Fenomena 'Huntu Gelap', Harta Karun Dunia di Sukabumi

Bandung - TemanBaik, Kabupaten Sukabumi ternyata punya kekayaan benda purba yang luar biasa. Salah satunya banyak ditemukannya harta karun yang disebut gigi hiu purba. Warga setempat menyebutnya 'huntu gelap'.

'Huntu gelap' sendiri merupakan bahasa Sunda yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah gigi petir. Penyebutan 'huntu gelap' ini disematkan karena awalnya warga meyakini benda itu adalah bagian dari ujung petir yang menyambar ke arah bumi.

Dulu, warga setempat punya ketakutan tersendiri dengan benda tersebut. Sehingga, tak banyak yang menyimpan benda itu.

"Dulu masyarakat sini menyebutnya 'huntu gelap', bahkan memilikinya juga takut," ujar Kepala Desa Gunungsungging Nana dalam webinar Collection Talk 'Jejak Kehidupan Purba Laut Jampang Sukabumi'.

Kenapa dulu warga setempat takut menyimpan benda 'huntu gelap'? Sebab, ada beragam mitos yang menyelimutinya. Namun, belakangan akhirnya diketahui bahwa 'huntu gelap' itu adalah fosil gigi hiu purba. Mitos yang ada pun perlahan luntur.

Beberapa bulan terakhir, warga pun banyak yang memburu gigi megalodon tersebut. Hal itu terjadi setelah mengetahui bahwa gigi itu diminati banyak orang dengan harga tinggi. Bahkan, banyak orang asing yang bersedia membayar mahal hingga jutaan rupiah.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem hingga Minggu Ini

Di kawasan Gunungsungging, Kecamatan Surade, misalnya, ada lima kampung yang jadi lokasi perburuan 'huntu gelap'. Kelimanya adalah Kampung Calenggang, Cigintung, Cilutung, Cigulingan, dan Curug Libang.

Singkat cerita, perburuan gigi megalodon ini semakin banyak dilakukan masyarakat. Pihak desa dan masyarakat setempat yang peduli pun akhirnya berinisiatif mengumpulkan fosil gigi megalodon tersebut dan disimpan di tempat khusus.

"Saya berterima kasih kepada tokoh masyarakat di sini yang mau respon dan mau peduli terhadap sumber daya alam ini," ungkap Nana.

Kenapa Banyak Gigi Megalodon?
Pakar paleontologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Aswan, S.T., M.T., mengatakan dulunya kawasan Sukabumi merupakan area bekas lautan purba. Bahkan, ada bagian yang dulunya diperkirakan merupakan laut dalam dengan kedalaman hingga 100 meter.

Kondisi itulah yang diperkirakan menjadi habitat hiu purba yang kemudian menjadi fosil setelah melalui masa jutaan tahun. Megalodon sendiri merupakan berukuran raksasa. Bahkan, ukurannya jauh lebih besar dari hiu saat ini, khususnya hiu putih yang diperkirakan merupakan keturunan megalodon.

"Besarnya kalau dia dewasa panjangnya bisa mencapai 20 meter," kata Aswan.

Megalodon sendiri diperkirakan hidup di laut berkedalaman 50-100 meter. Adapun ukuran giginya berkisar 10 sentimeter. Hiu ini merupakan predator yang mempertahankan hidup dengan memakan ikan-ikan lain, salah satunya paus purba.

Ahli paleontologi Museum Geologi Unggul Prasetyo Wibowo mengatakan banyaknya fosil gigi hiu di sana dikarenakan hiu merupakan hewan yang selalu punya gigi. Ketila giginya tanggal atau lepas, maka akan muncul gigi baru. Ketika gigi baru tanggal, maka akan tumbuh lagi gigi berikutnya. Begitu seterusnya.

"Megalodon itu kan hiu, hiu itu ikan yang giginya enggak pernah kosong. Ketika dia giginya lepas, dia akan tumbuh lagi. Memang giginya banyak sekali," jelas Unggul.

Temuan Ekslusif yang Bikin Bangga Sukabumi
Kepala Museum Geologi Iwan Kurniawan mengatakan temuan gigi megalodon di Sukabumi itu tergolong istimewa. Sebab, tak ada temuan serupa di daerah lain di Indonesia.

"Megalodon itu tidak banyak (ditemukan fosilnya). Di Indonesia itu yang ditemukan hanya di Surade. Memang ada beberapa yang ditemukanditemukan, tapi, secara ukuran kecil, salah satunya di Bojonegoro. Itu kecil kalau dibandingkan dengan di Surade," tutur Iwan.

Temuan fosil yang berkaitan dengan megalodon ini menurutnya hanya ditemukan di beberapa negara saja, misalnya Jepang, Australia, serta beberapa negara di Eropa dan Afrika. Karena itu, temuan gigi megalodon di Sukabumi itu justru menjadi harta karun dunia yang harusnya dijaga.

"Artinya (warga) Kabupaten Sukabumi harus merasa memiliki dan bangga di Sukabumi ini ada satu koleksi yang bisa dikatakan menurut saya tidak ditemukan di daerah lain. Selama ini belum pernah (ada fosil serupa) yang ditemukan di daerah lain," ungkap Iwan.

Sebagai tindak lanjut dan upaya pelestarian, pihak Museum Geologi sudah menuju ke lokasi. Beberapa hasil temuan bakal dibawa ke Museum Geologi untuk diteliti lebih lanjut. 

Sementara untuk mencegah jual-beli gigi megalodon, Museum Geologi berharap bisa menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait, terutama pemerintah daerah. Harapan besarnya, kawasan tersebut dijadikan semacam museum. Sehingga, area tersebut bisa jadi tempat penelitian hingga kawasan wisata.

"Kalau pemda, khususnya Sukabumi, bisa merealisasikan itu , itu sangat indah dan bagus sekali dan orang bisa belajar langsung di dalamnya. Bukan hanya kita, orang luar bisa masuk (melakukan penelitian)," jelas Iwan.

Foto: dok. commons.wikimedia.org/attribution-Lonfat
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler