Perjalanan Wimar Witoelar dari Jurnalis Hingga Jubir Presiden

Jakarta - Kabar duka kembali menyelimuti kita. Mantan Jubir Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wimar Witoelar, meninggal dunia pada Rabu (19/5/2021). Kabar duka itu disampaikan Direktur Utama Biro Konsultan InterMatrix Communication (IMX), Erna Indriana, melalui pesan singkat.

Sepak terjang pria berambut kribo ini memang luar biasa. Khususnya pada dekade 90-an, Wimar sering nampil di televisi. Acara yang saat itu cukup populer dan masih terngiang sampai saat ini adalah Perspektif, sebuah acara bincang-bincang yang tayang di SCTV.

Jauh sebelum menjadi juru bicara Presiden, Wimar yang lahir di Padalarang, Jawa Barat, 17 Mei 1945 menghabiskan masa remaja dan masa mudanya di Jakarta dan Bandung. Ia tercatat sebagai lulusan SMA Kanisius, Jakarta, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tidak hanya menuntut ilmu di dalam negeri saja, Wimar juga menuntut ilmu sebagai mahasiswa luar negeri. Ia tercatat sebagai alumnus George Washington University di Amerika Serikat. Namun, di ITB ia tercatat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB.

Saat menjadi mahasiswa di Amerika Serikat, Wimar menunjukkan ketertarikannya terhadap media. Ia kerap menjadi kolumis untuk beberapa media internasional. Penggemar acara Larry King Show ini kemudian masuk dunia pertelevisian di Amerika Serikat pada dekade 1970-an.

Baca Ini Juga Yuk:'5x24' Jam yang Sebaiknya Dipatuhi Pemudik dan Wisatawan

Ia kerap menyapa pemirsa Tanah Air lewat tayangan di TVRI yang menyediakan paket laporan dari Amerika. Ia melaporkan dan menyapa pemirsa Tanah Air dalam kurun waktu 1971-1975.

Wimar tercatat memulai kiprah di Indonesia sebagai Dosen pada Program Transportasi di ITB pada 1975 sampai 1982. Kemudian, ia menjadi dosen Magister Manajemen dan Bisnis Administrasi Teknologi. Setelahnya, kami tidak menemukan rekam jejak Wimar di dunia pendidikan.

Namun yang pasti, adik dari Mantan Menteri Lingkungan Hidup RI era Presiden SBY ini juga tercatat pernah menjabat berbagai posisi penting, mulai dari Presiden Direktur PT Inter Property, pimpinan PT Caksuraga Nusantara Media-CNM dan PT Inter Sinolair Knight, Presiden Direktur PT InterMatrix Bina Indonesia, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PB Pelti (Persatuan Lawn Tenis Indonesia) pada 1996.

Acara Perspektif Hingga Jubir Presiden
Kecintaan Wimar terhadap dunia jurnalistik makin terlihat saat dirinya menyajikan acara 'Perspektif'. Acara ini menampilkan bincang-bincang dengan narasumber dengan gaya yang cukup mendobrak pakem wawancara media kala itu. Dikutip dari Harian Kompas edisi 19 Maret 1995, acara Perspektif yang dibawakannya adalah buah dari kegelisahan pribadi Wimar.

Saat itu, Wimar melihat pembicaraan dalam forum publik (surat kabar, radio, televisi) terkesan rancu dan berbelit-belit. Hal itu membuat persoalan yang dibahas menjadi kabur. Padahal, di sisi lain ia menilai di masyarakat sendiri telah muncul perbincangan yang berkualitas.

Dengan gayanya yang khas, Wimar membawakan acara Perspektif. Ia kerap melempar pertanyaan yang terkesan konyol, namun ampuh memancing narasumber untuk memberikan jawaban yang ciamik.

Salah satu konsep wawancara yang cukup mendobrak saat itu adalah dengan dihilangkannya daftar pertanyaan. Tanpa daftar pertanyaan, Wimar yakin hasil perbincangan akan muncul secara alamiah.

"Saya waktu itu sering nonton tayangan beritanya orang bule (CNN Amerika dan Larry King Show), terus diundang sama orang SCTV untuk modifikasi program. Program apa nih? Program talkshow dan saya mikir kalau TV pengin disukai di Indonesia, TV itu harus punya acara yang kontennya bagus," kenang Wimar dalam tayangan wawancara di kanal YouTube The BlangKon TV.

Salah satu momen wawancara Wimar yang cukup berkesan adalah dengan Mantan Menlu AS, Henry Kissinger. Hasil wawancara Wimar dengan Kissinger dikutip oleh beberapa media massa, dan Henry Kissinger pun terkesan dengan hasil wawancara itu. Menurutnya, Wimar punya pengetahuan yang luas tentang AS dan dirinya.

Sayang, tayangan Perspektif kala itu harus berhenti mengudara karena satu hal dan lain alasan. Usai ‘dibredelnya’ acara Perspektif, nama Wimar sempat muncul di Apel Akbar Reformasi di Lapangan Gasibu Bandung sebagai orator terakhir. Ia nampak mengkritisi Pemerintah terkait melambungnya harga-harga bahan pokok saat itu.

Tepat di tahun 2000, Wimar masuk ke dalam 5 Juru Bicara yang dipilih oleh Presiden Republik Indonesia kala itu, Abdurrahman Wahid. Wimar dan empay jubir lainnya boleh bicara apa saja, selama tidak menimbulkan kemarahan masyarakat. Kabarnya, Wimar tidak hanya menjadi Jubir untuk Presiden saja, melainkan untuk Wakil Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri.

Menulis Buku & Analis Komunikasi Politik
Usai tak menjabat Jubir Presiden dan Wakil Presiden, Wimar menghabiskan masa-masa hidupnya dengan menulis buku dan menjadi analis komunikasi politik. Bukunya setelah tidak lagi menjadi Jubir Presiden antara lain: No Regret (2002); A Book About Nothing (2006); More About Nothing (2009) dan Sweet Nothings (2014).

Sebelumnya, Wimar juga pernah menulis buku Perspektif bersama Wimar Witoelar (1995), Mencuri Kejernihan dari Kerancuan  (1998); Menuju Partai Orang Biasa: Asal Usul Wimar Witoelar (1999). Total ada tujuh buku yang tercatat pernah ditulis Wimar.

Saat masa Pilpres 2019, Wimar tercatat beberapa kali nampil di Televisi sebagai Analis Komunikasi Politik. Dengan gaya khasnya saat membawakan acara Perspektif, Wimar mewawancarai sejumlah tokoh politik di Indonesia. Kembalinya Wimar seolah menyegarkan ingatan akan acara Perspektif yang nyentrik tersebut di masa kini.

Kita juga bisa menonton kembali gaya khas Wimar di YouTube. Kanal YouTube Perspektif Wimar TV menayangkan beberapa video Wimar saat mewawancarai atau berbincang seputar politik.

Setelah menginjak usia 75 tahun, Wimar berpulang pada 19 Mei 2021. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Pondok Indah Jakarta sekitar pukul 09.00, kemarin pagi.

Selamat jalan, Pak Wimar! Terima kasih sudah banyak menulis kebaikan untuk kita.

Foto: id.wikimedia.org/attribusi-Sisca Doviana

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler