Yuk! Ketahui 4 Fakta Penting Seputar Vaksin COVID-19

Jakarta - TemanBaik, program vaksinasi akan segera bergulir. Sesuai rencana, vaksinasi dimulai pada 13 Januari 2021 dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal jadi yang pertama divaksinasi.

Vaksinasi ini bisa berjalan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan Emergency Use Authorization (EuA) alias izin penggunaan darurat di masa pandemi terhadap vaksin COVID-19 buatan Sinovac.

Nah, berbicara soal vaksin COVID-19 ini, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu. Apa saja? Simak ulasannya, yuk!

1. Efek Samping
Dari hasil uji klinis tahap ketiga yang dilakukan di Bandung, ada beberapa efek samping yang dirasakan sebagian kecil relawan. Efek sampingnya pun terbagi, mulai dari kategori ringan, sedang, dan berat.

Namun, tentu enggak semua yang divaksinasi akan merasakan efek samping. Bahkan, mayoritas justru tidak merasakan efek samping. Efek samping yang ada pun bisa diatasi dan tidak berbahaya.

2. Virus Mati
Virus Sinovac sendiri salah satunya menggunakan bahan berupa virus mati atau dimatikan. Berbahaya enggak sih virus mati ini masuk ke dalam tubuh? Tentu peneliti dan pembuat vaksin sudah melakukan berbagai kajian sehingga vaksin itu dinyatakan aman. Apalagi, BPOM sebagai otoritas regulatori obat di Indonesia sudah melakukan berbagai pengujian untuk memastikan aspek mutu, khasiat, dan keamanannya.

Menurut Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization Sri Rezeki, di dalam vaksin yang berisi virus mati itu ditambahkan suatu zat yang disebut adjuvant. Ini tujuannya untuk meningkatkan respon imun tubuh.

"Adjuvant ini yang sering menimbulkan gejala lokal," kata Sri.

Gejala lokal itu di antaranya nyeri dan pegal di area bekas suntikan. Jadi, gejala lokal yang mungkin timbul bukan karena virus COVID-19 yang dimatikan, ya!

Baca Ini Juga Yuk: Kabar Baik, BPOM Terbitkan Izin Darurat Vaksin Sinovac

Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Iris Rengganis menambahkan, virus mati di dalam vaksin COVID-19 tidak akan bisa berkembang di dalam tubuh. Sebab, ya itu tadi, virus yang ada sudah mati.

"Vaksin (virus) mati itu aman, dia tidak bisa lagi berkembang biak di dalam tubuh," tutur Iris.

Karena itu, ia berharap masyarakat paham. Sehingga, ketika setelah divaksin justru seseorang terpapar COVID-19, itu bukan berarti akibat dari virus mati dalam vaksin. Terpaparnya seseorang justru akibat tidak menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar.

3. Tak Menjamin 100 Persen Bebas COVID-19
Mungkin ada di antara kamu yang belum memahami soal ini. Vaksin COVID-19 tidak berarti mampu membuat seseorang benar-benar bebas atau tidak akan terpapar COVID-19.

"Apakah menjamin (setelah divaksin tak akan terpapar COVID-19? Saya kira judulnya tidak ada yang 100 persen," ucap Sri.

Lalu, kenapa harus divaksin jika tetap ada risiko terpapar? Dengan vaksinasi, tubuh akan punya imunitas untuk melawan COVID-19. Sehingga, ketika kamu terpapar COVID-19 usai divaksinasi, risiko buruk bisa diminimalisir.

"Kalau sudah diimunisasi, kena COVID-19, insya Allah tidak akan (mengalami gejala) berat kalau sudah imun," ungkapnya.

4. Harus Dua Kali Disuntik Vaksin
Ada juga yang bertanya kenapa sih vaksinasi COVID-19 harus dilakukan dua kali dalam rentang waktu tertentu? Bahkan, setelah divaksin yang kedua kali, tubuh perlu waktu untuk membentuk kekebalan terhadap COVID-19.

"Paling tidak, setelah dua kali suntik, butuh waktu 14 hari sampai sebulan, baru dia maksimal antibodinya (terhadap COVID-19)," ujar Sri.

Karena itu, dalam rentang waktu tersebut, orang yang divaksinasi harus tetap menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Sebab, dikhawatirkan ketika imunitas belum terbentuk kuat, COVID-19 justru menyerang dan menimbulkan gejala.

Foto: 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler