Cerita Asikin dan 20 Anaknya yang Berbeda Keyakinan

Bandung - Perbedaan keyakinan atau agama tak jadi penghalang untuk hidup rukun. Bahkan, di balik perbedaan itu, justru kehidupan yang ada menjadi lebih indah dan berwarna. Hal ini dibuktikan Asikin (72) yang memiliki 20 anak.

Warga Cigondewah, Kota Bandung ini punya 20 anak dengan agama yang berbeda-beda. Semuanya hidup rukun dalam satu keluarga besar. "Anak saya ada 20, dari enam agama, ada semua di keluarga saya," ujar Asikin.

Asikin sendiri merupakan pria keturunan Tionghoa beragama Katolik. Ia sudah terbiasa sejak kecil hidup di lingkungan keluarga yang sarat akan perbedaan keyakinan. Sehingga, ketika berkeluarga, ia pun menerapkan kebebasan dalam urusan keyakinan beragama.

Pria keturunan Cirebon dan Malaysia itu sadar betul bahwa agama atau keyakinan adalah sesuatu yang sangat personal. Hubungan ayah dan anak pun tak lantas membuatnya memaksakan agama sang anak mengikuti keyakinan dirinya.

Asikin bercerita, memang dari 20 anak itu tak semuanya anak kandungnya. Mayoritas justru merupakan anak biologis beberapa istrinya dari pernikahan sebelumnya. Hanya empat orang yang merupakan anak kandungnya. Namun, ia menganggap mereka semua seperti anaknya sendri. Tak ada perbedaan perlakuan antara anak kandung dan bukan anak kandung.

Sementara meski beberapa kali menikah, ia menegaskan tak pernah sekalipun berpoligami. Bahkan, meski sudah bercerai dengan istri-istri sebelumnya, hubungan Asikin dan mereka tetap berjalan baik. Begitu juga dengan anak-anaknya.

Keunikan Saat Berkumpul
Salah satu tradisi unik yang dilakukan ketika berkumpul adalah ketika makan bersama. Itu memang jadi momentum yang paling ditunggu. Sebelum makan, semua anggota keluarga akan berdoa sesuai ajaran agama masing-masing.

Menu yang disajikan juga menyesuaikan. Sehingga, tak ada makanan terlarang yang disajikan bagi mereka yang punya keyakinan tertentu. Misalnya untuk anggota keluarga yang vegetarian, selalu ada makanan yang dikhususkan untuknya oleh anggota keluarga yang lain ketika berkumpul.

Bahkan, untuk urusan ibadah, masing-masing diberi keleluasaan meski sedang berkumpul. Misalnya ketika azan berkumandang, Asikin dan anak-anaknya yang non muslim bakal mempersilakan mereka yang muslim untuk salat.

Baca Ini Juga Yuk: Lody Lontoh, Master Aerobik yang Berjuang Sejak Usia 7 Tahun

Momentum kumpul keluarga besar ini biasanya terjadi setahun sekali. Di momen itulah Bhineka Tunggal Ika benar-benar tersaji. "Biasanya 1 Januari itu kumpul semua," ungkap Asikin.

Selain 1 Januari, momentum berkumpul lainnya adalah ketika perayaan ibadah keagamaan. Misalnya ketika Natal, semua anggota keluarga akan mengunjungi mereka yang merayakan Natal. Saat Idulfitri, mereka yang nonmuslim mengunjunginya.

"Kalau perayaan agama semua datang, saling berkunjung, saling menghormati," ungkap Asikin.

Kegiatan berkumpul ini pun semakin meriah. Sebab, tak hanya kakak-adik saja yang hadir, cucu dan cicitnya juga biasanya ikut hadir. "Saya sudah punya 11 cucu dan tiga cicit," ucapnya.

Kebebasan Penuh Memilih Agama
Yang menarik, bagaimana Asikin dan anak-anaknya bisa punya keyakinan begitu beragam? Itu karena ia beberapa kali menikah dengan perempuan yang berbeda keyakinan. Selain itu, seiring perjalanan, anak-anaknya itu diberi keleluasaan penuh untuk memilih agama.

Tak pernah sekalipun ada paksaan untuk mengikuti ajaran agama tertentu. Semua benar-benar merdeka atas pilihannya sendiri. Bagi Asikin, urusan keyakinan tak bisa dipaksakan. Sehingga, masing-masing anaknya memilih keyakinan yang memang diyakininya secara personal.

"Silakan kalau urusan agama itu masing-masing. Karena ibarat kita punya tujuan ke Jakarta, tujuannya sama, tapi jalannya berbeda-beda," tutur Asikin.

Anak-anaknya pun ditempa untuk benar-benar mengedepankan toleransi. Sehingga, setiap personal tidak mencampuri urusan agama adik atau kakaknya. Bahkan, pembahasan soal agama jadi salah satu hal yang dihindari ketika mereka berkumpul. Hal ini untuk menghindari adanya ketersinggungan atau kesan mempengaruhi.

Indah banget kan TemanBaik jika tetap bisa bersatu dalam beragam perbedaan?

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler