Hal Menarik soal Sesaji yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Bandung - TemanBaik, di altar vihara atau kelenteng kerap terdapat sesaji atau sesajen. Ini sebagai bentuk persembahan dari umat untuk para dewa yang disembah.

Sesajinya sendiri beraneka macam, mulai dari buah-buahan segar, sayuran, hingga makanan berat. Sesaji itu akan ditata dengan sangat rapi di altar. Sehingga, penempatan sesaji ini bahkan makin mempercantik tampilan altar.

Namun, tahukah kamu bagaimana nasib sesaji itu setelah dipersembahkan? Apakah langsung dibuang begitu saja usai dipersembahkan bagi dewa? Simak penjelasannya, yuk!

Pengurus Vihara Dharma Ramsi Kota Bandung Asikin mengatakan berbagai makanan dan sesaji itu tak dibuang usai dipersembahkan kepada dewa. Sesaji itu boleh banget dimakan kok bagi siapapun yang mau.

"Sesaji itu dipersilakan dimakan, enggak apa-apa," ujar Asikin.

Namun, enggak sembarangan dimakan ya. Sebab, sesaji itu baru boleh dimakan ketika selesai dipersembahkan bagi dewa. Jadi, jangan karena ada di altar dan boleh dimakan, lalu diambil dan dimakan begitu saja oleh siapapun yang mau.



Baca Ini Juga Yuk: Serba-serbi Teh dan Kedekatannya dengan Kuliner Imlek

Sesaji itu akan dibawa dari altar dalam waktu tertentu. Waktunya sendiri berbeda-beda, sebab ada sesaji yang bisa bertahan beberapa hari seperti buah-buahan. Namun, ada juga yang hanya bisa bertahan kurang dari sehari, misalnya makanan berat.

Setelah selesai dipersembahkan, sesaji itu akan dibawa dari altar. Kalau sudah begitu, baru deh sesaji boleh dimakan. Di Vihara Dharma Ramsi misalnya, sesaji biasanya dikonsumsi oleh pengurus dan pekerja di vihara. Umat yang datang ke lokasi juga biasanya dipersilakan membawa bekas sesaji.

Karena jumlah sesaji biasanya banyak banget, terkadang juga dibagikan pada warga sekitar atau siapapun yang mau. Jadi, aneka makanan yang dipersembahkan itu tak berakhir sia-sia, apalagi dibuang begitu saja.

Berharap Berkah
Menurut Asikin, sesaji itu merupakan bentuk persembahan dan ketataan kepada dewa. Sehingga, umat yang memberi persembahan juga tak dipatok harus mempersembahkan apa. Intinya, persembahan ini sesuai kemampuan dan keinginan umat.

Biasanya, umat akan datang ke vihara atau kelenteng dengan membawa persembahan dan menyimpannya di altar. Setelah itu, umat akan meninggalkan lokasi. Sebelum pergi, umat biasanya akan memberikan informasi pada pengurus vihara atau kelenteng jika persembahannya boleh dikelola pengurus apakah akan dimakan atau dibagikan.

Namun, terkadang ada juga umat yang mengambil kembali persembahannya. Sehingga, setelah selesai dipersembahkan kepada dewa, sesaji itu dibawa pulang lagi.

Dalam aneka makanan melalui sesaji itu, umat yang biasa beribadah ke vihara atau kelenteng, berharap menuai berkah. Sehingga, ketika dikonsumsi, tak hanya memberi kepuasan di mulut dan perut saja.

Lebih dari itu, makanan yang sudah dipakai sebagi sesaji bagi dewa, dianggap punya keberkahan tersendiri. Sehingga, ketika mengonsumsinya, kehidupan mereka diyakini akan lebih berkah dan dinaungi berbagai kebaikan.

Sudah tak Ada 'Sari'?
Tak bisa dipungkiri, di masyarakat selama ini berkembang jika makanan yang pernah dipakai untuk sesaji itu rasanya hambar karena 'sarinya' sudah diambil dewa. Bahkan, ada yang beranggapan mengonsumsi sesaji bakal membawa malapetaka atau dampak negatif lainnya.

Benar enggak sih? Menurut Asikin, hal itu sebenarnya tidak tepat. Sebab, sesaji itu tak berubah rasa meski sudah dipersembahkan bagi dewa. Rasanya akan tetap sama saja, misalnya apel yang manis akan tetap manis.

Perubahan rasa terjadi jika makanan persembahan tersebut sudah disimpan berhari-hari. Jeruk misalnya, namanya juga buah-buahan, jika disimpan kelamaan berhari-hari tentu bakal mengubah kualitas dan rasanya.

"Katanya enggak ada sarinya kalau sudah dipakai persembahan. Itu mah hanya mitos," ucap Asikin.

Begitu juga soal dampak negatif mengonsumsi sesaji. Justru sebaliknya, mengonsumsi sesaji yang sudah dipersembahkan kepada dewa diyakini membawa keberkahan, bukan membawa malapetaka.

Namun, diakuinya, anggapan-anggapan seperti itu memang ada di masyarakat, terutama yang berbeda keyakinan. Hal itu karena ketidaktahuan dan maraknya hoaks yang beredar. Di saat yang sama, kadang masyarakat juga malu atau segan jika bertanya langsung pada umat yang bersangkutan karena takut menyinggung.

Ia sendiri kerap menerima pertanyaan soal makanan sesaji, terutama hal-hal yang sudah dibahas di atas. Ia pun memaklumi. Bahkan, ia senang ketika ada yang tidak tahu justru bertanya langsung soal ketidaktahuannya. Ia akan memberi penjelasan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.

Harapannya, berbagai anggapan atau mitos yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat bisa tercerahkan. Sehingga, rasa penasaran dan keingintahuan masyarakat juga bisa terjawab.

Foto: Altar Vihara Dharma Ramsi. (Oris Riswan/Beritabaik.id)


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler