Harus Siap Pegal, Cerita di Balik Profesi Jurnalis Radio

Bandung - TemanBaik, setiap jurnalis punya keunikan dan kesulitan tersendiri dalam memburu berita. Dalam tulisan kali ini, BeritaBaik.id akan membahas sekelumit dunia jurnalis radio. Simak ulasannya, yuk!

Seperti jurnalis pada umumnya, jurnalis radio akan mencari informasi yang akan disiarkan untuk publik melalui radio tempatnya bekerja. Mereka berkutat dengan waktu, harus secepat mungkin mendapatkan informasi, dan tentu saja harus akurat.

Jurnalis radio juga terkadang mengorbankan waktu pribadinya ketika harus meliput. Bahkan, tak jarang mereka meninggalkan keluarga demi mendapatkan informasi. Bahkan, saat orang lain tertidur nyenyak malam hari, mereka kadang harus menuju suatu tempat yang menantang bahaya.

Cerita di atas jadi hal yang biasa dialami para jurnalis. Namun, selalu ada sisi menarik yang bahkan jarang diketahui publik. Atep Burhanudin (43) membagi ceritanya menjadi jurnalis radio. Ia sendiri bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) yang dalam kesehariannya bertugas di Kota Bandung. Apa saja sih sisi lain dari jurnalis radio? Simak ulasannya, yuk! 

Recorder atau alat perekam tentu jadi senjata utama bagi jurnalis radio. Sebab, ucapan atau penjelasan narasumber harus terekam agar bisa disiarkan. Selain itu, penjelasan narasumber jelas jadi bahan utama untuk membuat naskah berita.

Saat ini, jurnalis radio dimudahkan dengan alat perekam yang ringkas dan canggih. Sudah banyak yang menggunakan recorder digital, bahkan memakai ponsel untuk merekam. Hal ini berbeda dengan zaman dulu dimana merekam menggunakan hand recorder analog yang sepaket dengan kaset pita.

Alat 'tempur' berikutnya adalah ponsel. Ponsel ini akan digunakan saat jurnalis lapangan melakukan reportase siaran dari lapangan atau untuk diolah pihak produksi.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Peliknya Jadi Jurnalis Televisi saat Pandemi

Proses Produksi Berita
Agar berita bisa disiarkan melalui radio, tentu ada proses yang mesti dilalui. Jurnalis lapangan akan mencari informasi dan tentunya rekaman pembicaan narasumber. 

Setelah itu, rekaman bakal diolah. Atep sendiri biasanya menulis omongan narasumber dari bahan rekaman. Berikutnya, ia akan mencari angle (sudut pandang) yang akan diangkat sebagai topik utama berita yang bakal disiarkan.

Ia lalu akan mengolah rekaman dan menentukan bagian mana yang bakal dipakai sebagai 'kutipan'. Sebab, siaran berita di radio memadukan naskah yang dibaca dan suara narasumber yang diputar.

Untuk menentukan penjelasan narasumber yang bakal dipakai sebagai 'kutipan', Atep biasanya menggunakan aplikasi melalui komputer jinjingnya. Proses memotong ini sebenarnya bisa dilakukan melalui ponsel, tapi menggunakan komputer jinjing menurutnya lebih presisi dan kualitasnya lebih baik.

Setelah selesai dan siap disiarkan, ada dua metode pelaporan atau siaran yang bisa dilakukan. Pertama adalah mengirimkan bahan berita 'jadi' ke redaksi melalui surat elektronik, di dalamnya berupa naskah dan potongan audio narasumber. Naskah dan potongan suara itu kemudian diolah bagian produksi untuk disiarkan.

Cara kedua adalah melalui sambungan telepon. Pihak kantor akan menghubungi jurnalis lapangan. Sehingga, yang bersangkutan akan membacakan naskah berita dan memutarkan potongan kutipan berupa audio.

Perlunya Tempat Sunyi
Secara umum, proses reportase atau laporan hasil peliputan harus disampaikan di tempat yang tergolong sunyi. Sehingga, tidak ada suara lain yang mengganggu saat berita dilaporkan jurnalis lapangan kepada redaksi atau pihak produksi.

Tempat sepi yang dimaksud pun mungkin enggak kamu bayangkan sebelumnya. Mulai dari taman hingga toilet. Ini pintar-pintarnya jurnalis mencari tempat sepi. Bahkan, ada juga loh jurnalis radio yang menggunakan helm agar proses reportasenya terhindar dari noise atau suara bising dari luar. Di luar itu, jurnalis radio terkadang punya keunikan tersendiri.

Selain itu, baterai ponsel harus benar-benar dijaga agar jangan sampai mati ketika melakukan reportase atau siaran lapangan. Baterai juga harus penuh sebagai antisipasi sewaktu-waktu harus melakukan reportase.

Tangan Harus Kuat
Mungkin TemanBaik ada yang mengernyitkan dahi, kenapa tangan jurnalis radio harus kuat? Itu karena jurnalis radio selalu berburu audio apa yang diucapkan narasumber.

Persoalannya, suara narasumber enggak melulu didapatkan dengan mudah loh, misalnya melalui door stop atau wawancara langsung di hadapan narasumber. Terkadang, door stop enggak bisa dilakukan karena berbagai kondisi.

Sebagai gambaran, dalam sebuah konferensi pers, jurnalis radio akan langsung mencari di mana speaker berada. Di sinilah mereka akan menyimpan alat perekam untuk merekam apa yang dibicarakan narasumber.

Namun, terkadang speaker ini tak pasti tempatnya. Kadang di bawah, kadang menggunakan penyangga yang tingginya 1-2 meter, bahkan kadang speaker sudah 'dipatenkan' berada di area atap. Jika posisi speaker sangat tinggi, inilah mimpi buruk bagi jurnalis radio.

Sebab, mereka harus mengangkat tangannya ke atas  sambil memegang alat perekam. Bisa dibayangin enggak pegalnya melakukan ini selama beberapa menit?

"Saya pernah paling lama setengah jam," ungkap Atep.

Jika kamu membayangkan mengangkat tangan itu mudah, coba deh praktikkan sendiri. Jadi, kamu bakal tahu bahwa perjuangan jurnalis radio mendapatkan audio narasumber itu memang enggak mudah.

Hal seperti ini mau enggak mau harus dilakukan. Suka atau enggak suka, inilah bagian dari pekerjaan yang harus dijalani jurnalis radio.

"Soalnya berita radio itu mengandalkan audio. Kalau enggak ada audio narasumber atau enggak ada remaman, enggak bisa disiarkan," tutur Atep.

Lupa yang Kerap Mengintai
Sebenarnya,lupa merupakan hal lumrah bagi jurnalis. Ya, namanya juga manusia biasa, kan? Siapapun bisa kapan saja lupa atau lengah saat akan melakukan sesuatu.

Jurnalis televisi atau jurnalis foto misalnya, hal yang kerap terjadi adalah mulai dari lupa memasukkan kartu memori, lupa memasukkan baterai, hingga lupa mengisi ulang daya baterai kamera. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai hal, bisa karena terburu-buru, sedang tidak fokus, atau beragam penyebab lainnya.

Bagi jurnalis radio, hal yang cukup fatal dilakukan adalah lupa menekan tombol 'record' pada recorder maupun aplikasi perekam pada ponsel. Jika ini sampai terjadi, siap-siap deh jurnalis radio bakal kebingungan bekerja.

Atep sendiri pernah beberapa kali mengalaminya. Jika kondisi seperti ini terjadi, otomatis ia harus bekerja dua kali, yaitu kembali mewawancarai narasumber. Kadang narasumber bersedia diwawancara lagi, ada juga yang menolak.

Karena itu, ia selalu berusaha agar tak lupa menekan tombol 'record' ketika akan mulai merekam. Sebab, jika kurang jeli, insiden gagal merekam bisa kembali terulang.

Harus Piawai Lisan dan Tulisan
Banyak orang yang beranggapan bahwa menjadi jurnalis radio harus piawai dalam lisan, terutama penuturan. Sebab, jurnalis radio dituntut harus bisa deskriptif dalam menjelaskan sesuatu bagi pendengar.

Bahasa yang diramu pun harus dibuat sesederhana mungkin agar mudah 'dicerna' pendengar. Hal ini yang jadi tantangan. Sebab, kadang narasumber memaparkan hal detail dan terlalu sarat istilah teknis yang dipahami orang tertentu saja.

Di sinilah jurnalis harus jeli menyajikan sederhana dari bahasa yang rumit agar jadi sederhana dan mudah dipahami. Sehingga, wartawan harus benar-benar bisa menguasai topik yang akan disiarkan atau dilaporkan.

Namun, di era konvergensi media, jurnalis radio juga dituntut piawai dalam menulis alias membuat berita seperti jurnallis media daring atau cetak. Sebab, saat ini banyak radio yang punya media daring. Sehingga, selain reportase, jurnalis radio harus bisa membuat berita tulis.

Ya, memang enggak semua radio punya media daring. Tapi, jika kami tertarik menjadi jurnalis radio, kemampuan menulis berita juga sebaiknya diasah dari sekarang. Atep sendiri dalam kesehariannya membuat berita dalam dua format, yaitu audio untuk disiarkan melalui radio dan tulisan untuk dimuat di media daring. Jadi, untuk satu berita, ia membuatnya dalam dua format.

Bagi Atep, menulis di media daring merupakan hal baru. Sebab, sejak awal ia lebih banyak berkutat di dunia produksi dan sebagai jurnalis radio. Sehingga, ia butuh adaptasi cukup lama karena kadung terjebak dalam rutininas reportase radio.

"Adaptasinya lumayan sekitar enam bulan untuk bisa nulis berita gaya media online (daring). Karena gaya penulisan naskah buat siaran radio beda dengan naskah untuk media online," tuturnya.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Tyler Chandler

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler