandiri dan mencari uang dengan cara halal.

Lewat Yayasan AIR, Heri dan kawan-kawan ingin menempa para mantan narapidana menjadi lebih baik. Hal yang terpenting, mereka merasa diterima dan mendapat keluarga baru. Mereka benar-benar diterima tanpa menerima stigma atas latar belakang masa lalu.

Sebab, penerimaan masyarakat adalah salah satu kunci agar mantan narapidana tidak mengulangi perbuatannya dan kembali masuk penjara. Mereka perlu diberdayakan agar bisa kembali hidup normal di masyarakat.

Sebaliknya, diasingkan dan kerap dicap negatif berpotensi membuat para mantan narapidana kembali 'kambuh' untuk melakukan tindakan negatif yang pernah dilakukannya. Kuncinya, mereka butuh diterima dan diakui keberadaannya. Sedangkan masa lalu mereka cukup jadi pelajaran.

"Justru semakin dimarjinalkan, semakin diasingkan, mereka semakin menjadi. Karena mereka itu orang labil yang butuh pembimbing, butuh pendamping, butuh pengakuan, butuh rangkulan," tutur Heri.

Kemandirian dan Mimpi Besar
Sejak awal, keberadaan Yayasan AIR benar-benar mandiri. Berbagai kegiatan dilakukan dengan modal seadanya dari para anggota. Meski begitu, hingga kini yayasan ini tetap bisa aktif dan melakukan berbagai kegiatan.

Bahkan, ia menyebut pendirian yayasan sejak awal hanya modal dengkul. Yang membuat ia dan rekan-rekannya bisa bertahan menjalankan yayasan adalah niat dan kemauan yang besar.

Heri pun berharap keberadaan Yayasan AIR bisa terus eksis. Sebab, yayasan inilah yang akan membuat para mantan narapidana bisa benar-benar diterima tanpa stigma dan diskriminasi.

"Misi besar saya ingin merangkul, saya jadi 'bandar sampah masyarakat', saya ingin merangkul eks narapidana, mempersautkan jadi satu kesatuan diikat dengan Yayasan AIR, menjadikan satu karya besar atau kecil tapi manfaat untuk masyarakat," tutur Heri.

Selain itu, ada mimpi lain yang tak kalah besar. Ia ingin menghadirkan Yayasan AIR di delapan provinsi di Indonesia. Selepas delapan cabang terbentuk, mimpi lain akan dikejar. Ia akan mendorong pemerintah agar Hari Eks Narapidana bisa direalisasikan.

"Mimpi besar saya sekarang, saya ingin ada hari eks napi nasional, dimana hari itu jadi tanggal merah, libur, dan semua eks narapidana mendapat keberkahan, kebahagiaan, kesejahteraan dan bisa menampilkan hasil karya mereka, seni budaya mereka, menampilkan keahlian dan kemampuan mereka," tandas Heri.

Foto: dok. Yayasan AIR

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler