Cerita Peliknya Jadi Jurnalis Televisi saat Pandemi

Bandung - TemanBaik, menyaksikan siaran berita di televisi tentu hal mudah. Kamu tinggal duduk manis dan menyaksikannya saja. Namun, pernah membayangkan enggak bagaimana perjuangan dan dilematisnya jurnalis televisi untuk mendapatkan berita? Apalagi di tengah pandemi COVID-19.

Enggak mudah loh menjadi jurnalis televisi di tengah pandemi. Selain berbagai kesulitan dan rintangan untuk mendapatkan berita, wartawan televisi merasakan sisi dilematis hampir setiap harinya yang tak banyak diketahui publik.

Namun, berbagai hal itu dikesampingkan. Para jurnalis televisi tetap berjuang untuk mendapatkan berita agar bisa ditayangkan di televisi. BeritaBaik.id pun berbincang dengan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Barat Iqwan Sabba Romli. Ia mengungkap berbagai hal pelik di balik profesi jurnalis televisi di tengah pandemi. Apa saja?

Risiko Tinggi Terpapar COVID-19
Karena berita televisi merupakan berita audio-visual, wartawan televisi dituntut untuk selalu datang ke lokasi peliputan. Mulai dari kantor pemerintahan, tempat kejadian bencana, rumah sakit, tempat kecelakaan, bahkan kerusuhan. Bahkan, terkadang meski sedang tak enak badan atau ada kepentingan keluarga, mereka akan berusaha datang dan menomorsatukan peliputan.

Namun, di tengah pandemi COVID-19, profesi jurnalis khususnya yang bekerja di lapangan menjadi salah satu profesi yang cukup rentan. Bahkan, sejauh ini di Kota Bandung saja ada sekitar 15 jurnalis televisi yang pernah terpapar COVID-19. Namun, mereka semua sudah dinyatakan sembuh.

Kenapa sih jurnalis televisi disebut menjadi salah satu yang paling berisiko tinggi terpapar COVID-19? Itu karena mereka harus melakukan wawancara dan peliputan secara langsung. Metode mereka berbeda dengan jurnalis cetak atau daring yang terkadang dalam situasi tertetu dapat melakukan wawancara melalui sambungan telepon. Begitu juga dengan jurnalis foto yang dalam kondisi tertentu bisa menggunakan lensa tele agar bisa memotret dari jarak jauh. 

Sedangkan jurnalis televisi mendapat kesulitan tersendiri. Sebab, tak semua instansi atau narasumber menyediakan rilis berupa video. Sehingga, mau enggak mau mereka harus datang ke lokasi dan melakukan peliputan.

Hal itu membuat mereka cukup tinggi risiko terpapar COVID-19. Sebab, mereka bisa liputan ke mana saja dan bertemu siapa saja setiap harinya. Di antara kegiatan peliputan itu, mereka bisa saja terpapar COVID-19 tanpa diketahui ditularkan dari siapa.

"Mau enggak mau jurnalis televisi itu harus ke lapangan buat liputan. Jadi, risiko terpapar COVID-19 memang tinggi," ujar Iqwan.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Gejala Baru COVID-19 dan Penyebabnya

Sulitnya Melakukan Wawancara
Di masa pandemi, banyak orang yang merasa takut untuk bertemu orang lain. Begitu juga dengan narasumber yang hendak diwawancarai jurnalis televisi. Sebagian dari mereka justru tak mau bertemu langsung karena khawatir terpapar atau menularkan COVID-19.

Hal ini menjadi sisi dilematis tersendiri. Sebab, wartawan televisi dituntut mendapatkan berita dengan cepat, akurat, dan tentunya bisa dihadirkan dalam bentuk video. Bagaimana solusinya?

Kondisi seperti ini sebenarnya bisa disiasati. Misalnya narasumber merekam sendiri video wawancara setelah disodorkan berbagai pertanyaan wawancara. Setelah itu, narasumber mengirimkan videonya ke jurnalis yang bersangkutan atau ke kantor televisi tempat sang jurnalis bekerja. Adanya teknologi pun cukup memudahkan karena pengiriman video bisa dilakukan melalui ponsel.

Meski bisa disiasati dengan cara seperti itu, kualitas video belum tentu sesuai harapan. Apalagi, setiap media televisi punya gaya pengambilan dan kekhasan yang berbeda. Alhasil, video wawancara kiriman narasumber terkadang alakadarnya. Namun, karena penting atau menariknya jawaban narasumber, kualitas video kadang dipaksakan dan pihak televisi mengorbankan gaya serta kekhasannya.

Prokes Bikin Aman, tapi Jadi Kendala
Pemerintah kerap mengingatkan semua warga untuk menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Hal ini pula yang berusaha terus digaungkan jurnalis televisi melalui pemberitaannya. Namun, tahu enggak jika hal ini justru membuat pekerjaan jurnalis televisi jadi lebih rumit?

Saat melakukan sesi wawancara, narasumber diharuskan memakai masker. Sebab, mereka akan ditampilkan di layar kaca dan harus menjadi contoh dalam penerapan protokol kesehatan. Siapapun narasumbernya, mau pejabat atau orang biasa, masker wajib dipakai.

Selain itu, saat ini banyak narasumber yang menggunakan face shield. Hal ini diyakini semakin menambah rasa aman agar terhindar dari paparan COVID-19. Namun, hal ini menambah pelik pekerjaan jurnalis televisi. Kenapa?

Sebab, penggunaan masker membuat suara narasumber kadang menjadi kurang jelas. Apalagi jika ditambah menggunakan face shield, suara narasumber akan lebih 'teredam' sehingga semakin enggak jelas. Kondisi ini akan lebih parah jika suara narasumber memang kecil. Jika ini terjadi, jurnalis televisi akan pusing banget loh.

Itu karena gambar dan suara harus jelas serta sinkron ketika ditayangkan di televisi. Jika suara narasumber tak jelas, jurnalis akan kesulitan membuat naskah dan mengedit videonya agar suaranya menjadi lebih jelas ketika ditayangkan.

Sulit Menjaga Jarak
Dalam berbagai kesempatan liputan, jurnalis kerap mendapat cibiran. Sebab, jurnalis termasuk pihak yang gencar mempromosikan penerapan protokol kesehatan. Namun, di saat yang sama, ketika melakukan peliputan, terkadang jurnalis berkerumun dan tak menjaga jarak.

Ini jelas jadi dilematis tersendiri. Mereka juga paham kok sebenarnya jaga jarak harus dilakukan. Namun, situasi di lapangan memang membuat mereka mau enggak mau harus seperti itu. Mereka berusaha menyajikan kualitas gambar dan suara sebaik mungkin agar informasi mudah dicerna masyarakat ketika menyaksikannya di televisi.

Di tengah kondisi seperti itu, kesadaran diri menjadi kunci. Saat sulit menjaga jarak, minimal mereka menerapkan perlindungan diri, terutama memastikan memakai masker dengan baik dan benar. Selain itu, seusai pengambilan gambar, mereka bisa menjaga diri dengan mencuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer.

"Itu kembali ke pribadi masing-masing soal bagaimana menjaga diri dari COVID-19 di tengah kerumunan. Kalau saya pribadi paham kondisi (pandemi) ini enggak akan berakhir kalau kita enggak jaga diri," jelas Iqwan.

Dalam situasi tertentu, penerapan jaga jarak memang bisa dilakukan. Misalnya ketika konferensi pers di suatu instansi atau acara resmi. Itu pun tergantung pihak penyelenggara apakah mengatur tempat untuk peliputan atau tidak. Jika tidak diatur, jaga jarak akan sulit dilakukan.

Apalagi jika peliputan yang dilakukan memang punya daya tarik besar untuk diberitakan. Contohnya ketika seorang artis divaksinasi, akan ada banyak wartawan yang terjun ke lokasi. Karena sama-sama punya kebutuhan gambar, satu sama lain bakal bersaing untuk mendapatkan spot terbaik merekam gambar. Jika kondisi seperti ini terjadi, jurnalis televisi harus pandai-pandai menjaga diri.

Kekhawatiran pada Keluarga
Jurnalis televisi tentu punya keluarga yang dicintai. Mereka juga tak mau terpapar COVID-19 dan akhirnya menularkannya pada orang-orang di rumah. Mereka juga enggak mau menularkan COVID-19 pada tetangga, teman-teman, atau siapapun orang yang ditemuinya.

Selama pandemi, jurnalis televisi dihantui ketakutan terpapar COVID-19. Namun, demi tugas dan tujuan memberi informasi pada publik, hantu menakutkan itu mereka hadapi. Mereka tetap menjalankan tugas dan meminimalisir potensi tertular serta menularkan dengan menerapkan protokol kesehatan sebaik mungkin.

Alat 'Perang' yang Berisiko
Kamu pernah membayangkan enggak jika kamera yang dipakai jurnalis televisi bisa jadi sarana penularan COVID-19?. Sebab, bisa jadi ketika melakukan peliputan, COVID-19 menempel pada kamera dan ujung-ujungnya membuat sang jurnalis terpapar. Hal ini membuat risiko mereka terpapar cukup tinggi.

Karena itu, jurnalis televisi harus lebih apik menjaga alat 'perang'. Kamera yang ada harus sesering mungkin disterilisasi. Iqwan sendiri punya cara khusus menjaga agar kameranya tidak jadi sarana penular COVID-19.

"Minimal saya menggunakan tisu anti basah, antibakteri untuk mengelap dan membersihkan bodi kamera," jelas Iqwan.

Namun, ada sisi dilematis yang enggak kalah pelik, yaitu bagian lensa. Bagian ini tak boleh dibersihkan menggunakan tisu basah. Sehingga, sebisa mungkin bagian lensa ini jadi hal yang paling dihindari disentuh dan harus dijaga kebersihannya. Sebab, ketika kamera digunakan, bukan tidak mungkin ada COVID-19 yang menempel pada bagian lensa tanpa disadari.

Selain itu, ponsel hingga laptop juga jadi alat kerja yang harus selalu disterilisasi. Jadi, semua peralatan kerja wajib dijaga kebersihannya demi menghindari jadi sarana penularan.

TemanBaik, sudah tahu kan jika menjadi jurnalis televisi di tengah pandemi bukan hal mudah dan dilematis? Salut banget deh pada jurnals televisi yang berkutat dengan pekerjaan dan profesionalitasnya di tengah pandemi COVID-19. Yuk, doakan mereka agar selalu sehat dan tidak terpapar COVID-19! Amin.

Foto: Ilustrasi Pexels/Allberto Calleja

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler