Begini Kata Peneliti Bencana ITS Soal Banjir di Indonesia

Surabaya - TemanBaik, belakangan kita sering dihadapkan pada bencana banjir. Tentu, ini bukan hal yang kita inginkan. Lalu, bagaimana ya solusi menangani bencana ini?

Enggak bisa dipungkiri, biasanya banjir memang datang saat curah hujan di satu wilayah terbilang tinggi. Namun, peneliti bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Ir. Amien Widodo menjelaskan, hujan bukan satu-satunya faktor penyebab bencana alam yang telah terjadi sebanyak 243 kali sepanjang tahun ini.

Nah, lalu aspek apa saja sih yang harus kita perhatikan agar bisa mencegah datangnya bencana ini di kemudian hari? Simak ulasannya yuk!

Desain Kota dan Perilaku Masyarakat
Amien menerangkan kalau sebetulnya sebuah kota sudah didesain supaya dapat menghadapi hujan terbesar yang pernah terjadi untuk menghindari banjir. Kapasitas saluran air untuk menampung curah hujan yang digunakan oleh sebuah kota bisa mencapai lima hingga 50 tahun. Bahkan bisa menggunakan perencanaan 100 tahun jika tersedia ruang dan biaya yang cukup. 

Nah, curah hujan tersebut akan dihitung dan nantinya akan dibuat saluran penampung air hujan dengan dimensi yang menyesuaikan debit banjir yang akan terjadi. Saluran penampung air tersebut dapat berupa tanggul, bozem, atau rawa yang dibangun di berbagai tempat untuk menampung luapan sungai. Selain itu, untuk mempercepat penurunan muka air banjir, biasanya dipasang pompa-pompa air dan juga biasanya dilakukan pengerukan sedimen sungai, rawa, atau bozem untuk mencegah sedimentasi.

Namun sayangnya, saluran air yang telah dibuat tersebut justru tidak terjaga dengan baik seiring dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota. Dalam pandangan Amien, berkurangnya lahan membuat masyarakat mulai merambah dan bermukim di tepi sungai serta pinggiran sekeliling bozem. Mereka bahkan menjadikan sungai dan bozem tersebut sebagai tempat pembuangan sampah sehari-hari. Ia juga menyoroti kalau pembuangan sampah pada saluran air juga banyak dijumpai di pemukiman biasa maupun di pemukiman elit.


Dok. Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Baca Ini Juga Yuk: Fenomena 'Huntu Gelap', Harta Karun Dunia di Sukabumi

Padahal, perencanaan atau desain kota yang dimaksudkan tadi bisa berjalan seandainya masyarakat juga menyadari pentingnya peran mereka dalam mendukung perencanaan atau desain yang telah ada. Cara yang paling sederhana adalah dengan menjaga lingkungan.

"Perencanaan yang telah dilakukan Pemerintah itu bisa berjalan sebagaimana mestinya jika masyarakat juga mendukung dan mematuhi peraturan yang dibuat untuk menjaga saluran air," tutur peneliti sekaligus Dosen Teknik Geofisika ini.

Dampak dari tidak terjaganya saluran air ini adalah jebolnya tanggul. Ia berkaca pada banjir yang baru saja melanda Bandarkedungmulyo, di Jombang. Dalam analisisnya, Amien menyebut banjir di sana disebabkan jebolnya tanggul karena tidak kuat menahan luapan air, yang mana diakibatkan oleh debit air Sungai Konto Jombang yang tertahan oleh penumpukan kayu, pohon, dan sampah di pintu air Gudo.

Di sisi lain, ia menyebut sebenarnya sampah di pintu air Gudo sudah diketahui masyarakat beberapa hari sebelumnya. Namun karena tidak segera dilakukan tindakan, maka terjadilah tanggul jebol. Sebagai solusi, ia juga menyarankan agar dibangun jalur komunikasi khusus antara masyarakat di sekitar sungai dengan pihak pengelola sungai.

Kerja Sama, Kepekaan, dan Komunikasi
Berkaca pada data dan fakta yang ada, Amien menyebut kerja sama antar pihak dalam mencegah bencana ini sangat dibutuhkan. Selain itu, kepekaan akan tanda-tanda potensi banjir juga mesti diasah dengan dibarengi proses komunikasi dengan pihak terkait untuk mencegahnya.

Misalnya dalam kasus banjir yang diakibatkan tanggul jebol. Maka kita selain perlu menjaga saluran air, juga memahami tanda-tanda akan jebolnya tanggul tadi. Tanda tersebut antara lain yaitu adanya retakan baik sejajar maupun memotong tanggul.

Nah, jika retakan tersebut sampai ke dasar tanggul bisa diikuti rembesan air di tubuh, dasar, atau pondasi di bawah tanggul, kemudian rembesan ini bisa membesar diikuti proses erosi yang menggerus tanah tanggul searah retakan tanggul. Lalu, gerusan erosi yang terjadi ini dapat semakin melebar dan dalam ketika hujan mengguyur. Retakan yang sejajar tanggul bisa diikuti longsor di bagian dalam, luar, dan juga dasar tanggul.

"Oleh sebab itu, jangan sampai muka air sungai naik hingga sejajar tanggul maupun over topping atau air melimpah melebihi tanggul, itu menandakan bahwa keadaan sudah serius dan harus segera dilaporkan," katanya.

Sebagai penutup, Amien menyarankan kepada dua arah, yakni Pemerintah dan juga masyarakat. Kepada Pemerintah, Amien memberi saran agar pihak terkait agar memberi sosialisasi secara terstruktur, sistemik, dan masif.

Jika dijabarkan, terstruktur yang dimaksud artinya seluruh pihak khususnya yang bermukim di sekitar sungai diberi pemahaman tentang pentingnya menjaga dimensi sungai agar tetap seperti yang direncanakan, sedangkan sistemik artinya menjaga kebersamaan semua pihak dalam satu unit kesatuan untuk menjaga sungai. Sedangkan masif yang dimaksud adalah seluruh kebijakan diketahui oleh semua pihak, baik pimpinan berwenang dan masyarakat.

"Waktunya Pemerintah bersama masyarakat meningkatkan kapasitas dalam mengelola bencana. Saya harap apabila terjadi bencana kita dapat tangguh menghadapinya, serta semuanya selamat dan bisa saling menyelamatkan," tutup Amien.

TemanBaik, karena hujan akan selalu turun selama bumi masih berputar, rasanya kurang adil kalau kita menyebut hujan sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya banjir. Oleh karena itu, keseimbangan antara perilaku kita sebagai masyarakat dalam menjaga lingkungan juga besar peranannya dalam menjaga diri dari bencana ini.

Oh ya, selain menjaga lingkungan, kita juga mesti peka terhadap gejala bencana dan jangan ragu untuk berkomunikasi dengan pihak terkait apabila menemukan gejala tersebut ya. Semoga kita selalu diberi keselamatan dan terhindar dari segala bentuk bencana alam ya.

Foto:  Dok. BNPB

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler