Perjuangan Ibu Tunanetra Dampingi Anaknya Sekolah Daring

Bandung - TemanBaik, kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) banyak dikeluhkan orang tua dengan berbagai alasan. Bahkan, orang tua banyak yang merasa tertekan selama hampir setahun ini mendampingi anaknya mengikuti PJJ.

Namun, kamu pernah membayangkan enggak bagaimana seorang ibu tunanetra mendampingi anaknya yang punya penglihatan normal mengikuti PJJ? Apa yang mereka alami jauh lebih sulit daripada orang tua lain dengan penglihatan normal. Namun, bukan berarti enggak bisa. Mereka juga bisa melakukannya seperti orang tua lain pada umumnya.

Ada hal menarik dan tak banyak dibahas dari aktivitas ibu tunanetra yang mendampingi anaknya mengikuti PJJ. BeritaBaik.id pun bertemu dengan Popon Siti Latipah (34), seorang tunanetra dengan kebutaan total, di kediamannya di kawasan Ciumbuleuit, Kota Bandung.

Popon punya anak bernama Biyan Salaksa Perceka atau akrab disapa Chika (9). Berbeda dengan Popon dan suaminya yang merupakan tunanetra, Chika punya penglihatan normal. Chika adalah siswi kelas III di SDN 077 Sejahtera di kawasan Sukajadi.

Seperti siswa pada umumnya, Chika selama hampir setahun ini harus mengikuti PJJ. Ketika belajar, ia biasanya didampingi sang ibu. Namun, tentu bukan hal mudah bagi Popon mendampingi anaknya belajar dan memastikan semua pelajaran bisa diserap dan tugas dikerjakan dengan baik.

Popon pun membagi pengalamannya selama mendampingi anaknya mengikuti PJJ. Hal seperti ini jarang diulas loh! Yul, kita simak.



Andalkan Aplikasi Screen Reader
Sama seperti orang lain pada umumnya, tunanetra juga bisa menggunakan ponsel. Bahkan, mereka bisa membalas aplikasi percakapan dengan cara mengetik loh. Popon sendiri memanfaatkan aplikasi screen reader yang membuat ponselnya mengeluarkan suara ketika menyentuh layar. Suara itulah yang membuat Popon bisa menggunakan ponsel.

Karena aplikasi itulah Popon bisa tahu tugas apa saja yang harus dikerjakan anaknya. Sebab, tugas sekolah itu biasanya dikirimkan guru melalui aplikasi WhatsApp. Tinggal menyentuh pesan dari sang guru di layar ponsel, maka ia bisa tahu dari suara yang muncul tugas atau instruksi apa yang diberikan untuk dijalankan anaknya.

Ia sendiri bersyukur dengan adanya kemajuan teknologi seperti itu karena merasa sangat terbantu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya jika harus mendampingi anak belajar jarak jauh ketika ponsel belum secanggih sekarang.

"Kalau buat saya, alhamdulillah banget, adanya teknologi itu sangat membantu dalam banyak hal," ujar Popon.

Namun, diakuinya, tak semua bisa dilakukan menggunakan aplikasi screen reader. Untuk file instruktsi tugas dalam bentuk foto misalnya, aplikasi itu tak bisa membacanya. Sehingga, ia harus meminta sang anak menjelaskan apa yang ada di dalam foto.

Baca Ini Juga Yuk: Begini Cara Teman Netra Mengenalkan Huruf pada Anaknya

Belajar Lagi
Seperti orang tua kebanyakan, Popon juga harus kembali belajar berbagai ilmu pengetahuan. Itu dilakukan agar ia bisa membantu anaknya belajar, khususnya biar sang anak bisa mengerjakan tugas.

Ia mencontohkan ketika belajar mata pelajaran tertentu, ia berusaha mencari informasi. Misalnya mencari format bentuk buku pelajaran dalam bentuk dokumen PDF. Tujuannya agar buku tersebut bisa diketahui isinya menggunakan aplikasi screen reader.

"Kan bukunya enggak bisa kita baca langsung, akhirnya cari sendiri, download. Apa aja kita lakukan, yang penting ngulik biar bisa mendampingi anak belajar," tuturnya.

Belajar yang dilakukan Popon pun tergolong ekstra. Sebab, meski mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, ia punya cara khusus dalam belajar. Ini tentu berbeda dengan cara belajar sang anak di sekolah.

Misalnya untuk perkalian atau pembagian, Popon mempelajarinya saat sekolah di SLB. Namun, teknik penghitungannya berbeda dengan teknik bagi yang punya penglihatan normal. Karena itu, ia berusaha menyesuaikan diri agar sebisa mungkin bisa membimbing anaknya melakukan penghitungan.

Popon dan Chika mengandalkan komunikasi untuk memperlancar proses belajar. Chika akan menjelaskan sedetail mungkin proses yang dilakukan dalam penghitungan. Sedangkan Popon akan menjadi pengarah untuk menuntun sang anak.



Merekam Video dan Foto
Ya, Popon juga bisa merekam video atau mengambil foto. Sebab, kegiatan merekam video dan mengambil foto ini jadi hal umum dalam PJJ. Siswa yang sedang belajar harus direkam melalui video dan foto.

Saat BeritaBaik.id di lokasi, kebetulan Chika sedang mendapatkan tugas mata pelajaran olahraga. Ia diminta melakukan gerakan sesuai instruksi dan merekamnya dengan ponsel. Untuk tugas seperti ini, Chika terlihat sangat telaten.

Kegiatan merekam dilakukan sang ibu. Chika yang memberi instruksi, mengatur posisi ponsel yang dipegang Popon, hingga menempatkan diri di posisi tepat agar video dirinya berolahraga sesuai yang diharapkan. Tak jarang, hal ini harus dilakukan berkali-kali karena hasil video tak sesuai.

Sedangkan untuk tugas yang harus difoto, hal ini kerap dilakukan berulang kali. Misalnya ketika Chika harus difoto saat mengerjakan tugas, Popon-lah yang memotretnya dengan ponsel. Karena Popon tak bisa melihat, Chika yang mengarahkan bagaimana posisi yang tepat untuk memotret.

Namun, hal ini tak semudah yang dibayangkan. Foto yang diambil cukup kerap blur hingga obyek foto terpotong. Meski begitu, kadang hal seperti ini memancing gelak tawa tersendiri di antara ibu dan anak tersebut.

Khusus untuk pengambilan foto tugas yang dilakukan sang anak, biasanya Chika sendiri yang melakukannya. Begitu juga ketika foto harus dibuat menjadi kolase sebelum dikirimkan kepada guru, Chika melakukannya sendiri.

"Kalau untuk bikin kolase, itu saya enggak bisa sama sekali karena enggak bisa melihat. Jadi, Chika sendiri yang bikin," ungkap Popon.

Bermodal Komunikasi dan Kepercayaan
Bagi Popon dan Chika, menjalani PJJ memang tak semudah orang lain. Bahkan, dengan keterbatasan penglihatan, Popon juga sama seperti orang tua lain. Ia merasa tertekan, stres, serta beragam perasaan negatif lainnya.

Sebab, ia sama sekali tak pernah menduga bahwa pandemi akan datang dan kegiatan belajar akhirnya harus seperti sekarang. Namun, ia berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Popon membuktikan bahwa ia juga bisa menjalankan peran sebagai orang tua seperti orang lain, termasuk mendampingi anak mengikuti PJJ.

Ia pun merasa beruntung karena Chika punya pengertian yang tinggi, sabar, dan mudah diatur. Bahkan, Chika menurutnya punya kemampuan untuk mendeskripsikan berbagai hal dengan sangat baik. Hal itulah yang membuat PJJ selama hampir setahun ini bisa dilaluinya.

Kata kuncinya adalah komunikasi. Popon dan Chika selalu bersusaha satu sama lain berkomunikasi sebaik mungkin. Sehingga, ketika ada tugas yang harus dikerjakan, keduanya bisa menciptakan kolaborasi apik sebagai ibu dan anak.

"Intinya, modalnya kepercayaan sama komunikasi sama anak," ucap Popon.

Lalu, bagaimana untuk memastikan tugas anaknya sesuai instruksi? Ia menyebut kepercayaan yang diandalkan. Ia punya keyakinan penuh pada sang anak dalam mengerjakan semua tugasnya. Namun, untuk memastikannya, Popon akan bertanya dengan detail setiap tugas yang dikerjakan sang anak.

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler