Mengenang Perang Lengkong, Hadapi Sekutu dalam Kondisi Banjir

Bandung - TemanBaik, jika kamu berkunjung ke Kota Bandung dan melintas ke pertigaan Jalan Lengkong Besar-Cikawao, kamu akan melihat monumen tepat di tengahnya. Ada dua monumen di sini, satu berupa senapan dan satu lagi berupa batu.

Karena lokasinya ada tepat di pertigaan, monumen ini seolah jadi pembatas bagi kendaraan dari arah Lengkong Besar menuju Cikawao dan sebaliknya. Namun, ada cerita yang menarik untuk diulas di balik hadirnya monumen tersebut.


Nama Monumen
Publik di Bandung sebagian menyebutnya dengan nama monumen atau patung senapan. Ada juga yang menyebutnya tugu bedil. Bedil sendiri merupakan bahasa Sunda yang berarti senapan.

Padahal, ada nama resmi loh yang disematkan terhadap monumen ini. Bahkan, namanya juga dicantumkan pada prasasti di sana.

"Monumen Pahlawan Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Diresmikan: Bandung 17-10-1995 oleh wali Kotamadya KDH TK II Bandung Wahyu Hamijaya".

Ada Apa di Tempat Tersebut?
Di kawasan Lengkong itu dulunya merupakan sebuah tempat pertempuran. Hal ini ditegaskan melalui tulisan pada prasasti di lokasi.

"Pada tanggal 2 Desember 1945 di tempat ini telah terjadi pertempuran antara pemuda pejuang kemerdekaan melawan tentara Belanda/NICA dan Inggris dengan kekuatan artileri dan Angkatan Udara Inggris di Sepanjang Jalan Merdeka, Lembong, Lengkong Besar, dan Ciateul dari pukul 06.00-21.00 WIB," begitu isi tulisan pada prasasti tersebut.

Untuk mengulas cerita seputar peperangan di tempat tersebut, BeritaBaik.id berbincang dengan Gatot Gunawan, pegiat sejarah dari Kelompok Anak Rakyat (Lokra). Menurutnya, peristiwa perang di Jalan Lengkong itu sebenarnya merupakan peristiwa rangkaian.



Dulunya, selepas Indonesia merdeka, di kawasan Lengkong itu terdapat beberapa kamp atau tentara dan orang-orang Belanda. Mereka mengungsi di rumah-rumah. Setiap rumah rata-rata diisi 8-10 keluarga.

"Di sana itu ada puluhan rumah dan diisi beberapa ratus KK (kepala keluarga)," kata Gatot.

Selain orang Belanda, di kawasan tersebut juga banyak warga pribumi. Sebab, kawasan tersebut memang kawasan padat penduduk saat itu.

Baca Ini Juga Yuk: Kenalan dengan Gajah Purba yang Pernah Hidup di Indonesia 

Sekutu kemudian datang dengan tujuan membebaskan tawanan dan orang-orang Belanda di sana. Pada akhir November 1945, warga yang tinggal di utara Bandung pun diperintahkan mengungsi ke selatan Bandung oleh Panglima Sekutu di Jawa Barat saat itu, Brigjen N. Macdonald.



Warga saat itu tidak terima diperintahkan meninggalkan lokasi yang masuk dalam kawasan Bandung Utara. Apalagi yang datang adalah tentara sekutu. Karena baru awal-awal Indonesia merdeka, kedatangan tentara sekutu itu menimbulkan kecurigaan warga bahwa mereka akan kembali menjajah Indonesia.

Peperangan pun akhirnya terjadi. Pihak sekutu melalui Angkatan Udara Inggris membombardir kawasan tersebut dari udara dan darat.


Beerperang di Tengah Banjir
Sebelum peperangan meletus di kawasan Lengkong tersebut, ada peristiwa lain yang menambah dramatis. Banjir besar sempat melanda kawasan setempat. Bahkan, warga berjibaku beberapa hari untuk melakukan evakuasi dan menyelamatkan berbagai harta-benda.

"Waktu itu sedang banjir besar karena Sungai Cikapundung meluap. Jadi, ketika banjir belum beres, warga menghadapi tentara sekutu," tutur Gatot.

Pihak Indonesia diserang lebih dulu oleh tentara sekutu karena tak mau meninggalkan lokasi. Akhirnya, pasukan Indonesia mundur ke kawasan Tegalega. Namun, tidak diketahui persis berapa korban jiwa dalam peperangan tersebut.

Jelasnya, saat itu para pejuang berkutat dalam dua kejadian sekaligus. Mereka berkutat dengan banjir dan perang dalam saat bersamaan.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, akhirnya Pemkot Bandung menghadirkan monumen pada 1995. Monumen itu jadi penanda bahwa di sana pernah terjadi peperangan dengan pihak sekutu yang kemudian kerap disebut sebagai Perang Lengkong.



Foto  : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Agam: Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler