Begini Kekhawatiran Nakes Saat Tempat Wisata Padat Pengunjung

Bandung - TemanBaik, sejak Idulfitri hingga kini masih banyak warga yang berwisata. Bahkan, ada banyak tempat wisata di berbagai daerah yang dilaporkan begitu disesaki pengunjung. Di tengah kondisi itu, yuk kita selami isi hati para tenaga kesehatan (nakes)!

BeritaBaik.id berbincang dengan tiga nakes dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Mereka menyampaikan isi hatinya saat tahu banyak tempat wisata dipadati pengunjung. Bukan iri karena tak bisa berwisata, mereka justru dilanda rasa takut yang hebat.

Adhitya Wisnu Mahadewa, residen bedah umum RSHS, mengutarakan rasa khawatir atas fenomena banyaknya yang berwisata. Apalagi ketika wisatawan tak lagi memperhatikan protokol kesehatan.

Ia sendiri sempat melihat antrean pengunjung salah satu tempat wisata di kawasan Tamansari, Kota Bandung. Ia menyayangkan karena pengunjung seolah cuek dengan kondisi yang ada. Pria yang sudah empat tahun bertugas sekaligus belajar di RSHS ini mengingatkan publik agar bisa menahan diri.

Ketika tempat wisata sudah terlihat ramai, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk masuk. Toh, masih ada hari lain kan jika memang ingin berwisata? Tinggal sabar saja menunggu tempat wisata itu dalam kondisi ideal untuk dikunjungi.

Baca Ini Juga Yuk: '5x24 Jam' yang Sebaiknya Dipatuhi Pemudik dan Wisatawan

Di saat yang sama, ia mengingatkan agar penerapan protokol kesehatan tetap diutamakan. Jangan sampai euforia berwisata membuat kamu lupa akan pentingnya menjalankan protokol kesehatan. Namun, akan lebih baik jika untuk sementara kamu menunda kegiatan wisata hingga kondisi benar-benar aman dari pandemi COVID-19.

"Saya pikir sudah saatnya untuk melepaskan rasa ego kita, ego untuk bertemu keluarga, ego untuk berwisata, berlibur. Karena jangan sampai menunggu kita terkena langsung, lebih baik kita mencegah sebelum mengobati," kata Adhit, sapaan akrabnya.

Dokter obgyn (Obsteri dan Ginekologi) RSHS Tri Karyadi juga mengutarakan hal serupa. Ia berharap publik sadar bahwa berwisata bahaya bagi kesehatan karena bisa tertular COVIS-19 tanpa disadari.

"Untuk wisata sangat disayangkan sekali karena risiko penularan dan kematian akibat COVID-19 ini tinggi. Kita tahu cara penularannya lewat udara," tutur Tri.

Sabar dan menahan diri tidak berwisata menurutnya jadi solusi nyata untuk meminimalisir tertular atau menularkan COVID-19. Jika merasa bukan sesuatu yang penting atau darurat, diam di rumah jauh lebih aman.

"Bagaimana caranya agar kita bisa bertemu dengan orang-orang, agar bisa kembali seperti dulu? Caranya, covid-nya dihilangkan dulu. Artinya, harus tahan diri masing-masing dulu untuk menjaga jarak dan menjalankan protokol kesehatan," papar Tri.

Perawat RSHS Budi Wahyudin juga turut menyayangkan banyaknya wisatawan yang membeludak di berbagai tempat wisata. Secara pribadi, ia pun dilanda kekhawatiran jika ke depan Indonesia akan mengalami lonjakan kasus luar biasa seperti yang terjadi di India.

"Untuk wisata, saya sangat setuju bahwa untuk (kegiatan) wisata sangat disayangkan. Ketakutan saya saat ini, saya takut Indonesia seperti India. Saya takut pasien (COVID-19) jadi lebih banyak lagi," jelas Budi.

Jika pasien membeludak di berbagai daerah, otomatis kerja tenaga kesehatan akan menjadi lebih berat. Sebab, mereka harus bekerja ekstra keras menangani pasien COVID-19. Saat ini saja mereka sudah dilanda kelelahan, kejenuhan, hingga banyak yang ikut terpapar hingga kehilangan nyawa. Bayangkan jika pasien COVID-19 makin banyak, seperti apa beban kerja para tenaga kesehatan ini?

Secara khusus, Budi pun mengingatkan publik benar-benar waspada terhadap COVID-19. Sebab, COVID-19 nyata adanya. Jangan ada anggapan bahwa COVID-19 hanyalah rekayasa atau teori konspirasi.

"Ketika ada yg bicara (COVID-19) ini hoaks, ayo ke RSHS, kita lihat pasiennya ada atau enggak. Sampai saya kehilangan rekan kerja (karena terpapar COVID-19)," tandasnya.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Clay Banks
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler