Batu, Jamu, dan Bedak dalam Perjalanan Bung Karno

Bandung - TemanBaik, membahas soal sosok Presiden pertama Indonesia Sukarno alias Bung Karno selalu menarik dibahas. Salah satu yang menarik diulas adalah cerita tentang batu hingga jamu dan bedak dalam perjalanan Bung Karno.

Benda-benda itu punya andil penting dalam membentuk sosok Bung Karno. Benda-benda itu jadi penopang perjuangan beliau dalam upaya memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajalan kolonial Hindia-Belanda.

Untuk mendapatkan cerita ini, BeritaBaik.id menyambangi kediaman Tito Asmara Hadi di kawasan Cibolerang, Kota Bandung. Tito merupakan anak Ratna Djuami. Sedangkan Ratna Djuami adalah anak angkat Inggit dan Sanusi.

Dengan ramah, Tito pun menceritakan kisah di balik batu, jamu, dan bedak tersebut. Ia mendapat cerita langsung dari Inggit. Sebab, ketika SMA, ia tinggal selama 3 tahun bersama Inggit. Saat tinggal bersama itulah ia banyak menggali cerita seputar perjalanan sang nenek.



Batu, jamu, dan bedak itu bermula ketika Inggit Garnasih masih bersuamikan saudagar di Bandung bernama Haji Sanusi. Saat berusia antara 16-17 tahun, Inggit mempelajari cara membuat jamu dan bedak.

Jamu dan bedak itu dibuat dengan ramuan tradisional. Proses pembuatannya menggunakan beberapa batu, salah satunya batu pipisan. Batu itu berfungsi untuk menghaluskan berbagai bahan yang ada untuk diolah menjadi jamu atau bedak.

Baca Ini Juga Yuk: Museum Geologi, Laboratorium Geologi Warisan Belanda

Berkat keuletannya, Inggit punya lima produk saat itu. Pertama adalah bedak 'Kasai', yaitu bedak dingin yang salah satunya berfungsi untuk mengobati jerawat. Kedua, bedak 'Ningrum' yang berkhasiat menghaluskan kulit. Selanjutnya, ada jamu untuk mengobati sariawan, beras kencur, dan jamu khusus kewanitaan.

"Pemasarannya saat itu hanya di lingkungan Bandung," ujar Tito.



Untuk memasarkannya, Inggit menitipkannya di warung-warung saat itu. Selain itu, ia juga menjual produknya di tempat tinggalnya.

Datangnya Bung Karno
Singkat cerita, di tengah kehidupan rumah tangga Inggit dan Sanusi, Bung Karno datang. Ia ke Bandung untuk kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) atau sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB). Bung Karno mulai berkuliah di sana pada 2 Juli 1921.

Saat kuliah di Bandung itu, Bung Karno tinggal di rumah Sanusi yang berada di kawasan Pasirkaliki. Ia tinggal di sana karena dorongan H.O.S Tjokroaminoto. Kebetulan, Tjokroaminoto dan Sanusi merupakan sahabat.

Bung Karno hanya beberapa bulan saja kuliah, setelah itu, ia pulang ke Surabaya. Pada Juni 1922, Bung Karno kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahnya dan kembali tinggal di rumah Sanusi yang saat itu beristrikan Inggit. Sedangkan Bung Karno saat itu yang baru menikah membawa Oetari yang merupakan istrinya.



Seiring perjalanan waktu, pada akhirnya Sanusi dan Inggit bercerai pada Desember 1922. Bung Karno juga bercerai dengan Oetari pada Januari 1923 dan memulangkannya ke Surabaya.

Pada 24 Maret 1923, terjadilah pernikahan antara Bung Karno dan Inggit. Pernikahan yang berlangsung sederhana itu terjadi di rumah Amsi, ibu Inggit Garnasih. Setelah menikah, Bung Karno dan Inggit menjalani biduk rumah tangga. Mereka pun tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di Bandung.

Inggit Sang Penopang
Kehidupan Inggit berubah drastis setelah menikah dengan Bung Karno. Sebab, Sanusi yang merupakan suami sebelumnya merupakan saudagar kaya. Sebaliknya, Bung Karno yang menikahinya saat itu adalah seorang mahasiswa. Secara ekonomi, perbandingan Bung Karno dan Sanusi terpaut jauh.

Inggit-lah yang kemudian menopang roda ekonomi keluarga. Bahkan, ia membiayai kuliah Bung Karno. Tak hanya itu, berbagai gerakan perjuangan dan kegiatan politik Bung Karno juga disokong Inggit.

"Setelah menikah dengan Bung Karno, yang jadi tulang punggung ekonomi Bu Inggit, bukan Bung Karno," ucap Tito.

Inggit berbisnis dengan membuat dan menjual produk berupa bedak dan jamu. Dukungan penuh diberikan Inggit kepada Bung Karno untuk menjalankan berbagai kegiatannya. Bahkan, Inggit-lah yang jadi salah seorang sosok penting di belakang layar yang membuat Bung Karno jadi politisi yang matang hingga mampu membawa Indonesia meraih kemerdekaan.



Inggit pun menempuh banyak perjuangan. Berbagai kesulitan yang mendera pun tetap membuatnya setia pada Bung Karno. Bahkan, ketika Bung Karno dipenjara hingga menjalani pengasingan, Inggit selalu berusaha ada untuknya.

Batu itulah yang menjadi saksi bisu perjuangan Inggit dalam menopang Bung Karno dan berjuang melawan penjajahan. Sehingga, menurut Tito, batu itu menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia, bukan sekadar batu biasa.

"Jadi, batu itu punya andil untuk kemerdekaan Indonesia. Karena batu itu dipakai untuk membiayai Bung Karno melakukan kegiatan politik dan perjuangan," jelasnya.

Sementara selain menjual jamu dan bedak, pada perjalanannya Inggit juga menggeluti bisnis lain. Ia menjual rokok hingga alat-alat pertanian yang didatangkan dari kawasan Ciwidey yang saat ini masuk wilayah administrasi Kabupaten Bandung.


Jamu & Bedak yang Kini Jadi Legenda
Merunut Tito, produk jamu dan bedak Inggit tak hanya ada saat Inggit berumah tangga dengan Bung Karno. Selepas keduanya bercerai pada 1942, Inggit tetap melanjutkan usahanya. Hal itulah yang jadi penopang Inggit menjalani kehidupan hingga akhir hayatnya pada 1984.

Menurut Tito, jamu dan bedak buatan Inggit cukup terkenal. Sudah banyak yang merasakan khasiatnya. Sebab, bahan-bahan yang digunakan juga merupakan bahan baku pilihan. Proses pembuatannya juga dilakukan dengan sangat serius. Untuk membuatnya, Inggit dibantu para pekerja yang masih punya hubungan saudara dengannya.

"Bahan-bahannya itu ada yang dari beras. Berasnya juga harus pakai pare gede (padi berukuran besar) yang panennya enam bulan sekali. Kalau dedaunan yang dipakai seperti daun muncang (kemiri), daun dadap, daun kemuning," tutur Tito.

Selepas Inggit meninggal, Tito sempat meneruskan usaha produk jamu dan bedak Inggit. Proses produksinya dilakukan di rumah keluarga di kawasan Cibolerang. Namun, ada berbagai kendala yang dihadapi hingga akhirnya usaha itu tak lagi berlanjut setelah 1990-an.



Ia terbentur dengan waktu karena saat Tito merupakan PNS. Sehingga, konsentrasinya terpecah antara bekerja sebagai PNS dan meneruskan usaha Inggit. Selain itu, ia juga terbentur dana untuk mengembangkan usaha tersebut.

Sehingga, kini jamu dan bedak buatan Inggit pun hanya menjadi legenda. Yang tersisa hanyalah cerita. Bahkan, dokumentasi seputar jamu dan bedak itu pun tak ada. Sebab, di zaman dulu tak semudah sekarang mengabadikan momentum dengan kamera ponsel.



Apa yang Masih Utuh?
Meski jamu dan bedak itu hanya tinggal cerita, batu yang dipakai untuk membuat jamu dan bedak itu masih ada hingga kini. Tito menyimpannya agar benda bersejarah itu benar-benar aman dan terjaga.

Sebab, ia memandang batu tersebut punya arti yang begitu besar. Bukan hanya baginya sebagai keluarga Inggit, tapi bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ia ingin batu itu tetap ada dan terus lestari.

Namun, batu itu juga dibuat replikanya dan disimpan di Museum Inggit Garnasih di Jalan Inggit Garnasih (Ciateul), Kota Bandung. Di sana, batu disimpan dalam kotak kaca. Bentuknya dibuat semirip mungkin dengan aslinya.



Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler